KUTAI TIMUR – Pengelolaan sampah di Desa Singa Gembara menghadapi kendala serius akibat minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah tangga. Kondisi ini membuat bank sampah kesulitan mengambil sampah karena tercampur antara sampah kering dan basah.

Kepala Desa Singa Gembara, Hamriani Kassa, mengungkapkan bahwa saat ini sudah terbentuk enam hingga tujuh bank sampah yang telah melapor dan memiliki Surat Keputusan (SK) resmi. Namun, operasional bank sampah terhambat karena masyarakat belum memilah sampah sejak dari rumah.

“Bank sampah enggak bisa ngambil sampah di masyarakat karena bercampur. Sampah kering dengan sisa-sisa makanan itu menjadi kendala salah satunya. Kalau sudah terpilah mulai dari rumah tangga enak kita ngambil sampahnya,” ungkap Hamriani, Kamis (15/01/2026).

Dalam Musrembangdes tahun lalu, pemerintah desa sudah mengusulkan pengadaan tempat pemilahan sampah atau tempat penyimpanan sampah terpilah untuk memudahkan masyarakat. Usulan ini menjadi penting mengingat adanya surat dari kementerian terkait larangan sistem pembuangan sampah terbuka.

Sekretaris Desa Singa Gembara, Nurhadin, menambahkan bahwa sebenarnya infrastruktur pengelolaan sampah sudah ada dengan terbentuknya bank sampah di berbagai RT, termasuk RT 26 yang baru terbentuk atas arahan Dinas Lingkungan Hidup. Yang menjadi tantangan adalah upaya masif untuk mengubah perilaku masyarakat.

“Strukturnya di bawah tinggal upaya masif yang harus kita lakukan. Pengolahan sampah dimulai dari skala rumah tangga dulu,” jelas Sekretaris Desa.

Kecamatan Sangatta Utara, di mana Desa Singa Gembara berada, menjadi prioritas utama dalam penanganan sampah karena berada di lingkungan perkotaan yang memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA), namun tidak bisa lagi secara masif dilakukan pembuangan sampah terbuka.

Pemerintah desa berharap dengan adanya tempat pemilahan sampah di setiap RT, masyarakat akan lebih mudah membiasakan diri memilah sampah organik dan anorganik. Bank sampah juga dapat beroperasi lebih efektif karena mendapat pasokan sampah yang sudah terpilah, terutama sampah kering yang memiliki nilai ekonomis.

“Kami menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber. Dengan jumlah penduduk puluhan ribu jiwa di wilayah perkotaan, pengelolaan sampah yang baik menjadi kunci kebersihan dan kesehatan lingkungan Desa Singa Gembara,” tutupnya.(Q)

Loading