Oleh: Eddy Prastyo – Editor in Chief Suara Surabaya Media

Baru-baru ini Edelman Trust Institute mengeluarkan hasil riset terbarunya. Namanya 2026 Edelman Trust Barometer. Filenya baru saya terima pagi ini dari kawan di lembaga itu. Secara garis besar, hasil riset ini tidak mengandung substansi yang berbeda jauh dibanding tahun lalu. Tapi ada fenomena menarik yang bisa kita tarik di sini, di Indonesia.

Sebelum mengupasnya lebih dalam pada POV yang tadi saya sebut, mungkin kita perlu mengetahui aspek metodologinya secara sederhana. Riset ini dilakukan di 28 negara, melibatkan hampir 34 ribu orang, dengan standar statistik yang ketat dan konsisten selama lebih dari 25 tahun. Ini bukan potret sesaat. Ini semacam rekaman denyut jaman yang direkam terus-menerus, tahun demi tahun.

Di halaman awalnya, Edelman menulis satu kalimat seperti ini: “Shared reality erodes over time” (realitas bersama perlahan terkikis dari waktu ke waktu). Saya membacanya, ini bukan runtuh yang tiba-tiba. Bukan ambruk oleh satu peristiwa besar. Tapi aus. Pelan. Hampir tak terasa. Sampai suatu hari kita sadar, kita hidup di dunia yang sama, tapi memaknainya dengan cara yang makin berbeda.

Tema besar riset ini disebut “Trust Amid Insularity” (kepercayaan di tengah keterasingan). Kalimatnya terdengar akademik, tapi isinya terasa manusiawi. Edelman menemukan bahwa kepercayaan sebenarnya tidak menghilang. Ia hanya mengecil. Menyempit. Masuk ke lingkar yang makin dekat dan terasa aman.

Data mereka menyebut, “Seven in ten people globally are hesitant or unwilling to trust someone who is different from them” (7 dari 10 orang di dunia ragu atau enggan mempercayai mereka yang berbeda). Beda nilai. Beda sumber informasi. Beda latar budaya. Bahkan beda cara memecahkan masalah. Di situ pijakan temuan itu disebutkan.

Kalau kita tarik ini ke dunia media, ini menjelaskan banyak hal. Mengapa orang masih membaca berita, tapi tidak lagi sepenuhnya percaya. Mengapa informasi beredar cepat, tapi jarang benar-benar didengar. Edelman menunjukkan bahwa kepercayaan publik justru tumbuh pada lingkar terdekat: KELUARGA, TEMAN, TETANGGA, REKAN KERJA. Sementara institusi bersama seperti pemerintah nasional, media arus utama-yang diterima dengan jarak, bukan dibenci, tapi dicurigai.

Publik, sebenarnya tidak anti-media. Mereka cuma anti-jarak. Mereka lelah pada suara yang terdengar pintar tapi tidak terasa hadir. Kebenaran faktual saja tidak lagi cukup. Orang ingin tahu apakah yang berbicara memahami hidup mereka atau tidak. Di sini Edelman memberi pesan sunyi tapi penting: media tidak kehilangan fakta. Media hanya kehilangan ruang bersama. Itu terdengar sederhana, tapi situasinya sangat serius.

Lalu datang teknologi. Rangkaian algoritma. Kecerdasan buatan. Semua ini, dalam riset Edelman itu, sebenarnya tidak menciptakan masalah baru. Mereka hanya mempercepat yang sudah ada. Edelman mencatat, “Exposure to differing political views has declined across most countries” (eksposur terhadap pandangan politik yang berbeda menurun di sebagian besar negara). Kita makin jarang mendengar yang tidak sejalan. Algoritma hanya mengikutinya. Menguatkan yang disukai. Menyingkirkan yang membuat tidak nyaman. Ya, ini memang cara kerja algoritma. Echo chamber.

Yang jarang dibicarakan kemudian adalah lapisan sosialnya. Dalam survei lanjutan, Edelman mencatat bahwa kelompok berpendapatan rendah jauh lebih sering merasa, “People like me will be left behind rather than realize any real advantages from generative AI” (orang seperti saya akan tertinggal, bukan menikmati manfaat nyata dari AI generatif). Ini bukan takut pada mesin. Ini takut tidak kebagian masa depan.

Di titik itu, jika boleh saya tafsirkan, kebenaran berubah watak. Ia tidak lagi menjadi kesepakatan sosial, tapi identitas kelompok. Fakta tetap ada, tetapi disaring oleh emosi. Yang dipercaya adalah yang terasa membela. Yang ditolak adalah yang dianggap mengancam. Tanpa manusia yang mau menjembatani, teknologi justru membuat sekat-sekat itu mengeras. Inilah watak asli era post truth.

Indonesia menurut saya, menarik dibaca lewat peta Edelman ini. Angka kepercayaannya relatif tinggi. Tapi di balik itu, ada trust inequality (ketimpangan kepercayaan) dan insular trust mindset (pola pikir kepercayaan yang tertutup) yang juga menguat. Kepercayaan ada, tapi rapuh. Mudah panas. Cepat berubah jadi emosi kolektif ketika rasa ketidakadilan muncul.

Ini terasa dalam beberapa letupan emosi massa yang berujung demonstrasi dengan kekerasan dan vandalisme tahun lalu. Pemicunya, rasa tidak adil. Emosi meledak, rasionalisme diarahkan ke kanalisasi kemarahan. Di Surabaya, Grahadi dibakar. Pesan damai yang disampaikan pihak yang dipercaya publik, tidak lagi “sakti”. Apalagi kalau dikemas tanpa validasi terhadap rasa luka mereka.

Di sinilah media lokal seharusnya berhenti merasa kecil. Radio khususnya, punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak platform lain: kehadiran dan kedekatan. Suara yang hidup bersama warga. Percakapan yang terjadi saat masalah masih hangat, bukan setelah semuanya beku. Edelman menyebut peran ini sebagai TRUST BROKERING (perantara kepercayaan), kemampuan untuk “facilitate trust across difference without trying to change people” (menjembatani kepercayaan lintas perbedaan tanpa memaksa orang berubah).

Bagi Suara Surabaya, ini bukan istilah baru yang dipelajari dari laporan global. Ini sudah lama menjadi praktik sehari-hari. Dialog warga. Telepon yang masuk. Keluhan yang didengar. Emosi yang ditampung sebelum membesar. Konflik yang diurai, bukan dipertontonkan. Di saat dunia bergerak ke arah insularity (keterasingan), Suara Surabaya justru bekerja memperlebar lingkar percaya.

Tentu ada keterbatasan. Jangkauan radio lokal tidak seluas platform digital global. Sumber daya tidak sebesar media nasional. Tekanan emosi publik datang bertubi-tubi. Tapi justru di situlah kekuatannya. Kedekatan. Konsistensi. Kehadiran. Media lokal bisa menjadi anchor of trust (jangkar kepercayaan), bukan karena paling cepat atau paling keras, tetapi karena mau tinggal dan mendengar.

Di bagian akhir laporannya, Edelman menulis dengan nada yang tenang tapi jelas: “Pervasive insularity stalls progress” (keterasingan yang meluas akan menghentikan kemajuan). Dunia hari ini tidak kekurangan suara. Dunia kekurangan jembatan. Dan selama jembatan itu masih dibutuhkan, media—terutama media dan radio lokal—masih punya alasan kuat untuk tetap ada. Kepercayaan, seperti hidup itu sendiri, bukan dibangun dengan slogan, tetapi dirawat, hari demi hari.

Saya sadar, kalimat di paragraf atas sangat gampang dipahami, tapi sangat sulit untuk dieksekusi. Apa yang kita kerjakan seakan tak pernah sejajar dengan kecepatan perubahan. Dalam jaman yang serba tak pasti, penting untuk membaca arah perubahan, kreatif mencari celah, menghitung energi, sekaligus “tidak anti” mengubah pola tanpa kehilangan visi dan makna kenapa kita hadir.

Loading