KUTAI TIMUR – Konsep awal Pasar Induk Sangatta sebagai pusat distribusi komoditas seperti Pasar Kramat Jati di Jakarta belum berjalan optimal. Saat ini, pasar masih beroperasi layaknya pasar retail biasa, padahal seharusnya menjadi pintu masuk utama barang sebelum didistribusikan ke pasar-pasar di kecamatan.
Kepala UPT Pasar Induk, Bohari, menjelaskan bahwa konsep awal pembangunan Pasar Induk adalah sebagai pusat distribusi dimana semua barang masuk terlebih dahulu, ditimbang dan dicatat sebelum disalurkan keluar. “Konsep awalnya seperti yang pernah saya tanyakan ke almarhum Pak Edward, ini sebagai pusat barang masuk baru keluar dari pasar induk. Jadi bukan retail seperti yang sekarang,” ujarnya, Senin (12/01/2026).
Namun seiring berjalannya waktu, karena awal pemindahan pasar diisi oleh pedagang relokasi dari Pasar Teluk Lingga dan lainnya, pasar berkembang menjadi retail. Saat ini baru beberapa pedagang seperti pedagang kain yang sudah memiliki cabang di kecamatan-kecamatan dan mensuplai dari Pasar Induk.
Kendala utamanya adalah pedagang di kecamatan masih memiliki distributor masing-masing yang berbeda. Bohari berharap dengan pengaturan dan regulasi yang tepat, ke depannya semua barang bisa masuk ke Pasar Induk terlebih dahulu sehingga pemerintah bisa memprediksi dan mengantisipasi ketersediaan serta mengontrol harga. Namun untuk mewujudkan itu, Pasar Induk masih kekurangan fasilitas pergudangan dan cold storage yang sudah masuk dalam master plan namun belum terealisasi.
“Contoh kemarin saat ayam langka, ternyata ada yang suplai dari luar. Kita datangi pedagang di jalan, oh saya ambil dari luar Pak, masing-masing punya distributor. Jadi itulah yang membuat harga kadang fluktuatif berbeda,” jelasnya.(Q)
![]()

