Catatan dari Ronny Haputra
KALA senja mulai menjingga dan angin sore berembus pelan di Jalan Profesor Wirdjono Prodjodikoro, aroma kopi menyeruak lembut dari seberang Kantor Kementerian Agama Kutai Timur. Di sana, sebuah motor tua bermerek Legenda 2 berdiri kokoh bak sahabat setia, menjadi saksi bisu perjalanan seorang pria berusia 37 tahun bernama Faizal, pemilik Kopi Mangrove Aksa. Ini bukan sekadar kopi keliling (kopling), melainkan secangkir kisah tentang keberanian meracik rasa dan menjaga harmoni alam.
Tepat pukul 17.30 WITA, saat cahaya sore menyapu wajah Faizal yang penuh semangat, ia mulai bertutur tentang perjalanan awalnya. Areal perkantoran serta akses menuju taman wisata Bukit Pelangi menjadi tempat strategis, dengan lalu lintas warga yang padat, menjadi alasan kuat mengapa ia tetap bertahan di lokasi tersebut, mulai pukul 14.00 hingga 22.00 WITA.
“Jadi akses masyarakat yang notabene nya itu rutin lah dilewatin. Bahkan juga pemerintah setempat juga kan,” ujar Faizal saat dijumpai, pada Kamis, 31 Juli 2025.
Kopi Mangrove bukan semata-mata bisnis, melainkan wujud kecintaannya pada lingkungan. Biji mangrove yang diproses melalui serangkaian tahapan hingga menjadi bubuk kopi adalah hasil dari eksperimen rasa yang unik perpaduan antara laut, tanah, dan rimba, menyatu dalam setiap tegukan. Dari varian original, susu aren, caramel macchiato, hingga caramel latte, semuanya hadir dalam satu misi membawa alam ke dalam cangkir.
Tak hanya kopi berbasis mangrove, Faizal juga menyuguhkan varian robusta dan klasik seperti kopi susu, kopi susu aren, caramel macchiato, hingga caramel latte. Untuk penikmat rasa manis nan lembut, tersedia pula pilihan non-kopi seperti cokelat, mangga, thai tea, taro, matcha, hingga red velvet. Semua dibanderol dengan harga bersahabat, hanya Rp15 ribu per gelas.
Yang istimewa, seluruh minuman itu dijajakan dari atas motor tuanya. Sebuah gerobak kecil yang menempel rapi, menyimpan 19 varian rasa menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi. Tekadnya bukan semata pada cita rasa, tetapi juga menjangkau masyarakat luas, khususnya anak muda yang ingin merasakan sesuatu yang berbeda namun tetap akrab.
Tak hanya itu, legalitas usahanya pun telah terpenuhi. Faizal telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) sebagai bentuk keseriusannya mengembangkan produk yang aman dan terpercaya.
Faizal menyadari, di kota seperti Sangatta, ruang publik yang mengajak masyarakat berbincang tentang isu lingkungan, sosial, dan pembangunan masih sangat terbatas. Karena itu, Kopi Mangrove Aksa ia hadirkan sebagai titik temu antara warga dan alam, antara rasa dan kesadaran.
Faizal percaya, perubahan besar selalu dimulai dari ruang kecil. Baginya, kopi hanyalah alat. Yang utama adalah narasi yang tumbuh dari secangkir kopi itu.
“Saya ingin tempat ini jadi ruang diskusi warga,” kata Faizal.
Di balik kesederhanaan Kopi Mangrove Aksa, tersembunyi mimpi besar untuk menghidupkan potensi lokal. Menyeruput kopi racikan Faizal seolah mengajak kita menyusuri hutan mangrove, merasakan detak jantung alam, dan mendengar bisikan lembut ekosistem pesisir.
Kegagalan selama empat bulan dalam proses mencoba tak pernah membuatnya surut. Justru inovasi yang didapat dari buah hatinya yang berusia enam tahun, ia mendapat semangat untuk terus melangkah. Berbekal tekad dan pengetahuan soal mangrove, Faizal mulai mengenalkan hasil olahannya secara manual dari pengambilan buah hingga menjadi serbuk kepada kerabat dan keluarga.
“Langkah selanjutnya saya berpikir bagaimana kalau saya melanjutkan untuk tetap memproduksi nih. Sekalipun ibaratnya saya harus mendapatkan tahapan suksesnya, tahapan berhasilnya itu terakhir. Gagal itu sudahlah proses. Saya mau dari Bismillah ke Alhamdulillah,” ucapnya bijak.
Di tengah deru kendaraan dan lalu lalang manusia, Faizal tetap setia menjaga aroma khasnya. Setiap sore hingga malam menjelang, ia hadir membawa secangkir pesan: bahwa dalam setiap tetes kopi, tersimpan keindahan alam dan ketekunan manusia.
“Saya tetap optimis untuk mengembangkan ini, supaya ini menjadi salah satu langkah edukasi dan kampanye terkait masalah mangrove. Karena kondisi mangrove saat ini dianggap tidak ada nilainya,” pungkasnya. (RH)
![]()

