Oleh: Ekky Yudhistira

DALAM dunia pertanian, ada pepatah yang tak lekang oleh waktu: “Benih unggul yang dipelihara dengan baik akan menghasilkan panen berkualitas.” Prinsip sederhana ini ternyata memiliki relevansi mendalam dengan kondisi wartawan Indonesia saat ini. Seperti halnya tanaman padi yang membutuhkan varietas unggul, pupuk berkualitas, dan penanganan yang tepat untuk menghasilkan beras super, profesi wartawan pun memerlukan “bibit” berkualitas, “pupuk” pendidikan yang memadai, dan “perawatan” berupa pelatihan berkelanjutan.

Data dari berbagai survei menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang kondisi wartawan Indonesia. Hingga saat ini baru sekitar 6.500 wartawan yang lulus dan memiliki sertifikat kompetensi dari total wartawan yang diperkirakan mencapai 70.000 hingga 100.000 orang. Artinya, hanya sekitar 6-9% wartawan Indonesia yang telah tersertifikasi kompetensinya secara resmi.

Dalam budidaya padi, kualitas hasil akhir sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: kualitas bibit, kualitas perawatan, dan kondisi lingkungan. Mari kita telaah paralel ini dengan dunia jurnalistik:

1. Varietas/Bibit: Dasar Pendidikan dan Bakat

Seperti padi yang dimulai dari pemilihan varietas unggul, wartawan berkualitas dimulai dari dasar pendidikan yang solid. Namun realitas menunjukkan banyak wartawan yang tidak berlatar belakang pendidikan jurnalistik atau komunikasi. Proses sertifikasi wartawan oleh Dewan Pers merupakan upaya untuk memastikan bahwa wartawan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang diperlukan, namun cakupannya masih sangat terbatas.

Jika menggunakan analogi padi, kita memiliki terlalu banyak “bibit lokal” yang ditanam tanpa seleksi yang memadai. Meski varietas lokal dapat menghasilkan hasil yang baik dengan perawatan ekstra, akan lebih efisien jika dimulai dengan bibit unggul.

2. Pupuk dan Perawatan: Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan

Wartawan dinilai kompeten apabila memperoleh minimal nilai 70 dari skala penilaian 10-100, namun standar ini hanya berlaku pada saat ujian. Seperti padi yang membutuhkan pupuk berkelanjutan sepanjang masa pertumbuhan, wartawan memerlukan pelatihan dan pendidikan berkelanjutan.

Masalahnya, wartawan perlu memiliki kompetensi dan keahlian dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistik, namun tidak semua media memiliki kemampuan finansial untuk memberikan pelatihan berkelanjutan kepada wartawannya. Ini seperti petani yang tahu pentingnya pupuk berkualitas namun terkendala biaya.

Kondisi ini diperparah dengan temuan Survei Upah Layak Jurnalis 2024 oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menunjukkan 13 persen wartawan mengalami pemotongan gaji, dengan potongan tertinggi mencapai Rp 3 juta. Sementara itu, mayoritas media memiliki biaya operasional di rentang Rp10-50 juta per bulan dengan jumlah karyawan di kisaran 1-10 orang, yang mencerminkan keterbatasan sumber daya industri media.

3. Lingkungan dan Kondisi Kerja

Data Laporan Indeks Keselamatan Jurnalis 2024 mencatat 167 wartawan mengalami kekerasan dengan total 321 kejadian, dengan bentuk kekerasan yang paling banyak adalah pelarangan liputan (56 persen) dan larangan pemberitaan (51 persen). Meski Indeks Keselamatan Jurnalis mencapai 60,5 atau masuk kategori “Agak Terlindungi”, angka ini masih menunjukkan lingkungan kerja yang tidak kondusif.

Seperti padi yang tidak akan tumbuh optimal dalam lingkungan yang tercemar atau cuaca ekstrem, wartawan sulit berkembang dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan dan ancaman.

Penerapan Prinsip Pertanian Modern

1. Seleksi dan Penyiapan “Bibit Unggul”

Industri media dan institusi pendidikan perlu berkolaborasi dalam menciptakan sistem rekrutmen yang lebih selektif. Program magang dan internship yang terstruktur dapat menjadi “pembibitan” untuk calon wartawan, seperti petani yang menyiapkan bibit di persemaian sebelum ditanam di sawah.

2. “Pemupukan” Berkelanjutan

Seperti petani yang memberikan pupuk sesuai fase pertumbuhan padi, industri media perlu mengembangkan sistem pelatihan bertingkat. Sistem jenjang wartawan Muda, Madya, dan Utama yang sudah ada perlu diperkuat dengan program pelatihan yang konsisten di setiap level.

3. Perbaikan “Ekosistem Sawah”

Diperlukan kolaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem yang sehat. Sinergi antara institusi pers, organisasi pers, Dewan Pers, pemerintah, dan pemangku kepentingan menjadi kunci, seperti sistem irigasi yang baik memerlukan kerja sama berbagai pihak.

Dari Panen Biasa Menuju Panen Super

Pengalaman petani mengajarkan bahwa bahkan varietas padi menengah dapat menghasilkan “beras terbaik di kelasnya” dengan perawatan yang tepat. Demikian pula dengan wartawan. Mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan jurnalistik pun dapat menjadi wartawan berkualitas dengan pelatihan dan mentoring yang memadai.

Penelitian AJI Indonesia dan Remotivi menunjukkan pentingnya tingkat literasi media dan kepercayaan publik terhadap media. Ini mengingatkan kita bahwa kualitas wartawan tidak hanya berpengaruh pada profesi itu sendiri, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap media secara keseluruhan.

Seperti Revolusi Hijau yang mentransformasi pertanian Indonesia pada era 1970-an, dunia jurnalistik Indonesia memerlukan revolusi serupa. Tidak cukup hanya mengeluh tentang rendahnya kualitas wartawan, tetapi perlu ada gerakan sistemik untuk memperbaiki seluruh rantai “produksi” wartawan berkualitas.

Analogi padi mengajarkan bahwa kualitas hasil akhir adalah akumulasi dari kualitas input dan proses. Wartawan berkualitas super tidak akan muncul dari “bibit sembarangan” yang “dipupuk seadanya” dalam “lingkungan yang tidak mendukung”. Saatnya semua stakeholder bergerak bersama, seperti petani yang bekerja gotong royong di sawah, untuk menciptakan ekosistem jurnalistik Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.

Hanya dengan pendekatan holistik seperti inilah kita dapat berharap memiliki wartawan-wartawan berkualitas yang mampu menjalankan fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi dengan baik. Sebagaimana pepatah petani: “Sawah yang digarap dengan telaten akan memberikan panen yang melimpah,” demikian pula profesi wartawan yang dikelola dengan serius akan menghasilkan jurnalis-jurnalis berkualitas yang dapat diandalkan bangsa.

Loading