Oleh: Ekky Yudhistira

ADA yang menyakitkan dari cara mereka tersenyum ketika merampok kita. Bukan senyum penjahat jalanan yang terang-terangan mengancam, tetapi senyum hangat seorang “pelayan rakyat” yang dengan tulus berkata sedang bekerja untuk kepentingan kita semua. Inilah wajah korupsi modern Indonesia—ramah, berkedok kebaikan, dan membunuh dengan lembut.

Setiap kali kita mendengar “anggaran untuk masyarakat”, coba bayangkan wajah tukang ojek yang anaknya drop out sekolah karena tidak ada program beasiswa yang dijanjikan. Atau ibu hamil yang harus berjalan kaki 5 kilometer ke puskesmas karena ambulance desa rusak—padahal anggaran perawatan sudah dikucurkan setiap tahun.

Di balik setiap proyek yang “diselewengkan”, ada mimpi anak-anak yang tidak terwujud. Ada lansia yang menunggu obat gratis yang tak kunjung datang. Ada petani yang menantikan irigasi yang ujung-ujungnya hanya berupa pipa setengah jadi yang terbengkalai di sawah.

Yang membuat hati teriris bukanlah angka kerugian negara yang fantastis, tetapi kenyataan bahwa di balik sistem ini ada manusia dengan nama, keluarga, dan cerita hidup. Mereka yang merampok adalah ayah yang pulang ke rumah dan bercerita pada anaknya tentang “prestasi kerja”. Mereka adalah ibu yang bangga suaminya “sukses” tanpa tahu dari mana sumber kemakmurannya.

Di sisi lain, korbannya juga manusia. Anak sekolah yang makan dengan nasi aking karena program gizi tidak berjalan. Guru honorer yang gajinya terlambat berbulan-bulan karena anggaran “terserap” untuk hal lain. Warga desa yang masih menggunakan lampu teplok karena proyek listrik desa berakhir di rekening pribadi seseorang.

Apa yang terjadi bukanlah abstraksi kebijakan, tetapi pencurian terhadap masa depan. Ketika seseorang mengambil keuntungan dari proyek jalan yang berujung berlubang, yang terjadi bukan hanya pemborosan anggaran. Ada ibu yang kehilangan bayinya karena ambulance tidak bisa melewati jalan rusak itu dengan cepat.

Ketika spesifikasi bangunan sekolah diturunkan demi keuntungan pribadi, yang runtuh bukan hanya dinding bata. Yang runtuh adalah mimpi anak-anak untuk mendapat pendidikan layak, harapan orang tua untuk melihat anaknya naik kelas sosial, dan kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah benar-benar peduli.

Erosi Kepercayaan yang Menyakitkan

Yang paling menyedihkan adalah bagaimana sistem ini merusak hal yang paling berharga dalam masyarakat: kepercayaan. Pak RT yang dulunya dihormati kini dicurigai. Program pemerintah yang harusnya disambut gembira malah dilihat dengan sinis. “Pasti ada maunya,” gumam warga ketika mendengar proyek baru.

Kepercayaan yang terkikis ini tidak hanya merusak hubungan vertikal antara rakyat dan pemerintah, tetapi juga horizontal antar sesama warga. Kecurigaan menjadi watak, skeptisisme menjadi sikap default, dan gotong royong digantikan oleh “yang penting aman sendiri”.

Generasi muda tumbuh dengan pemahaman yang keliru tentang kesuksesan. Mereka melihat bahwa cara tercepat untuk “berhasil” adalah dengan dekat-dekat penguasa, bukan dengan bekerja keras atau berinovasi. Mereka belajar bahwa “sistem tidak adil” adalah alasan yang valid untuk tidak berusaha, atau sebaliknya, menjadi cynical dan ikut-ikutan dalam permainan kotor.

Anak-anak ini kehilangan role model yang benar. Mereka melihat bahwa orang “sukses” di sekitar mereka adalah mereka yang pandai “bermain”, bukan mereka yang jujur dan bekerja keras.

Di tengah hiruk pikuk pemberantasan korupsi yang seringkali hanya menyentuh permukaan, kita lupa bahwa yang kita hadapi adalah krisis kemanusiaan. Ini bukan hanya soal uang negara yang hilang, tetapi soal bagaimana sistem ini mengubah manusia menjadi predator bagi sesamanya.

Para pelaku korupsi ini bukanlah monster. Mereka adalah tetangga kita, keluarga kita, teman kita. Mereka adalah produk dari sistem yang memberikan reward pada perilaku ekstraktif dan punishment pada kejujuran. Mereka adalah cermin dari society yang memuja kesuksesan material tanpa mempertanyakan prosesnya.

Jalan Menuju Penyembuhan

Penyembuhan tidak akan datang dari hukuman yang lebih berat atau sistem pengawasan yang lebih ketat semata. Penyembuhan akan datang ketika kita kembali memanusiakan satu sama lain.

Kita perlu ingat bahwa di balik setiap kebijakan ada wajah manusia yang akan terdampak. Kita perlu mengembalikan empati dalam pengambilan keputusan publik. Kita perlu sistem yang tidak hanya mencegah korupsi, tetapi juga menumbuhkan integritas.

Yang terpenting, kita perlu mengingat mengapa kita berbangsa: untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi semua, bukan hanya untuk segelintir orang yang pandai “bermain”.

Setiap kali tergoda untuk mengambil keuntungan dari posisi kita, ingatlah wajah anak-anak yang bermimpi masa depan lebih cerah. Setiap kali kita berpikir “tidak apa-apa, yang lain juga begini”, ingatlah bahwa ada orang tua di luar sana yang bekerja keras hanya untuk bisa makan tiga kali sehari.

Kita semua adalah bagian dari masalah ini, dan kita semua juga bagian dari solusinya. Saatnya untuk memilih: apakah kita akan terus menjadi bagian dari sistem yang merampok masa depan, atau kita akan berani menjadi manusia yang utuh, yang peduli pada sesama, yang memahami bahwa kesejahteraan kita semua saling terkait.

Karena pada akhirnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya para koruptor, tetapi kita semua yang tahu tapi diam, yang melihat tapi pura-pura buta, yang merasakan tapi memilih mati rasa.

Mari kita kembalikan kemanusiaan dalam pengelolaan negeri ini. Karena republik ini dibangun bukan untuk segelintir orang, tetapi untuk seluruh anak bangsa.

Loading