Oleh: H. Akhmad Wasrip Setiyono, ST

Presdir Lingkar Ayah Sangatta (LINK-AS) dan Ketua Umum DPD PKS Kutai Timur

10 NOVEMBER 1945, Surabaya membara. Di tengah asap mesiu dan dentuman meriam, terdengar takbir yang menggelegar memecah langit. “Andai tak ada takbir, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah,” kenang Bung Tomo kemudian.

Dua tahun setelah peristiwa heroik itu, sang pejuang kemerdekaan menikahi seorang perawat PMI. Bahkan di hari pernikahan, Bung Tomo masih meminta izin kepada perkumpulan pemuda untuk mendapat restu. Pasangan muda itu kemudian berjanji: belum waktunya memikirkan kebahagiaan pribadi. Tanah air masih membutuhkan mereka. Perjuangan belum usai.

Begitulah wajah pemuda-pemudi Indonesia saat itu—teguh, berani, penuh pengorbanan.

Kini, 80 tahun berlalu. Wajah pemuda hari ini akan menentukan wajah bumi pertiwi di masa depan. Sejarah telah mencatat: peran pemuda dalam perjuangan sangat vital. Maka 10 November diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Hari ini, pahlawan tak harus berperang dengan mengangkat senjata. Perjuangan sekecil apa pun, dalam keheningan sehari-hari, itulah aksi para pahlawan masa kini.

Seperti halnya seorang ayah dalam keluarga.

Jika 10 November adalah Hari Pahlawan, maka 12 November adalah hari yang tak kalah bermakna: Hari Ayah Nasional. Hari untuk mengevaluasi pentingnya peran ayah dalam mendidik keluarga, khususnya anak-anaknya.

“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.”

Kalimat ini sering kita dengar. Benar adanya. Tapi bukan berarti ayah lepas tangan. Bukan berarti peran ayah hanya bekerja mencari nafkah untuk biaya pendidikan anak.

Lebih dari itu.

Jika ibu adalah madrasah, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Ayah yang memegang keputusan penting dan berperan sebagai spiritual leader. Ayah yang bertanggung jawab memastikan pendidikan yang diberikan ibu sesuai dengan nilai dan arah yang tepat.

Namun fenomena sekarang? Banyak ayah yang tak pernah peduli dengan pendidikan anak-anaknya—bahkan sekadar mengantarkan anaknya pergi ke sekolah seminggu sekali pun tidak.

Ayah, Pemimpin Sejati di Rumah

Wahai para ayah, pembangunan karakter bangsa dimulai dari rumah. Di sinilah seorang ayah menjadi pemimpin sejati untuk menghantarkan anak dan keluarga menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Membangun karakter tak pernah jauh dari keteladanan. Pembelajaran dari ibu, dari sekolah, dari lembaga pendidikan mana pun, perlu diimbangi oleh peran teladan sang ayah.

Seorang ayah harus jadi idola anak-anaknya. Pahlawan yang keren dan penuh kasih sayang. Sosok yang kelak membuat anak berkata, “Suatu hari nanti, aku ingin seperti Ayah.”

Fenomena Fatherless: Ayah yang Hadir tapi Absen

Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk pengasuhan anak saat ini, muncul fenomena fatherless—banyak anak kehilangan sosok ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya kehadiran fisik. Lebih dari itu: ayah tidak hadir secara batin. Tak menyapa, tak mendoakan, bahkan tak pernah memberikan pelukan dan kehangatan di tengah keluarga. Seorang ayah hanya sibuk bekerja, memenuhi nafkah keluarga.

Namun ingat: isu fatherless bukan untuk menyalahkan para ayah. Ini adalah evaluasi, pengingat untuk kembali bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah saya benar-benar hadir untuk anak-anak dan keluarga saya?”

Dalam rumah, ada senyuman menanti. Ada anak yang ingin disapa. Ada anak yang ingin diajak bercanda, yang ingin bermain bersama.

Kita pun menyadari: ada sosok ayah yang meluapkan cinta dalam hatinya, tapi tidak pandai menyusun kata. Ada ayah yang memilih diam saat mendengar keluh kesah anak-anaknya. Apalagi berkata, “Aku cinta padamu, Nak.”

Cinta ayah adalah cinta yang terpendam. Bekerja dalam diam. Rela menanggung beban berat hanya agar keluarga merasa nyaman.

Wahai para ayah, isu fatherless sesungguhnya untuk mengingatkan, bukan melemahkan. Seorang ayah punya tanggung jawab menghubungkan cinta yang Allah SWT tanamkan dalam jiwanya, agar keluarga dan anak-anaknya menemukan jalan bersama menuju surga-Nya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS. At-Tahrim: 6)

PESAN LINGKAR AYAH SANGATTA UNTUK PARA AYAH DI KUTIM

Tantangan Ayah Pekerja di Kutai Timur

Kutai Timur kaya akan sumber daya alam—dari batu bara hingga kelapa sawit. Kekayaan ini menjadi magnet bagi para pekerja dari berbagai disiplin ilmu untuk datang dan mengelola sumber daya alam tersebut.

Akibatnya, terbentuk keluarga-keluarga baru di sekitar daerah operasional perusahaan. Para ayah yang bekerja sebagai karyawan harus lebih meningkatkan kepedulian terhadap pola pengasuhan anak bersama keluarga.

Minimnya waktu bersama keluarga harus disiasati dengan kualitas pertemuan yang lebih baik.

Banyak ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari. Secara teknis, mereka kesulitan mengatur waktu, perhatian, dan kehadiran bagi anak.

Padahal, peran ayah dalam keluarga merupakan hal penting dalam membentuk kepercayaan diri, nilai moral, hingga kecerdasan emosi seorang anak.

Dampak Psikologis Ketiadaan Sosok Ayah

Menurut Fatherless Boys Foundation, ada 6 dampak psikologis utama yang bisa dialami anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah:

1. Agresivitas meningkat, terutama pada anak laki-laki
2. Rentan mengalami depresi
3. Harga diri yang rendah dan makin terkikis
4. Prestasi akademik menurun
5. Rentan terlibat persoalan moral dan hukum
6. Rentan muncul pikiran tak berarti dan ingin bunuh diri

Jangan biarkan buah hati Anda mengalami hal-hal buruk tersebut. Pastikan para ayah hadir mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya.

Cara Ayah Terlibat dalam Pengasuhan Anak

Pak Cahyadi Takariawan, pakar parenting dari Yogyakarta, menjelaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimaknai sebagai partisipasi aktif yang melibatkan fisik, afektif, dan kognitif dalam proses interaksi antara ayah dengan anak.

Keterlibatan ayah memiliki fungsi:

– Endowment: mengakui anak sebagai individu/pribadi
– Protection: melindungi anak dari bahaya-bahaya potensial
– Provision: memastikan kebutuhan pokok/material anak terpenuhi
– Formation: aktivitas bersosialisasi seperti pendisiplinan, pengajaran, dan perhatian

Keterlibatan ayah direalisasikan dalam empat dimensi:

1. Engagement — interaksi langsung antara ayah dengan anak melalui bermain, membaca, dan aktivitas pengasuhan lainnya
2. Accessibility — keberadaan ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis
3. Responsibility — tanggung jawab pengasuhan ayah, termasuk pengambilan keputusan dalam pengasuhan anak sehari-hari
4. Comparison of finding — keterlibatan yang diterapkan secara retrospektif atau didasarkan pada penelitian sebelumnya.

Ternyata, keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan manfaat penting bagi ayah itu sendiri. Berbagai studi menunjukkan, seorang ayah yang terlibat aktif akan:

1. Merasa lebih percaya diri dan lebih efektif berperan sebagai orang tua
2. Menemukan peran sebagai orang tua yang lebih memuaskan
3. Merasa lebih penting secara intrinsik bagi anak dan terdorong untuk lebih terlibat lagi
4. Memiliki kematangan psikososial lebih besar
5. Menjadi lebih puas dan bahagia dengan kehidupannya
6. Merasakan tekanan psikologis yang lebih rendah
7. Lebih bisa memahami diri sendiri dan orang lain
8. Menumbuhkan sikap empati
9. Memiliki stabilitas perkawinsebelumnya

Surat untuk Keluarga

Wahai Para Ayah

Ayo tunjukkan cintamu yang terpendam di hati.
Hadirmu membawa lentera untuk keluarga bahagia.
Tunjukkan di balik ketegasanmu tersimpan kelembutan yang luas.
Ucapan terbata-bata lebih baik untuk cinta daripada diam seribu kata, tak pernah bercanda dengan anak tercinta

Wahai Para Ibu

Ayah merindukan bantuanmu untuk saling berdialog dan berbicara dengan anak tercinta. Ibu adalah sosok terdekat dengan ayah. Bisikkan yang kuat: ayah bisa bersama dengan anak dan keluarga untuk satu tujuan—bahagia bersama keluarga.

Wahai Anaku

Ayah terkadang lelah, tetapi semangat untuk membahagiakan kalian jauh lebih kuat dari lelahnya.
Ayah kadang keras, tetapi sesungguhnya di hatinya tersimpan kelembutan yang tiada tara.
Ayah takut kehilanganmu.
Di balik sepinya dan kerasnya dunia, ayah selalu menyebut namamu.
Hargai perjuangan ayah, walau ayah tidak pernah menunjukkan ekspresinya.

Ajakan untuk Ayah Kutai Timur

Di momen Hari Ayah Nasional ini, ayo para ayah Kutai Timur untuk lebih dekat dengan keluarga. Buat waktu khusus untuk acara bersama keluarga:

– Makan bersama
– Tamasya bersama
– Olahraga bersama
– Ngaji bareng
– Dan lain-lain

Berikan hak pengasuhan anak untuk generasi hebat Kutim.

Mari kita dukung program nasional Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), aktif dalam Forum Ayah, dan aktif dengan program Gerakan Kumpul Bersama Keluarga.

Semoga para ayah selalu sehat untuk mewujudkan generasi anak hebat di Kutai Timur.

Demikian, semoga bermanfaat.

Loading