Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I
Dosen STAI Sangatta Kutai Timur & Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan
SETIAP tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia senantiasa istiqamah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini bukan sekadar tradisi, melainkan wujud nyata dari rasa cinta dan penghormatan mendalam kepada Rasulullah. Melalui momentum Maulid, umat Islam kembali meneguhkan ingatan akan teladan agung yang terpancar dari sosok Nabi terakhir, yang ajaran dan akhlaknya senantiasa relevan sepanjang zaman.
Bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW adalah sosok sentral dalam sejarah Islam sekaligus teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau lahir di Kota Mekkah pada tahun 570 M, dalam kondisi masyarakat Arab yang penuh dengan kejahiliyahan praktik penyembahan berhala, ketidakadilan sosial, peperangan antar kabilah, serta kesenjangan antara golongan kaya dan miskin.
Di tengah kondisi seperti itu, lahirlah seorang anak yatim yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban dunia. Sejak kecil, Muhammad dikenal dengan kejujurannya, sehingga masyarakat Mekkah menjulukinya Al-Amîn, yang berarti orang yang dapat dipercaya. Akhlak mulia itu bukan sekadar julukan, tetapi nyata terlihat dalam perilaku beliau sehari-hari.
Saat dewasa, Muhammad bekerja sebagai pedagang. Kejujurannya membuat banyak orang menaruh hormat, termasuk Khadijah, seorang saudagar kaya yang kemudian menjadi istrinya sekaligus pendukung utama perjuangannya.
Pada usia 40 tahun, di Gua Hira, Muhammad menerima wahyu pertama melalui malaikat Jibril.
Peristiwa ini menjadi awal risalah kenabiannya. Pesan utama yang beliau sampaikan adalah ajakan untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, menegakkan keadilan, menghapus perbudakan, memuliakan perempuan, serta menolong kaum lemah dan tertindas. Risalah ini awalnya mendapat perlawanan keras dari kaum Quraisy, karena dianggap mengganggu tatanan sosial dan ekonomi mereka yang bertumpu pada penyembahan berhala.
Meskipun menghadapi hinaan, siksaan, dan ancaman, Muhammad tetap teguh menyampaikan kebenaran. Puncak perjuangannya terjadi ketika beliau melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrah ini tidak hanya menyelamatkan kaum Muslimin dari penindasan, tetapi juga menjadi titik awal terbentuknya masyarakat Islam yang berlandaskan persaudaraan, hukum, dan keadilan.
Dari Madinah, ajaran Islam semakin menyebar hingga melampaui jazirah Arab.
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW berhasil mengubah wajah peradaban. Dari masyarakat jahiliyah menuju umat yang berperadaban tinggi, dengan nilai-nilai tauhid, keadilan, dan persaudaraan sebagai fondasi.
Itulah sebabnya, beliau dijadikan teladan utama dalam Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sungguh, pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.” Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah figur teladan terbaik (uswah hasanah) bagi umat manusia. Kata uswah berarti contoh atau model yang dapat ditiru, sedangkan hasanah bermakna baik, indah, dan sempurna. Dengan demikian, pribadi Nabi Muhammad SAW mencerminkan standar moral, spiritual, dan sosial yang paling ideal.
Pertama, beliau adalah teladan dalam ketaatan kepada Allah. Setiap aspek kehidupannya dipenuhi dengan ibadah dan pengabdian, mulai dari shalat, doa, hingga kesabaran dalam menerima takdir. Ketaatannya bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap sosial seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang.
Kedua, Nabi Muhammad adalah teladan dalam akhlak mulia. Aisyah RA pernah berkata, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.” Artinya, seluruh perilaku beliau merupakan cerminan langsung dari nilai-nilai ilahi. Beliau lembut dalam berbicara, sabar menghadapi cercaan, penuh kasih terhadap anak-anak, dan menghormati perempuan. Bahkan terhadap musuh, beliau tidak pernah membalas dengan kebencian, melainkan dengan doa dan sikap pemaaf.
Ketiga, beliau menjadi teladan dalam kepemimpinan dan keadilan sosial. Sebagai pemimpin umat di Madinah, Nabi Muhammad menegakkan prinsip persaudaraan tanpa membedakan suku, ras, atau status sosial. Piagam Madinah yang beliau gagas menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau dibangun atas dasar persatuan, keadilan, dan perlindungan terhadap kaum minoritas.
Keempat, Nabi Muhammad adalah teladan dalam kesederhanaan dan keteguhan hidup. Meskipun beliau bisa saja hidup mewah, tetapi beliau memilih hidup sederhana. Pakaian, makanan, dan tempat tinggalnya jauh dari kemewahan. Kesederhanaan itu menjadi bukti bahwa kekuasaan dan harta bukan tujuan utama hidup, melainkan sarana untuk menegakkan kebenaran. Hal ini akan nampak sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan kita saat ini yang cenderung bermewah-mewahan, menunjukan kemapanan serta cendrung hedonism.
Dengan demikian, makna suri tauladan yang baik dalam diri Nabi Muhammad SAW adalah bahwa setiap muslim dapat meneladani beliau dalam seluruh dimensi kehidupan: sebagai hamba Allah, kepala keluarga, pemimpin masyarakat, hingga sebagai pribadi yang penuh kasih sayang. Ayat ini juga menegaskan bahwa teladan itu hanya akan berpengaruh bagi mereka yang benar-benar beriman, berharap rahmat Allah, dan yakin akan hari akhir.
![]()

