Dr. Hartono
Dosen STAIS Kutai Timur & Jamaah Mushola Ashabul Jannah
Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi spiritual yang lebih mendalam. Peristiwa agung yang menandai diterimanya perintah sholat ini bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa Rasulullah SAW, melainkan pesan fundamental tentang kedudukan sholat dalam kehidupan seorang muslim. Hal inilah yang menjadi ruh utama dalam acara peringatan Isro’ Mi’roj yang diselenggarakan oleh Mushola Ashabul Jannah, Jalan Kamboja, Desa Margamulya, Kecamatan Kongbeng, dengan mengusung tema “Saatnya Sholat Menjadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban.”
Acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini merupakan hasil inisiasi dan kekompakan seluruh warga sekitar Jalan Kamboja. Dengan penuh kesadaran dan semangat kebersamaan, masyarakat menjadikan peringatan Isro’ Mi’roj bukan hanya sebagai agenda seremonial keagamaan, tetapi juga sebagai sarana penguatan iman dan pembinaan ruhani. Tahun ini, kegiatan tersebut diisi oleh Ustadzah Titik Rochyati, seorang da’iyah dari Magelang yang dikenal dengan gaya penyampaian yang lugas, hangat, dan menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.
Sejak awal acara, suasana religius terasa begitu kuat. Jamaah yang hadir tampak antusias dan khidmat mengikuti rangkaian kegiatan. Menariknya, mayoritas jamaah yang memenuhi Mushola Ashabul Jannah adalah kaum ibu. Kehadiran mereka mencerminkan peran sentral perempuan, khususnya para ibu, dalam menjaga nilai-nilai keislaman di lingkungan keluarga dan masyarakat. Para ibu bukan hanya menjadi pendengar setia, tetapi juga agen perubahan yang akan membawa pesan-pesan kebaikan dari majelis ini ke dalam rumah tangga masing-masing.

Dalam ceramahnya, Ustadzah Titik Rochyati menekankan bahwa sholat sejatinya bukan sekadar kewajiban formal yang dikerjakan karena takut dosa atau menggugurkan perintah agama. Lebih dari itu, sholat harus ditempatkan sebagai kebutuhan harian yang melekat dalam kehidupan seorang muslim, layaknya makan, minum, dan beristirahat. Sholat adalah ruang dialog paling jujur antara hamba dan Tuhannya, tempat mengadu, bersyukur, memohon kekuatan, dan menenangkan jiwa dari hiruk-pikuk persoalan dunia.
Ustadzah Titik menyampaikan bahwa banyak di antara umat Islam yang masih memandang sholat sebagai beban. Ketika waktu sholat tiba, sebagian merasa terganggu dari aktivitasnya, menunda-nunda, bahkan melakukannya dengan tergesa-gesa. Pola pikir semacam ini, menurut beliau, perlu diubah. Jika sholat sudah menjadi kebutuhan, maka seseorang akan merasa “kehilangan” ketika meninggalkannya, dan merasa lapang serta tenang setelah menunaikannya. Sholat bukan lagi rutinitas kosong, melainkan energi spiritual yang menghidupkan hari-hari seorang muslim.
Lebih jauh, materi yang disampaikan juga mengaitkan makna Isro’ Mi’roj dengan kondisi kehidupan umat saat ini. Dalam perjalanan Isro’ Mi’roj, Nabi Muhammad SAW menerima perintah sholat secara langsung tanpa perantara, menunjukkan betapa istimewanya ibadah ini. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, penuh tekanan ekonomi, sosial, dan emosional, sholat seharusnya menjadi tempat kembali, menjadi sandaran utama dalam menghadapi segala persoalan hidup.
Para jamaah, khususnya kaum ibu, tampak larut dalam pesan-pesan yang disampaikan. Banyak di antara mereka mengangguk tanda setuju, bahkan sesekali terlihat mata yang berkaca-kaca ketika Ustadzah Titik menyinggung tentang peran sholat dalam mendidik keluarga. Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anak memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan kecintaan terhadap sholat sejak dini, bukan dengan paksaan, melainkan dengan keteladanan dan pembiasaan yang penuh kasih.
Kegiatan peringatan Isro’ Mi’roj di Mushola Ashabul Jannah ini menjadi bukti bahwa kesadaran kolektif masyarakat masih terjaga dengan baik. Konsistensi penyelenggaraan acara setiap tahun menunjukkan bahwa warga tidak ingin nilai-nilai keislaman luntur oleh zaman. Justru melalui majelis-majelis sederhana di lingkungan kampung, ruh Islam terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Pesan utama yang ingin ditegaskan melalui acara ini adalah ajakan untuk memperbaiki kualitas sholat, baik secara lahir maupun batin. Sholat yang dilakukan dengan kesadaran, kekhusyukan, dan pemahaman makna akan berdampak pada perilaku sehari-hari. Ia akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, menumbuhkan kesabaran, serta memperhalus akhlak dalam berinteraksi dengan sesama.
Harapan ke depan, kegiatan semacam ini tidak hanya berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi mampu melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan jamaah. Sholat benar-benar menjadi pusat aktivitas spiritual, menjadi kebutuhan yang dirindukan, bukan kewajiban yang dipaksakan. Selain itu, Mushola Ashabul Jannah diharapkan terus menjadi pusat pembinaan umat, tempat berkumpulnya masyarakat untuk belajar, berbagi, dan menguatkan iman dalam suasana kebersamaan.
Pada akhirnya, peringatan Isro’ Mi’roj ini mengingatkan kita bahwa sholat adalah hadiah terindah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Tugas kitalah untuk menjaga dan memuliakannya. Ketika sholat sudah menjadi kebutuhan, maka kehidupan akan terasa lebih tertata, hati lebih tenang, dan langkah lebih terarah. Dari mushola kecil di Jalan Kamboja, pesan besar itu kembali digaungkan: sudah saatnya sholat hidup dalam diri kita, bukan sekadar hadir di daftar kewajiban.
![]()

