Oleh: Adi Nugraha
Wartawan berandaindonesia.id
DI RUANG redaksi yang senyap, aku duduk menatap layar komputer yang memantulkan wajahku—wajah seorang wartawan yang kini dilingkupi kabut tuduhan. “Berita pesanan,” kata salah satu kepala desa yang ku kunjungi dalam rangka mendorong adanya pemberitaan potensi desa yang digagas oleh tim. Dua kata yang lebih tajam dari belati, lebih membakar dari api yang melahap hutan di musim kemarau.
Ironis. Betapa ironisnya.
Selama bertahun-tahun aku menyelami lautan kebohongan publik, menyelam ke dasar-dasar kebenaran yang berlumpur, kini justru aku yang dipaksa berenang di kolam fitnah yang sama. Orang yang tak pernah merasakan tinta menetes di tengah malam, yang tak pernah mengorbankan makan siang demi mengejar narasumber yang terus menghindar, kini dengan mudahnya melempar tuduhan seolah melempar batu ke air tenang.
Apakah mereka tahu?
Apakah mereka tahu bagaimana rasanya ketika jari-jari gemetar mengetik paragraf pembuka yang bisa mengubah nasib seseorang? Apakah mereka memahami beban yang kami pikul setiap kali menekan tombol “kirim”—mengetahui bahwa kata-kata kami bisa menjadi peluru, bisa menjadi obat, bisa menjadi keadilan atau justru kezaliman?
Namun, aku tidak naif.
Aku tahu, di antara barisan wartawan yang mulia, memang ada yang telah menjual mata mereka pada emas. Ada yang menukar nurani dengan amplop cokelat. Ada yang mengubah kode etik menjadi sekadar hiasan di dinding kantor yang tak pernah dibaca. Mereka adalah noda tinta di kertas putih profesi ini, dan karena mereka, kami semua dicurigai.
Tapi bukan aku.
Bukan aku yang pernah menukar fakta dengan fiksi demi kepentingan sponsor. Bukan aku yang mengubah kebenaran menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan di pasar gelap informasi. Setiap kalimat yang aku tulis adalah hasil pergulatan dengan sumber-sumber yang aku verifikasi berulang kali. Setiap kutipan adalah suara yang memang perlu didengar publik, bukan bisikan berbayar dari kamar gelap kekuasaan.
Namun, bagaimana membuktikannya?
Bagaimana menunjukkan proses yang tak kasat mata? Bagaimana memamerkan malam-malam tanpa tidur, perdebatan sengit dengan para senior tentang angle yang tepat, pengecekan ulang data yang kesekian kali? Kebenaran dalam jurnalisme bukanlah benda yang bisa diletakkan di atas meja sebagai barang bukti. Ia adalah proses, adalah perjalanan, adalah komitmen yang hanya terlihat oleh mereka yang menjalaninya.
Tuduhan ini mengajarkanku sesuatu.
Ia mengajarkanku bahwa di era dimana semua orang bisa menjadi “jurnalis” dengan smartphone di tangan, kredibilitas sejati justru semakin langka dan semakin berharga. Ia mengingatkanku bahwa kepercayaan publik adalah aset paling rapuh yang kami miliki—bisa hancur dalam semalam oleh tuduhan, namun butuh bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Kepada orang yang menuduh: aku memahami skeptisisme anda. Di zaman dimana berita bohong beredar lebih cepat dari kebenaran, di era dimana influencer lebih dipercaya daripada jurnalis independen, kecurigaan anda adalah wajar. Bahkan, aku menghormatinya. Karena pembaca yang kritis adalah harapan terakhir demokrasi kita.
Tapi berikan aku kesempatan untuk membela diri dengan bukti, bukan asumsi. Periksa jejak peliputanku. Teliti sumber-sumberku. Bandingkan beritaku dengan fakta di lapangan. Jika memang aku bersalah, aku siap menerima konsekuensi. Tapi jika tidak, maka tuduhan tanpa bukti ini tidak lebih dari bentuk pembunuhan karakter yang sama berbahayanya dengan berita pesanan itu sendiri.
Pada akhirnya, profesi ini mengajarkan satu hal sederhana:
Kebenaran tidak takut pada investigasi. Jika aku memang wartawan yang jujur, waktu akan membuktikannya. Jika aku memang telah menjual pena, maka tak ada tempat bagiku di profesi mulia ini.
Dan aku, dengan segala ketidaksempurnaanku, memilih berdiri di sisi yang pertama. Karena pena yang aku genggam ini terlalu berharga untuk dijual, bahkan pada harga tertinggi sekalipun.
Di tengah hiruk-pikuk tuduhan, aku akan terus menulis. Karena diam adalah pilihan terburuk bagi seorang wartawan. Dan kebenaran, bagaimanapun juga, layak untuk diperjuangkan.
![]()

