Oleh: Ekky Yudistira
DELAPAN puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Setiap 17 Agustus, bendera merah putih berkibar gagah, lagu kebangsaan bergema khidmat, dan pidato-pidato patriotik memenuhi udara. Namun di balik kemegahan upacara dan gemerlap perayaan, tersimpan luka yang tak kunjung sembuh—luka yang mungkin membuat para pahlawan perjuangan menangis di peraduan abadi mereka.
Setiap tahun, upacara bendera digelar dengan megah. Pejabat-pejabat berseragam rapi berdiri tegak, siswa-siswa berbaris dengan tertib, dan lagu-lagu perjuangan dinyanyikan dengan penuh semangat. Namun setelah upacara usai, semuanya kembali seperti sedia kala. Tidak ada perubahan signifikan, tidak ada terobosan berarti, dan tidak ada komitmen nyata untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Upacara kemerdekaan telah menjadi rutinitas kosong, seremoni belaka yang kehilangan ruh dan substansi. Para peserta upacara pulang dengan perasaan bangga semu, sementara permasalahan bangsa tetap menumpuk dan menggunung.
Maafkan kami, para pahlawan. Bukan karena kami segan atau enggan mengenang jasa kalian, tetapi karena kami harus mengakui kenyataan pahit: merah putih yang kalian jahit dengan darah dan air mata kini tampak rapuh, luntur, dan kehilangan makna sejatinya.
Delapan dekade berlalu sejak proklamasi dikumandangkan, namun jutaan anak bangsa masih terjerat dalam lilitan kemiskinan yang mencekik. Mereka yang seharusnya menikmati buah kemerdekaan justru berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup. Angka kemiskinan yang terus mengintai, kesenjangan sosial yang menganga lebar, dan ketimpangan ekonomi yang semakin parah menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan ini belum benar-benar sampai ke seluruh rakyat Indonesia.
Di sudut-sudut kota, anak-anak bangsa masih harus mencari sesuap nasi dengan cara yang jauh dari bermartabat. Di pelosok desa, mimpi untuk mendapatkan pendidikan layak masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Sementara itu, segelintir elite terus menumpuk kekayaan dengan cara-cara yang kerap kali meninggalkan rasa keadilan.
Yang lebih memprihatinkan adalah pembodohan sistemik yang terus menggerogoti mental anak bangsa. Sistem pendidikan yang seharusnya mencerahkan justru menciptakan generasi yang pasif, tidak kritis, dan mudah dimanipulasi. Kurikulum yang berganti-ganti tanpa evaluasi mendalam, guru-guru yang tidak sejahtera, dan infrastruktur pendidikan yang timpang menciptakan generasi yang jauh dari cita-cita founding fathers.
Media massa dan platform digital yang seharusnya menjadi sarana edukasi malah dipenuhi dengan konten-konten dangkal yang mengalihkan perhatian dari masalah substansial. Anak-anak bangsa lebih familiar dengan drama politik palsu ketimbang memahami hak-hak konstitusional mereka. Mereka lebih tertarik dengan tren viral ketimbang mempelajari sejarah perjuangan yang telah mengantarkan mereka pada kemerdekaan.
Di tengah penderitaan rakyat, panggung politik justru dipenuhi dengan sandiwara yang memabukkan. Jargon-jargon bombastis dilontarkan, program-program spektakuler dipamerkan, namun implementasi di lapangan seringkali jauh dari harapan. Politisi berlomba-lomba menciptakan citra dan narasi yang menghibur, sementara permasalahan fundamental bangsa dibiarkan berlarut-larut.
Tayangan-tayangan propaganda yang diproduksi dengan anggaran fantastis menggambarkan Indonesia seolah-olah telah menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Statistik dipoles sedemikian rupa hingga terlihat menggembirakan, padahal realitas di lapangan berkata lain. Rakyat disuguhkan ilusi kemajuan sementara mereka sendiri masih berjuang menghadapi berbagai keterbatasan.
Pertanggungjawaban kepada Para Pahlawan
Kepada kalian, para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia, kami hanya bisa meminta maaf. Maaf karena bangsa yang kalian perjuangkan masih jauh dari cita-cita luhur yang kalian impikan. Maaf karena generasi penerus belum mampu mengoptimalkan kemerdekaan yang telah kalian berikan dengan pengorbanan luar biasa.
Namun kami berjanji, semangat perjuangan kalian tidak akan padam begitu saja. Di tengah kekecewaan dan kepahitan ini, masih ada secercah harapan dari generasi muda yang mulai sadar dan kritis. Mereka mulai mempertanyakan status quo, menuntut transparansi, dan berusaha mewujudkan perubahan nyata.
Meski realitas saat ini memprihatinkan, bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan. Kemerdekaan sejati memang belum sepenuhnya tercapai, tetapi perjuangan untuk mencapainya harus terus berlanjut. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan dan membawa bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.
Saatnya kita berhenti puas dengan seremoni kosong dan mulai bekerja keras mewujudkan perubahan konkret. Saatnya kita berhenti terpesona dengan jargon-jargon politik dan mulai menuntut akuntabilitas dari para pemimpin. Saatnya kita bangkit dari keterpurukan dan membuktikan bahwa pengorbanan para pahlawan tidak akan sia-sia.
Maafkan kami, para pahlawan, karena kami belum sempurna. Tetapi percayalah, perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik akan terus berlanjut, sampai cita-cita kemerdekaan yang sejati benar-benar terwujud.
![]()

