Oleh: Ekky Yudistira
“Kalian ini adalah anak anak saya, generasi muda Kutai Timur. Apa yang adek adek sampaikan, menyuarakan aspirasi masyarakat , saya juga pernah berdiri di posisi adek adek saat ini menyampaikan orasi. Saya sangat memahami”
Sepenggal kata sederhana namun menyentuh ini diucapkan AKBP Fauzan Arianto, Kapolres Kutai Timur, saat menghadapi aksi demonstrasi mahasiswa belum lama ini. Di tengah suhu politik yang memanas dan ketegangan yang kerap mewarnai aksi massa, kata-kata tersebut bagaikan secercah kesejukan yang mampu meredam bara amarah dan menjembatani jurang pemisah antara aparat dan masyarakat.
Dalam aksi yang dilaksanakan gabungan mahasiswa di Simpang Lampu Merah Bukit Pelangi, sosok Fauzan Arianto menampilkan wajah baru kepolisian Indonesia. Alih-alih menggunakan pendekatan represif yang kerap menjadi stigma negatif aparat keamanan, ia memilih jalan dialog dan empati. Kemampuannya mendengarkan keluhan dengan sabar, ketenangan menghadapi massa yang emosional, dan kepiawaian mengolah kata untuk mendinginkan suasana menjadi pemandangan yang begitu menyejukkan mata.
Sikap komunikatif dan kemampuannya memandang permasalahan dari berbagai perspektif menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin yang tidak terjebak dalam ego institusional. Di saat kondisi nasional sedang tegang akibat insiden yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di Jakarta Pusat, Fauzan mampu memposisikan diri sebagai sosok yang dapat dipercaya dan dihormati oleh berbagai pihak.
AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H., bukanlah sosok yang asing dalam konstelasi kepolisian Indonesia. Pria kelahiran Banjarmasin 42 tahun silam ini resmi menggantikan AKBP Chandra Hermawan sebagai Kapolres Kutai Timur dengan membawa visi kepemimpinan yang lebih humanis dan inklusif.
Lahir pada 7 November 1982, Fauzan telah mengukir jejak karier yang cemerlang selama hampir dua dekade sejak lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2005. Perjalanan kariernya yang dimulai dari bawah menunjukkan dedikasi tinggi seorang abdi negara yang konsisten mengabdi kepada masyarakat tanpa mengenal lelah.
Keunikan sosok Fauzan terletak pada latar belakang etnisnya sebagai seorang putra Dayak yang berhasil mencapai posisi strategis di kepolisian. Pencapaian ini bukan hanya personal achievement, melainkan juga cerminan nyata dari semangat kebhinekaan dan profesionalisme yang menjadi ciri khas Polri modern. Sebagai putra daerah Kalimantan, pemahaman mendalam tentang karakteristik wilayah dan dinamika masyarakat lokal menjadi modal berharga dalam menjalankan tugasnya di Kutai Timur.
Yang menarik dari sosok Fauzan adalah perpaduan harmonis antara pendidikan formal yang solid dan pengalaman lapangan yang luas. Ia meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya pada 2013, kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister Hukum di Universitas Diponegoro Semarang pada 2019. Prestasi akademiknya ini semakin diperkuat dengan berbagai pendidikan kepolisian, termasuk Program Pendidikan Pengembangan Perwira Menengah (Sespimmen) pada 2022.
Perpaduan antara keahlian hukum dan pengalaman operasional menjadikan Fauzan sebagai perwira yang memahami betul aspek legal dalam penegakan hukum. Dalam era modern dimana tantangan kejahatan semakin kompleks dan masyarakat semakin melek hukum, background hukum yang kuat sangat diperlukan untuk memastikan setiap tindakan kepolisian tetap berada dalam koridor yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Rekam jejak Fauzan menunjukkan pengalaman yang sangat beragam di berbagai lini kepolisian. Dari mulai menangani lalu lintas, operasi keamanan, hingga urusan hubungan masyarakat, semuanya telah dilaluinya dengan dedikasi tinggi. Pengalaman sebagai Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) di Polres Tabalong dan Polres Tanah Laut memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya ketertiban berlalu lintas, terutama di wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi seperti Kutai Timur.
Pengalaman sebagai Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) di Batu Ampar dan Takisung memberikan nilai tambah yang tidak ternilai. Di level inilah seorang perwira benar-benar bersentuhan langsung dengan masyarakat grassroot, memahami permasalahan riil yang dihadapi rakyat, dan belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan pendekatan yang tepat.
Yang tak kalah penting adalah pengalaman terbarunya di Divisi Hubungan Masyarakat (Divhumas) Polri, dimana ia menangani bidang media sosial dan produk kreatif. Pengalaman ini sangat relevan dengan tantangan modern dimana komunikasi publik dan pengelolaan informasi menjadi aspek krusial dalam tugas kepolisian. Di era digital ini, kemampuan berkomunikasi dengan berbagai segmen masyarakat melalui platform yang tepat menjadi keterampilan yang tidak bisa diabaikan.
Kutai Timur sebagai salah satu daerah dengan potensi ekonomi besar di Kalimantan Timur memiliki dinamika sosial yang kompleks. Sebagai daerah penghasil batu bara dan sawit, wilayah ini kerap menghadapi berbagai permasalahan mulai dari konflik lahan, isu lingkungan, hingga ketimpangan sosial. Diperlukan sosok pemimpin yang tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga bijaksana dalam membaca situasi dan mengambil langkah yang tepat.
Pengalaman Fauzan dalam menangani demonstrasi dengan pendekatan humanis memberikan harapan besar bahwa Polres Kutai Timur akan semakin dekat dengan masyarakat. Polri yang ideal adalah polri yang mampu menjadi problem solver, bukan problem maker. Polri yang dipercaya masyarakat karena integritasnya, bukan ditakuti karena represifitasnya.
Refleksi untuk Polri Masa Depan
Sosok Fauzan Arianto menjadi representasi dari generasi baru kepolisian Indonesia yang lebih modern, edukatif, dan humanis. Kemampuannya mengelola emosi massa dengan kata-kata bijak menunjukkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa keras ia bisa membentak, melainkan seberapa mampu ia menenangkan dan meyakinkan.
Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan yang ditunjukkan Fauzan seharusnya menjadi inspirasi bagi seluruh jajaran Polri di Indonesia. Masyarakat tidak membutuhkan polisi yang arogan dan represif, melainkan polisi yang bisa menjadi tempat berteduh dan meminta perlindungan. Masyarakat membutuhkan polisi yang bisa memahami aspirasi mereka, bukan malah mengkriminalisasi setiap bentuk kritik dan protes.
Keberhasilan Fauzan dalam mendinginkan suasana demonstrasi dengan pendekatan empati dan dialog memberikan pelajaran berharga bahwa kekerasan bukanlah satu-satunya solusi dalam menangani konflik. Justru pendekatan humanis sering kali lebih efektif dalam menyelesaikan permasalahan secara berkelanjutan.
Alangkah indahnya jika seluruh perwira Polri memiliki kemampuan seperti yang ditunjukkan AKBP Fauzan Arianto. Alangkah humanisnya institusi Pelindung dan Pengayom Masyarakat ini jika lebih mengutamakan kemampuan mengendalikan dan meredam ketegangan melalui kata-kata bijak, bukan melalui pentungan ataupun tembakan gas air mata.
Kisah inspiratif Kapolres Kutim ini memberikan secercah harapan bahwa reformasi Polri bukanlah sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang dibangun oleh para pemimpin muda yang berkarakter. Fauzan Arianto telah membuktikan bahwa menjadi seorang polisi tidak hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga soal membangun kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat.
Semoga sosok-sosok seperti Fauzan semakin banyak bermunculan di jajaran Polri, sehingga cita-cita memiliki polri yang profesional, bermartabat, dan dicintai masyarakat bukanlah sekadar mimpi belaka, melainkan kenyataan yang bisa kita rasakan bersama.
![]()

