Penulis: Nova Rosytha, Ketua Kohati Cabang Banyuwangi. Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Untag Banyuwangi
Kepemimpinan Ketua Umum Kohati Badko HMI Jawa Timur, menuai kritik keras dari berbagai cabang. Dinilai gagal menjalankan fungsi strategisnya, Kohati Badko Jatim kini dianggap kehilangan arah dan mengalami kemunduran serius.
Setidaknya ada tiga poin utama yang menjadi sorotan. Pertama, minimnya keterlibatan Kohati Badko dalam pengembangan instruktur Kohati, yang notabene merupakan jantung kaderisasi perempuan di tubuh HMI. Kedua, mandeknya gagasan dan strategi kaderisasi yang semestinya digerakkan oleh struktur wilayah. Ketiga, munculnya desakan evaluasi total terhadap kepemimpinan ketum kohati jatim karena dianggap tidak mampu membawa organisasi berjalan secara substansial.
Nova juga menegaskan bahwa minimnya gagasan besar dari ketum kohati membuat Kohati Badko tampak pasif dan kehilangan arah. Menurutnya, kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan, karena akan berdampak langsung terhadap kualitas kader di wilayah Jawa Timur.
Kami tidak melihat adanya konsep besar yang ditawarkan oleh ketum. Tidak ada roadmap kaderisasi, tidak ada forum strategis yang membahas isu-isu perempuan HMI. Kalau terus seperti ini, struktur hanya akan jadi formalitas tanpa ruh perjuangan,” imbuh Nova Rosytha selaku ketua kohati banyuwangi.
Lebih jauh, Nova menyerukan perlunya evaluasi total terhadap Erika sebagai Ketua Umum Kohati Badko Jatim. Ia menyebut, jika tidak ada kesadaran untuk memperbaiki kepemimpinan, maka kepercayaan kader akan terus menurun.
Kami butuh pemimpin yang hadir, bukan hanya dalam struktur, tapi juga dalam gerakan. Kalau tidak mampu memimpin, lebih baik mundur. Jangan sampai Kohati Badko menjadi beban bagi gerakan kader perempuan HMI,” tambahnya dengan tegas.
Kritik yang disampaikan Nova Rosytha mempertegas bahwa keresahan di tingkat cabang bukan lagi suara minor. Kohati Badko HMI Jawa Timur perlu segera melakukan refleksi mendalam sebelum kehilangan kepercayaan total dari para kadernya sendiri.
![]()

