SAMARINDA – Masalah perilaku pada anak, termasuk terjerumusnya remaja ke dalam jeratan narkoba, seringkali bukan merupakan masalah tunggal. Dalam sebuah sesi konsultasi keluarga yang dihadiri pasangan suami-istri baru-baru ini, terungkap bahwa kondisi emosional orang tua, terutama keharmonisan hubungan suami-istri, memegang peranan krusial dalam pembentukan karakter anak.
Hal ini diungkapkan ustadz Bendri Jaisyurrahman pada parentthings dengan tema ayah dan bunda dua peran satu tujuan mendidik generasi Islami yang berlangsung di Masjid Al Amanah, jalan Manunggal Loa Bakung, Samarinda, Sabtu (17/1/2026).
Ustadz Bendri lebih lanjut menjelaskan, seorang ibu mengadukan keluh kesahnya mengenai anaknya yang tidak hanya menjadi pemakai, tetapi juga merambah menjadi bandar narkoba. “Namun, yang menjadi sorotan adalah respons sang suami yang cenderung meremehkan (denial) dan justru menyalahkan sang istri atas pola asuh yang dianggap terlalu cerewet.” ucapnya tajam.
Menanggapi konflik tersebut, ustadz praktisi parenting dan penulis buku serial Fatherman ini dalam kajian tersebut menjelaskan bahwa anak seringkali menjadi korban “cipratan” emosi negatif dari orang tua yang hubungannya tidak harmonis.
“Banyak anak hari ini mendapatkan cipratan emosi negatif dari ibu yang belum beres urusannya dengan suaminya,” ujarnya.
Ustadz Bendri menekankan bahwa kualitas emosi seorang ibu sangat dipengaruhi oleh bagaimana perlakuan suami terhadapnya. Ketika seorang ibu menyimpan amarah atau kekecewaan yang mendalam terhadap suami, emosi tersebut tanpa sadar tumpah saat ia berinteraksi dengan anak.
Ibu Sebagai ‘Tanah’ Pengasuhan Mengutip Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 58, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَا تُهٗ بِاِ ذْنِ رَبِّهٖ ۚ وَا لَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًا ۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ
wal-baladuth-thoyyibu yakhruju nabaatuhuu bi-izni robbih, wallazii khobusa laa yakhruju illaa nakidaa, kazaalika nushorriful-aayaati liqoumiy yasykuruun
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 58). Dari ayat tersebut mengibaratkan orang tua, khususnya ibu, sebagai tanah. Tanah yang Baik: Akan mengeluarkan tanaman-tanaman yang baik pula.
Pada Analogi Al-Qur’an Dalam Surah Al-Baqarah 223, istri diibaratkan sebagai harsun (tanah ladang), dan saat menjadi ibu diibaratkan sebagai balad (tanah lapang).
Pesan utamanya adalah jika “tanahnya” (kondisi psikologis dan emosional ibu) bermasalah karena konflik rumah tangga, maka sulit bagi anak untuk tumbuh dengan sehat secara mental, meski difasilitasi dengan kemewahan fisik seperti rumah besar atau kolam renang.
“Visi Keluarga Sebagai Solusi langkah perbaikan, pasangan suami-istri diajak untuk mengevaluasi kembali tujuan pernikahan mereka. Pertanyaan mendasar seperti “Mau dibawa ke mana keluarga kita?” menjadi kunci untuk menyelaraskan visi antara suami dan istri.” paparnya dalam agenda khusus yang dihadiri para orang tua dari murid Al Azhar Loa Bakung.
Menutup sesi yang dipandu Ustadz
Wahyu Rawasa, Direktur Damai Aqsha Kalimantan Timur, ustadz Bendri memberikan apresiasi kepada para suami yang mau hadir dalam kajian parenting, mengingat kehadiran dan keterlibatan aktif ayah dalam pendidikan keluarga masih menjadi tantangan di banyak tempat.(ubs)
![]()

