DALAM rimba informasi yang kian rimbun, ada sebuah ironi yang menggelitik sekaligus memprihatinkan: jurnalis yang kehilangan lidahnya justru di tengah-tengah pesta kata-kata. Mereka hadir dengan kamera tergenggam, rekorder tersandang, namun pertanyaan—ah, pertanyaan itu—seolah tertelan bumi sebelum sempat meluncur dari bibir.
Bukankah aneh, ketika seorang pemburu cerita justru tersesat di hutan yang hendak ia petakan? Mereka datang ke arena wawancara seperti pelukis yang lupa membawa kuas, atau seperti penyanyi yang naik panggung dengan pita suara terkunci. Kesunyian pun menggantung di ruang yang seharusnya riuh dengan pertanyaan tajam dan curiosity yang membara.
Fenomena “jurnalis bisu” ini tentu bukan lahir dari kehampaan semata. Ada benang kusut yang merajut: minimnya edukasi, absennya mentoring yang substansial, dan mungkin—hanya mungkin—terlalu cepatnya seseorang diberi gelar “jurnalis” tanpa sempat merasakan pahitnya asam garam profesi ini. Seperti anak yang diberi pedang sebelum ia paham bahwa pedang itu bukan untuk diseret-seret, melainkan untuk mengayun dengan presisi.
Kita hidup di era di mana semua orang bisa menjadi jurnalis dalam sekejap. Cukup dengan smartphone dan akun media sosial, seseorang sudah merasa berhak menyuarakan “kebenaran”. Namun, jurnalisme sejati bukan sekadar merekam dan menyiarkan. Ia adalah seni bertanya, seni mendengar, seni menggali—bukan sekadar menunggu jawaban yang dilontarkan seperti sedekah.
Bayangkan sebuah konferensi pers yang seharusnya menjadi medan pertempuran intelektual. Narasumber hadir dengan segudang informasi, siap dibedah, siap ditantang, siap diklarifikasi. Namun yang terjadi? Hening. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar hanya sebatas “Bagaimana perasaan Anda?” atau “Apa harapan Anda ke depan?”—pertanyaan yang bahkan bisa dijawab oleh murid sekolah dasar tanpa perlu riset mendalam.
Ini bukan lagi wawancara. Ini adalah upacara basa-basi yang dibungkus dengan label jurnalistik. Penggalian data menjadi dangkal seperti selokan yang tak pernah dikuras, hanya menggenang tanpa mengalir. Padahal, esensi dari jurnalisme investigatif adalah keberanian untuk menyelam ke dasar, bukan hanya mengapung di permukaan yang berkilau.
Edukasi adalah kunci, tetapi bukan sekadar pelatihan dua hari yang penuh dengan teori mengawang-awang. Yang dibutuhkan adalah pendampingan nyata: bagaimana merumuskan pertanyaan yang tajam, bagaimana membaca situasi, bagaimana tidak terintimidasi oleh narasumber yang berkuasa, bagaimana mendengarkan dengan kritis dan merespons dengan cerdas.
Kepada para senior, jangan biarkan generasi baru tersesat sendirian. Tanamkan pada mereka bahwa jurnalisme bukan tentang popularitas, melainkan tentang integritas. Bukan tentang kecepatan semata, melainkan tentang kedalaman. Bukan tentang berapa banyak berita yang diproduksi, melainkan berapa banyak kebenaran yang terungkap.
Jurnalis yang bisu adalah kontradiksi yang menyakitkan. Seperti lampu yang tidak menerangi, seperti sumur yang tidak mengeluarkan air. Profesi ini lahir dari keberanian untuk bertanya, untuk menggugat, untuk tidak berhenti di permukaan.
Maka, kepada jurnalis muda yang tengah menemukan jalannya: jangan takut membuat kesalahan dalam bertanya. Yang perlu ditakuti adalah kesunyian yang Anda biarkan menguasai ruang wawancara. Karena di dalam kesunyian itu, bukan hanya pertanyaan yang hilang—tetapi juga hak publik untuk mengetahui kebenaran.
Jurnalisme bukan untuk yang nyaman berdiam diri. Ia untuk mereka yang berani bersuara, bahkan ketika suara itu bergetar. Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat jurnalis yang diam—dunia mengingat mereka yang berani bertanya hingga jawaban terakhir terungkap.
—
“Tanyakan, gali, dan jangan pernah puas dengan permukaan. Karena kebenaran selalu bersembunyi di balik lapisan pertama yang Anda lihat.”
![]()

