JAKARTA – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i memberikan penekanan serius terhadap dua pilar utama pelayanan umat: kualitas layanan Kantor Urusan Agama (KUA) dan peran strategis penyuluh agama dalam menjaga alam. Hal ini disampaikan saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026 yang mengusung tema “Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan” di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Peserta Rakernas Bimas Islam di Jakarta.(Foto: Amirul Ikhsan/hms kemenag)

Wamenag menegaskan bahwa KUA adalah titik temu utama antara masyarakat dan negara dalam urusan keagamaan. Oleh karena itu, pengalaman masyarakat saat menerima layanan di KUA akan menentukan persepsi publik terhadap Kementerian Agama secara keseluruhan.

“Bimas Islam adalah wajah Kementerian Agama di tengah masyarakat. Jangan sampai masih ada keluhan layanan KUA yang lambat atau berbelit-belit. KUA harus menjadi pusat layanan keagamaan yang solutif, inklusif, dan responsif,” tegas Romo Syafi’i.

Selain aspek layanan administratif, Wamenag menyoroti pentingnya kesalehan ekologis. Ia mengajak puluhan ribu penyuluh agama Islam untuk tidak hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga menjadi teladan nyata dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, kualitas keberagamaan seseorang barulah paripurna jika memiliki kepedulian terhadap lingkungan (Hablum Minal Alam).

“Umat masa depan adalah umat yang utuh kesalehannya. Saleh secara ritual, saleh secara sosial, dan saleh secara ekologis. Tanpa kepedulian terhadap lingkungan, kualitas keberagamaan seseorang belumlah paripurna,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, mengingatkan pentingnya pendekatan ekoteologi. Ia menegaskan bahwa pengelolaan alam harus berlandaskan nilai-nilai ketuhanan, di mana manusia berperan sebagai khalifah yang bertanggung jawab, bukan penguasa eksploitatif.

Tantangan Zakat dan Wakaf

Dalam Rakernas tersebut, Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, memaparkan sejumlah capaian kinerja layanan yang menunjukkan tren positif, di antaranya:

1. Layanan Penyuluh Agama: Meraih tingkat kepuasan publik dengan skor 84,4.

2. Bimbingan Perkawinan: Mencapai skor 82, dinilai efektif memperkuat ketahanan keluarga.

3. Layanan Zakat dan Wakaf: Masih menjadi fokus perbaikan karena baru mencapai skor 57,2.

Sebagai bentuk motivasi, Wamenag menyerahkan penghargaan kepada lima Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag dengan kinerja anggaran terbaik, yaitu Kanwil Jawa Timur, Gorontalo, Aceh, Papua, dan Sumatera Utara.

Meski mencatat tren positif, Wamenag mengingatkan seluruh jajaran agar tidak cepat berpuas diri. “Tantangan ke depan menuntut kita untuk terus beradaptasi dan meningkatkan mutu pelayanan kepada umat,” pungkas Romo Syafi’i.(*/mn)

Loading