SAMARINDA — Ratusan langkah kecil Di tengah hiruk pikuk pagi Kota Samarinda hari ini menjadi gema besar perubahan. Aksi plogging yang digelar dalam rangka Festival Perempuan Pemimpin Ibu Profesional (FestPPim) menghadirkan pemandangan hangat: perempuan, anak-anak, dan keluarga bergerak bersama, memungut sampah sambil berlari ringan seakan mengingatkan bahwa merawat bumi bisa sesederhana memulai dari langkah sendiri, Minggu (23/11/2025).

Ketua Komunitas World Clean Up Day Kaltim, Fatur Rahman, mengungkapkan FestPPim mengusung tajuk Etam Mengabdi, Bumi Berseri. Plogging Aksi Perempuan Pemimpin Merawat Bumi. “Kegiatan ini menjadi perwujudan nyata gerakan sosial yang memadukan olahraga dengan kepedulian lingkungan. Plogging, jogging sambil memungut sampah menjadi tren global karena manfaat ganda, menyehatkan tubuh dan membersihkan lingkungan,” jelas Fatur Rahman.

Plogging, menurutnya, menjawab dua tantangan besar masyarakat urban: gaya hidup sedentari dan meningkatnya pencemaran lingkungan.
“Gaya hidup sedentari itu gaya hidup yang kurang aktif, di mana seseorang menghabiskan banyak waktu dalam posisi duduk atau berbaring tanpa banyak aktivitas fisik, seperti bekerja di depan komputer atau menonton TV dalam waktu lama. Sehingga dengan gerakan sederhana membungkuk dan mengangkat, masyarakat diajak meningkatkan kesadaran lingkungan, mengurangi polusi plastik dan mikroplastik, serta menumbuhkan budaya peduli kebersihan,” terangnya.

FestPPim diselenggarakan oleh Ibu Profesional (IP) Samkabar yang menaungi wilayah Samarinda, Mahakam Ulu, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat berkolaborasi dengan World Clean Up Day Kalimantan Timur. Bertempat di GOR Kadrie Oening Sempaja, kegiatan berlangsung dari pukul 07:00 hingga 10:00 WITA dan diawali registrasi sejak 06:30 wita.

“Setelah pemanasan senam bersama, peserta mendapat edukasi jenis-jenis sampah serta briefing teknis plogging,” kata Fitria Ikasari, Sekretaris Regional IP Samkabar.

Diungkapkan Fitria, sebanyak 40 peserta dewasa hingga anak-anak dibagi dua tim yang menyisir dua area berbeda:
Kelompok 1: jalur jogging di sekitar bundaran GOR
Kelompok 2: area UMKM GOR
Selama hampir dua jam, kedua kelompok bergerak sistematis hingga akhirnya berkumpul kembali di depan gedung GOR.

“Hasilnya, 7,79 kg sampah berhasil dikumpulkan. Temuannya meliputi, sampah anorganik, plastik kemasan, botol minum, sedotan. Dan juga sampah B3: puntung rokok (paling mendominasi),” ungkapnya.

Hasil pengumpulan sampah juga mendapati sampah organik berbahaya tusukan lidi makanan yang berserakan di area UMKM dan berpotensi mencederai pengunjung, terutama anak-anak.

Salah satu pemandangan paling menyentuh adalah antusiasme anak-anak yang justru menjadi “detektif sampah” paling teliti. Teriakan polos seperti “Aku menemukannya!” dan “Di sini banyak, ayo ambil!” memecah suasana, menunjukkan bagaimana kepedulian bisa tumbuh dari hal kecil. Kehadiran mereka bahkan mendorong orang dewasa di sekitar untuk ikut terlibat ada yang menyerahkan sampahnya, ada pula yang memberi pujian.

Sejak dini anak dikenalkan peduli sampah. Memungut sampah menggunakan alat penjepit.

Beberapa peserta juga membawa poster kreatif. Salah satu yang paling mencuri perhatian bertuliskan:
“Hanya Sampah yang Suka Nyampah.” Sebuah kalimat yang langsung mendapat respons pengunjung UMKM: “Ngena banget!”, menunjukkan kuatnya pesan edukasi visual dalam ruang publik.

“Hanya Sampah yang Suka Nyampah”

Kegiatan yang berakhir pukul 09:30 wita ini lebih dari sekadar olahraga atau aksi bersih-bersih. “Kegiatan ini menjadi ruang tumbuhnya kepedulian lintas usia sebuah pengingat bahwa bumi yang bersih dimulai dari tangan-tangan yang bersedia bergerak,” ucap Inmas Devi salah satu peserta yang ikut aktif memungut sampah.(*/mn)

Loading