SEBUAH artikel berjudul “Dulu Kita Bermain di Tanah, Kini Mereka Tenggelam di Layar” yang ditulis oleh Ronny Haputra, kontributor media lokal Kutai Timur, telah menarik perhatian publik. Namun, informasi yang beredar mengenai perilaku penulis sendiri justru memunculkan pertanyaan serius tentang kredibilitas dan konsistensi antara apa yang ditulis dengan apa yang dipraktikkan.
Ronny Haputra dalam artikelnya mengkritik keras generasi milenial dan Gen Z yang “tenggelam di layar” dan kehilangan sentuhan manusiawi. Dia memuji nostalgia masa kecil 90-an yang penuh dengan permainan tradisional dan interaksi sosial nyata. Namun, ironinya muncul ketika diketahui bahwa penulis sendiri kerap lebih fokus pada handphone-nya daripada menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam psikologi disebut sebagai “projection” – mengkritik orang lain atas perilaku yang sebenarnya kita sendiri lakukan. Bagaimana mungkin seseorang yang menulis tentang bahaya kecanduan gawai justru menjadi korban dari masalah yang sama?
Artikel Ronny terjebak dalam romantisasi masa lalu yang berlebihan. Dia melukiskan masa kecil 90-an seolah tanpa cela, sementara menggambarkan generasi sekarang sebagai korban teknologi yang kehilangan kemanusiaan. Padahal, setiap generasi memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing.
Generasi 90-an juga menghadapi berbagai masalah: bullying yang tidak terdokumentasi, keterbatasan akses informasi, dan minimnya awareness terhadap kesehatan mental anak. Sementara itu, anak-anak zaman sekarang justru memiliki akses pendidikan yang lebih luas, kesadaran sosial yang lebih tinggi melalui media sosial, dan kemampuan adaptasi teknologi yang luar biasa.
Kontradiksi Profesi dan Praktik
Sebagai kontributor media lokal, Ronny tentunya menggunakan teknologi digital untuk menyebarkan tulisannya. Media sosial, email, dan platform digital lainnya menjadi alat kerjanya sehari-hari. Namun, jika benar dia sering abai terhadap tanggung jawab karena sibuk dengan handphone, ini menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola teknologi yang sama yang dia kritik pada generasi muda.
Ini seperti seorang chef yang mengkritik makanan cepat saji sambil makan burger setiap hari. Kredibilitas professional menjadi dipertanyakan ketika ada gap antara apa yang ditulis dengan apa yang dipraktikkan.
Artikel tersebut mengakhiri dengan saran-saran generik seperti “menjaga nilai-nilai kesederhanaan” dan “tidak lelah hadir, mendengar, dan memberi teladan.” Namun, bagaimana bisa memberikan teladan jika penulis sendiri tidak mampu mencontohkan penggunaan teknologi yang bijak?
Pembaca, terutama generasi muda yang dikritiknya, akan lebih mudah menerima pesan jika datang dari seseorang yang telah berhasil mempraktikkan apa yang dipreach. Saran tanpa bukti implementasi nyata hanya akan terdengar sebagai ceramah kosong.
Yang lebih memprihatinkan, Haputra tampaknya melewatkan fakta bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai tradisional yang dia agung-agungkan. Game online bisa mengajarkan kerjasama tim, aplikasi edukasi bisa membangun empati melalui storytelling interaktif, dan media sosial bisa menciptakan komunitas yang solid.
Namun, karena mungkin penulis sendiri tidak bijak dalam menggunakan teknologi, dia gagal melihat potensi positif ini dan terjebak dalam dikotomi hitam-putih antara “teknologi jahat” versus “masa lalu yang indah.”
Pembelajaran untuk Media Lokal
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi media lokal di Kutai Timur dan daerah lainnya. Kredibilitas adalah aset utama seorang penulis. Ketika ada gap antara tulisan dan praktik, maka seluruh pesan kehilangan kekuatannya.
Media lokal perlu lebih selektif dalam memilih kontributor dan memastikan bahwa mereka tidak hanya mampu menulis dengan baik, tetapi juga memiliki integritas dalam menjalankan apa yang mereka tulis.
Artikel Ronny Haputra sebenarnya mengangkat isu yang relevan dan penting tentang dampak teknologi terhadap perkembangan anak. Namun, kredibilitasnya dipertanyakan ketika penulis sendiri tampaknya menjadi bagian dari masalah yang dikritiknya.
Alih-alih menggurui generasi muda, mungkin lebih baik jika para penulis seperti Ronny memulai dari diri sendiri. Meletakkan handphone dan melaksanakan kewajiban, memenuhi tanggung jawab sehari-hari dengan konsisten, baru kemudian berbagi pengalaman nyata tentang bagaimana menyeimbangkan teknologi dengan kehidupan yang bermakna.
Karena pada akhirnya, pesan terbaik adalah teladan nyata, bukan sekadar tulisan indah yang tidak didukung oleh praktik konsisten.
—
Penulis adalah Koordinator Tim Liputan Ronny Haputra
![]()

