SAMARINDA — Sejumlah relawan yang pernah tergabung di Balakarcana Kota Samarinda merapatkan barisan untuk kembali membangkitkan jiwa Kerelawanan yang sempat meredup.

Gusti Kresna Moelya, sesepuh relawan Balakarcana yang saat ini tinggal di Banjarmasin Kalimantan Selatan saat berkunjung ke Samarinda bersemangat mengumpulkan rekan-rekan relawan yang pernah satu barisan di Balakarcana Samarinda.

“Rekan-rekan dulu pernah tergabung di Balakarcana Samarinda ini kumpul, hanya sekedar silaturahmi kebetulan pas saya ada pekerjaan di Samarinda, jadi kami kumpulkan,” ujar Gusti Kresna Moelya Kresna, Sabtu (6/12/2025).

Diungkapkan Gusti, awal dirinya mulai bergabung di relawan pemadam kebakaran ada membentuk Balakarcana sekitar tahun 1990an.

“Dari Balakarcana itulah rekan-rekan membentuk satuan-satuan seperti Relawan Kresna, relawan Karya Baru, Gunung Mulia,” jelasnya saat ditemui di Posko Relawan Kresna di Jalan Pesantren Blok. J, Karang Rejo, Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, kota Samarinda.

Gusti mengungkapkan kumpul-kumpul relawan ini sebagai upaya kembali membangkitkan semangat kerelawanan untuk lebih perduli kepada masyarakat yang tertimpa musibah, baik itu warga yang sakit ataupun mengalami musibah kebakaran.

“Kami pertama kali memiliki mobil sendiri untuk membantu warga yang memerlukan mobil kijang super, sekitar tahun 1996 unit pertama mulai beroperasi dengan bendera relawan Kresna,” jelas pria bertubuh tambun yang saat ini aktif di marketing CV Perintis Banjarmasin, sebuah perusahaan yang menjual alat-alat pemadam kebakaran, Sabtu (6/12/2025).

Ia mengungkapkan, dulu kami kumpul di rumahnya pak Mujadi di belakang Widya Gama Mahakam di jalan M Yamin Samarinda. Saat itu ada Muriono (saat ini aktif di BPBD Provinsi Kaltim). “Untuk komunikasi pada saat itu kami gunakan repeater berkerjasama dengan Orari, dari atas rumah pak Mujadi, di sana kami bisa memantau se kota Samarinda,” kenang Gusti.

Gusti mengingatkan agar semangat kerelawanan terus di jaga dan dipupuk. “Biarkan baju berbeda, tapi semangat membantu harus tetap tinggi. Jangan gara-gara beda baju saling menjelekkan, saling menghujat, dan salin menjatuhkan. Seperti relawan Karya Baru walaupun dengan seragam seperti petugas kebersihan, tetapi semangat membantu harus tetap tinggi.

Sementara itu H. Ibat pendiri Relawan MTAB Lok Bahu yang turut hadir mengungkapkan semangat membantu warga yang memerlukan harus terus dipupuk jangan sampai padam.

H. Ibat, pendiri Relawan MTAB Lok Bahu.

“Jangan sampai kejadian seperti yang saya alami terjadi pada warga Samarinda. Pada saat saya memerlukan bantuan ambulans karena kondisi sakit sejak pagi, baru sore mendapat respon. Ini kalau kondisinya sekarat keburu meninggal duluan,” ucap H. Ibat yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Ia mengingatkan jika ada warga yang memerlukan segera ambulans cepat dilayani, cepat di respon. Jika yang terdekat tidak ada, zona yang lebih jauh tolong segera respon. “Ingat respon cepat berarti anda sebagai relawan telah membantu menyelamatkan nyawa,” pungkas H. Ibat.

Pertemuan yang berlangsung cukup akrab disediakan sajian ikan bakar, sate, martabak telor, didahulukan doa bersama menambah akrab suasana. Tampak hadir relawan dari 112, relawan Kresna, relawan Karya Baru, dan relawan Gunung Mulia, juga sesepuh relawan Tenaga Bantuan (Taban).(mn)

Loading