Catatan: Ronny Haputra
ADA masa di mana sore hari adalah waktu yang paling ditunggu. Bukan karena ada notifikasi dari ponsel, tapi karena teman-teman sebaya sudah berkumpul di lapangan menenteng bola plastik, membawa tali untuk lompat, atau sekadar duduk bercengkerama sambil bermain teka-teki. Itulah masa kecil anak-anak kelahiran 1990-an. Masa di mana kehidupan begitu sederhana, namun terasa begitu kaya.
Kami bangun pagi bukan untuk membuka YouTube, tapi karena suara ibu yang membangunkan dengan sapaan lembut agar segera mandi dan bersiap ke sekolah. Jalan kaki ke sekolah pun bukan keluhan, melainkan rutinitas yang menyenangkan karena sepanjang jalan ada kawan berbagi cerita. Jika hujan turun, sepatu kami bisa basah, tapi tak ada keluh. Itu bagian dari perjuangan kecil yang menyenangkan untuk dikenang.
Puluhan permainan mengisi hari-hari kami seperti petak umpet, layangan, bentengan, congklak, ular naga, gasing kayu, kelereng, polisi-polisian hingga masak-masakan. Semua dimainkan dengan tubuh dan tawa. Tidak ada instruksi digital. Semua dipelajari lewat pengalaman, lewat interaksi sosial yang nyata. Kami belajar bergiliran, belajar menerima kekalahan dan belajar memimpin kelompok semua dari permainan itu.
Sementara itu, anak-anak zaman sekarang tumbuh di era berbeda. Teknologi sudah menjadi organ tambahan dalam hidup mereka. Sejak balita, mereka telah dikenalkan pada tablet dan smartphone. Mainan mereka bukan lagi tali dan karet gelang, melainkan aplikasi. Permainan bukan lagi di lapangan, tapi di ruang virtual. Interaksi tidak melibatkan mata yang saling menatap, melainkan emoji dan suara digital.
Bukan berarti salah, tapi pasti berbeda.
Anak sekarang lebih cepat belajar membaca lewat aplikasi edukasi, lebih akrab dengan bahasa Inggris lewat tontonan YouTube, bahkan lebih terampil mengakses informasi. Tapi di balik semua itu, ada yang perlahan memudar yaitu sentuhan manusia. Mereka mungkin tahu bagaimana cara menyalakan komputer, tapi belum tentu tahu cara minta maaf dengan tulus setelah bertengkar. Mereka tahu membuat video TikTok, tapi belum tentu tahu rasanya saling bertukar bekal di halaman sekolah.
Kita, anak-anak 90-an, belajar empati dari interaksi sehari-hari. Kita tahu rasa malu karena dimarahi guru di depan kelas, tahu rasanya menunggu dengan sabar giliran naik sepeda. Kita terbiasa dengan ketidaksempurnaan. Foto masa kecil kita buram, video tidak ada, tapi ingatan itu nyata dalam hati.
Sekarang, setiap momen anak zaman sekarang terekam. Tapi ironisnya, banyak dari mereka yang kesepian. Makan di meja makan sambil sibuk dengan gawai. Berkumpul, tapi tak saling bicara. Mereka punya segalanya, tapi seringkali tak merasa cukup.
Perubahan zaman adalah keniscayaan. Tak mungkin kita menuntut anak sekarang menjalani masa kecil seperti kita. Dunia mereka berbeda. Tapi yang bisa kita upayakan adalah menjaga nilai-nilai yang dulu membentuk kita pada kesederhanaan, kemandirian, empati, kerja sama dan kesadaran sosial. Nilai-nilai itu tak lekang oleh waktu dan bisa ditanamkan lewat cara baru asal kita, para orang tua, tidak lelah hadir, mendengar, dan memberi teladan.
Mungkin anak-anak kita tak tahu bagaimana serunya bermain kelereng, tapi mereka bisa belajar bahwa kalah bukan aib, bahwa menunggu bukan siksaan dan bahwa tertawa bersama itu lebih penting daripada sekadar menang di game online.
Anak-anak 90-an tumbuh dengan banyak keterbatasan, tapi justru itulah yang membuat kami kaya, kaya akan pengalaman, kaya kenangan, kaya pelajaran hidup. Kita adalah generasi yang tahu rasanya hidup sebelum semuanya serba instan dan kini, menjadi tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa di tengah kecanggihan teknologi, anak-anak zaman sekarang tak kehilangan makna dari menjadi anak-anak itu sendiri.
![]()

