KUTAI TIMUR – Aktivitas pertambangan batubara yang melintas di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, mengakibatkan krisis air irigasi yang mengancam keberadaan 50 hektar lahan sawah produktif milik warga.
Kepala Desa Bukit Harapan, Heri Wibowo, mengungkapkan bahwa pembangunan jalan hauling batubara yang berdekatan dengan sumber mata air desa telah mengubah drastis debit air untuk pertanian.
“Sebelum ada jalan hauling, meski kemarau setahun air masih aman untuk irigasi. Sekarang kemarau seminggu saja sudah tidak ada airnya,” ungkap Heri saat diwawancarai, Kamis (22/01/2026).
Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelum perusahaan tambang masuk. Dulu, dengan sistem bendungan manual sederhana, kebutuhan air untuk sawah masih tercukupi dengan baik. Kini, meski infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani sudah tertata dengan baik, sumber air menjadi kendala utama yang belum terpecahkan.
Dampak dari krisis air ini memicu kekhawatiran terjadinya alih fungsi lahan. Beberapa warga sudah mulai mengubah sawah mereka menjadi kebun kelapa sawit karena menganggap pengelolaan sawah tanpa air yang memadai hanya membuang tenaga.
“Kami takut sawah yang kita miliki dialihfungsikan. Yang sedang membumi sekarang kan sawit. Sudah ada beberapa hektar yang ditanami sawit, tapi masih lebih luas yang bertahan,” jelas Heri.
Pemerintah desa, terangnya, terus mencari solusi untuk mengatasi masalah ini, termasuk mengupayakan koordinasi dengan pihak terkait agar lahan sawah produktif dapat dipertahankan. Namun hingga kini, solusi permanen masih belum ditemukan, sementara ancaman alih fungsi lahan terus mengintai ketahanan pangan lokal. (Q)
![]()

