Oleh: Ekky Yudistira

ADA sejenis kepedihan yang tak mudah diucapkan, kepedihan seorang anak yang terdampar jauh di negeri asing, sementara rumah terasa seperti mimpi yang tak pernah genap dipeluk. Ketika lonceng Natal berdentang di sudut kota, ketika kembang api tahun baru meledak di langit, ia hanya bisa menatap layar telepon, menyaksikan senyum-senyum yang tak bisa disentuhnya. Ada ruang kosong di meja makan keluarga, dan ruang itu berbentuk dirinya.

Malam-malam seperti ini, rindu datang seperti ombak yang tak kenal lelah. Ia ingat hangat pelukan ibu, tawa ayah yang terdengar seperti rumah itu sendiri, celoteh adik-adik yang dulu dianggap berisik namun kini dirindukan seperti lagu yang hilang. Mereka berkumpul, sementara ia sendirian di ruang kerjanya yang dindingnya terlalu tipis untuk menahan tangis, terlalu sempit untuk menampung kerinduan.

Tetapi dalam kesunyian itu, ia belajar sesuatu yang tak diajarkan oleh buku manapun: bahwa cinta sejati bukan soal kehadiran fisik, melainkan keberanian untuk tetap berjuang meski hati teriris-iris. Bahwa kesetiaan pada cita-cita adalah bentuk pengabdian lain kepada keluarga. Bahwa air mata yang jatuh di malam sunyi bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti bahwa ia masih peduli, masih manusiawi, masih memiliki hati yang berdetak untuk orang-orang yang dicintainya.

Dan kini, ia bukan lagi hanya seorang anak. Ia seorang ayah. Seorang suami. Di sisi lain dunia ini, ada dua pasang mata kecil yang menatapnya dengan penuh harap, ada seorang perempuan yang memilih berdiri di sampingnya meski jalan yang mereka tempuh penuh kerikil. Keluarga kecilnya—istri dan dua anaknya—adalah alasan mengapa ia harus bertahan, mengapa ia tak boleh menyerah pada penat dan sepi.

Setiap kali ia memeluk anak-anaknya, ada sumpah tersembunyi yang ia bisikkan dalam hati: “Kalian tidak akan merasakan apa yang ayah rasakan. Kalian akan tumbuh dengan utuh, dengan kehangatan yang ayah rindukan”. Ia bekerja keras bukan hanya untuk mengumpulkan uang, tetapi untuk membangun benteng cinta yang tak akan roboh oleh jarak. Ia ingin anak-anaknya tahu bahwa rumah bukan hanya soal tempat, tetapi tentang kehadiran yang konsisten, kehangatan yang nyata.

Maka setiap hari, ia bangun lebih pagi dari matahari. Ia bekerja lebih keras dari yang diminta. Ia menahan lelah, menelan keluh, menyimpan air mata untuk malam-malam ketika semua orang tertidur. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia memilih untuk kuat. Karena ia tahu bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk nama yang ia warisi dari orang tuanya, dan untuk masa depan yang akan ia tinggalkan kepada anak-anaknya.

Perantauan mengajarkannya bahwa hidup tidak selalu adil dalam membagi kebahagiaan. Ada orang yang mudah mendapatkan segalanya, sementara ia harus merangkak di jalan berkerikil. Tetapi justru di sinilah karakter diuji, di sinilah jiwa diasah. Kepedihan yang ia rasakan hari ini akan menjadi kekuatan yang ia wariskan esok. Kesepian yang menemannya akan menjadi cerita inspirasi bagi anak-anaknya suatu hari nanti.

Di malam Natal yang sepi, ketika yang lain berkerumun di ruang keluarga, ia duduk sendirian di taman kota, menatap bintang. Tetapi ia tidak merasa kalah. Ia tahu bahwa setiap bintang di langit adalah doa yang dikirimkan orang tuanya dari kampung halaman. Bahwa setiap hembusan angin adalah pelukan tak kasat mata dari anak-anak dan istrinya yang menunggu di rumah.

Ini bukan kisah tentang kekalahan. Ini adalah kisah tentang ketahanan. Tentang seorang manusia yang memilih bertahan meski dunia terasa terlalu berat. Tentang anak yang jauh dari rumah, namun tidak pernah jauh dari cinta. Tentang ayah yang berjuang agar anak-anaknya tidak perlu merasakan dinginnya perantauan seperti yang ia rasakan.

Dan suatu hari nanti, ketika semua perjuangan ini membuahkan hasil, ketika ia bisa pulang dengan kepala tegak, ketika ia bisa memeluk orang tuanya dan berkata, “Nak, akhirnya bisa pulang,” air mata yang jatuh bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kemenangan.

Karena perantauan bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi tentang seberapa kokoh hati bertahan. Dan hatinya, meski terluka, masih berdetak. Masih berjuang. Masih berharap.

Untuk semua anak perantauan di luar sana: kepedihanmu hari ini adalah mahkota kemenanganmu esok. Teruslah melangkah.

Loading