Dr. Hartono, Siti Munfiatik, M.Pd
& Mahasiswa/i KKL/KKN Kelompok 4 Ds. Wanasari
PENGABDIAN kepada masyarakat tidak hanya berbentuk kegiatan fisik, pendataan, edukasi, atau program pemberdayaan, tetapi juga meliputi keterlibatan dalam aspek-aspek sosial-keagamaan yang menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar. Hal inilah yang tampak pada kegiatan Mahasiswa KKL/KKN Kelompok 4 Desa Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, yang turut mengambil bagian dalam proses perawatan jenazah di lingkungan desa.
Kegiatan ini bukan hanya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi cerminan pengabdian yang komprehensif—memadukan nilai sosial, moral, dan spiritual. Perawatan jenazah dalam Islam merupakan kewajiban kolektif atau fardu kifayah. Artinya, kewajiban tersebut harus ditunaikan oleh sebagian umat hingga terpenuhi sehingga gugurlah kewajiban bagi yang lain.
Namun, apabila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka seluruh umat di wilayah tersebut menanggung dosa. Dalam konteks inilah, keterlibatan mahasiswa KKN memiliki posisi penting. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta yang belajar secara teoritis, tetapi ikut berpartisipasi dalam kewajiban agama yang nyata, membantu masyarakat ketika dibutuhkan, serta memastikan bahwa proses perawatan jenazah berjalan dengan baik dan sesuai syariat.
Bagi sebagian mahasiswa, keterlibatan dalam perawatan jenazah adalah pengalaman pertama, bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang berat. Namun justru di sinilah nilai pembelajaran terpenting muncul. Mereka belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang program yang disusun atau agenda kerja lapangan, tetapi tentang kesiapan hati untuk hadir dalam setiap kondisi masyarakat, termasuk saat duka.
Peran ini menumbuhkan rasa tenggang rasa yang tinggi—bagaimana memahami kesedihan keluarga, memberikan dukungan moral, dan tetap menjaga etika ketika berada dalam suasana berkabung. Pengalaman ini memperhalus kepekaan sosial dan membentuk karakter empatik yang tidak selalu didapatkan dalam ruang kelas.
Secara sosial, kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa KKN dapat berbaur dengan masyarakat bukan hanya dalam kegiatan yang bersifat formal, tetapi juga dalam urusan kemanusiaan. Di Desa Wanasari, masyarakat dikenal memiliki solidaritas kuat, dan mahasiswa Kelompok 4 mampu masuk ke dalam budaya gotong royong tersebut.
Mereka belajar menghargai nilai-nilai lokal, serta memahami bahwa dalam masyarakat pedesaan, urusan jenazah bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi menjadi urusan bersama. Dengan turut serta, mahasiswa memperkuat hubungan emosional dengan warga, sekaligus memperlihatkan bahwa kehadiran mereka memberikan manfaat yang lebih luas dari sekadar laporan program KKN.
Dari sisi keagamaan, keterlibatan dalam perawatan jenazah memberikan nilai spiritual yang mendalam bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya melihat prosesi secara teknis memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga mengantar ke pemakaman tetapi memahami bahwa setiap langkah merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada sesama muslim dimana semua itu langsung dibimbing oleh Ibu Hj. Siti Aminah dan Bu Nur Hayati.
Nilai ini menegaskan bahwa agama mengajarkan tentang kemuliaan manusia bahkan setelah meninggal dunia. Pengalaman ini juga menjadi pengingat tentang hakikat kehidupan, bahwa masing-masing individu akan kembali kepada Tuhan, sehingga mendorong lahirnya sikap rendah hati dan introspeksi diri.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif. Mahasiswa belajar tentang keberanian berani terlibat dalam sesuatu yang mungkin awalnya asing, bahkan menakutkan bagi sebagian orang. Mereka belajar tentang ketulusan, bahwa membantu masyarakat tidak selalu harus mendapat pujian atau sorotan, tetapi lahir dari niat memperjuangkan kemaslahatan bersama.
Selain itu, mereka belajar tentang profesionalitas dalam konteks sosial, bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, mengikuti tuntunan agama, dan menghormati adat setempat.
Keterlibatan mahasiswa KKL/KKN Kelompok 4 Desa Wanasari dalam perawatan jenazah juga memberi contoh bagi generasi muda tentang pentingnya menjadi bagian dari solusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah era modern yang sering menonjolkan kesibukan pribadi dan individualisme, kemampuan mahasiswa untuk terlibat dalam urusan kolektif seperti ini menjadi inspirasi bahwa nilai gotong royong dan kepedulian tidak boleh pudar. Mereka menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh memberikan jarak antara mahasiswa dan masyarakat, justru harus memperkuat hubungan tersebut melalui pengalaman nyata.
Pada akhirnya, pengalaman ini membuktikan bahwa KKN bukan hanya program wajib kampus, tetapi sarana pembinaan karakter dan spiritual mahasiswa. Melalui keterlibatan dalam perawatan jenazah sebagai bagian dari fardu kifayah, mahasiswa memperkuat nilai keagamaan, mempraktikkan tenggang rasa, dan mengasah kepedulian sosial.
Desa Wanasari menjadi ruang belajar kehidupan yang memberikan pemahaman bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang kita rencanakan, tetapi tentang bagaimana kita hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kegiatan ini layak diapresiasi dan diteruskan sebagai bagian dari model pengabdian sosial-keagamaan mahasiswa.
Semoga pengalaman ini tidak berhenti di Desa Wanasari, tetapi membentuk kesadaran permanen bagi mahasiswa bahwa ilmu dan pengabdian harus berjalan berdampingan untuk menciptakan pribadi yang berkarakter, peduli, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
![]()

