Oleh Ismet Rifani *)

MAAFKAN dengan judul di atas. Karena ini adalah media berbahasa Indonesia. Saya menelusurinya di laman pencarian, artinya kira-kira begini: Semoga Allah merahmatimu, Pemberani.

Seperti mayoritas warga Kaltim yang mengenal Yaser Arafat, saya tentu terkejut lantas terhenyak dengan pukulan telak sekaligus berita duka yang tersebar di berbagai media sosial, sejak Rabu (16/7) pagi.

Yaser berpulang ke haribaan Illaahi. Di kalangan jurnalis beredar kabar, setahun terakhir ia menderita kanker getah bening. Sempat menjalani rutinitas kemoterapi di Penang, negeri jiran Malaysia. Selasa (15/7/2025) malam ia drop, masuk RS Pertamina Balikpapan (RSPB) dan mengembuskan napas terakhir.

Yaser Arafat — yang namanya identik dengan sosok pejuang kemerdekaan bangsa Palestina legendaris itu, adalah tokoh muda yang berpengaruh di Kota Minyak. Pengusaha muda sukses, ketua Kadin Balikpapan petahana, dan datang dari keluarga terpandang.

Semasa sehatnya Yaser Arafat Syahril saat di Masjidil Haram.

Rasanya tak ada yang tak kenal ayahnya di Kota Minyak. Haji Syahril HM Taher, pengusaha sukses, tokoh masyarakat, tokoh bola, dan sempat menjadi anggota DPRD Balikpapan. Demikian juga ibundanya, Fitriati, tercatat sebagai anggota DPRD Kota Minyak dua periode.

Bagi penulis sendiri, persentuhan dengan Yaser dimulai cukup lama, lebih dari dua dekade lalu. Tepatnya pada 2003, saat Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak. Saat itu negara adidaya dan sekutunya Inggris (Tony Blair), dengan komando George W Bush Jr, mengeroyok Negeri 1001 Malam ini dengan dilatarbelakangi berbagai faktor.

AS menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal dan presiden Irak kala itu Saddam Hussein mendukung terorisme. Meski belakangan tuduhan itu tak pernah terbukti. Invasi ini juga didorong oleh kepentingan AS di kawasan Teluk, termasuk akses terhadap minyak Irak.

Invasi AS secara resmi berdentam pada 19 Maret 2003, dengan serangan udara dan darat terhadap Irak. Dengan kode Operasi Pembebasan Irak.
Pada 22 tahun silam, Yaser masih berusia 19 tahun, dan menempuh pendidikan di Irak. Info ini kami dapat dari lingkungan keluarga terdekatnya.

Wartawan Kaltim Post Sugito pun menghubungi Yaser. Dia masih muda, penuh gelora, dan berapi-api. Dalam wawancara tersebut Yaser lantang menyebut, kami semua pemberani. Kami takkan lari dari serbuan Amerika dan sekutunya. Yaser menyebut, dia dan teman-teman kampusnya akan meladeni serbuan Amerika.

Tanggal 21 Maret 2023, koran Kaltim Post membuat berita dengan headline soal invasi AS ke Irak, dan judulnya hingga kini masih terekam di memori saya, KAMI SEMUA PEMBERANI. Redaktur halaman utama kala itu Rizal Effendi yang belakangan sempat jadi wakil wali kota (2006-2011) dan wali kota Balikpapan dua periode (2011-2021). Narasumbernya siapa lagi kalau bukan Yaser.

Yang kami tahu, sebelum ke Irak, Yaser menempuh pendidikan di salah satu pesantren di Tanah Jawa. Basis agamanya kuat. Ditambah gejolak darah muda, tak aneh jika serbuan tentara Amerika dan sekutunya itu dianggapnya enteng.

Mungkin yang tak dihitungnya kala itu adalah perasaan was-was kedua orang tuanya. Tentu saja tak ada orang tua yang ingin menguliahkan anaknya di negara yang sedang diamuk perang yang nyaris tak berkesudahan.

Belakangan kami mendapat informasi Yaser diminta balik ke Tanah Air oleh keluarga. Ia meneruskan pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebelum mengambil gelar MBA di Auckland, New Zealand.

Dalam satu perjumpaan dengan ayahnya, Syahril, saya mendapat informasi, Yaser meminang gadis berdarah Betawi, yang berdiam di Jakarta. Singkat cerita, saat sang anak pulang kampung, sebagai satu-satunya anak lelaki, tak heran kalau kemudian Syahril menyiapkan sang anak sebagai penggantinya.

Yaser, bukan cuma berhasil menjaga dan membesarkan legacy sang ayah, ia bahkan melebihi. Dalam usia muda, ia dipercaya memimpin Kadin Balikpapan, organisasi para pengusaha.

Para jurnalis juga mencatat, saat menjadi pentolan Persiba, Yaser menjadi promotor sukses mendatangkan para legend Arsenal dan Liverpool mengikuti Balikpapan Master Cup 2017 di Stadion Batakan pada November 2017. Kehadiran mantan pemain dunia itu untuk meresmikan stadion baru di Balikpapan yang berkapasitas 40 ribu penonton. Pembangunan Stadion Batakan ini menelan biaya Rp 1,2 triliun.
Legenda Arsenal semacam Mikael Silvestre, Robert Pires, Freddy Ljungberg, hingga Patrick Viera tampil kala itu. Sedangkan Liverpool diperkuat Patrik Berger, Steve McManaman, Dietmar Hamann, Milan Baros, Emile Heskey, Xabi Alonso, dan Robbie Fowler. Sebagian di antara mereka menjadi pahlawan saat Liverpool menjuarai Liga Champions 2005.

Bagi para awak media, Yaser memberi kesan tersendiri. Ajie Chandra, wartawan desk ekonomi di Kaltim Post misalnya menyebut, Yaser adalah contoh nyata bagaimana “orang kalangan atas” tapi mudah bergaul dan berinteraksi dengan “kalangan bawah”. Attitude Yaser disebutnya harus jadi contoh pengusaha-pengusaha lainnya.

Sugito, mantan jurnalis Kaltim Post yang kemudian terjun sebagai pengusaha dan tercatat sebagai pengurus Kadin Balikpapan menyebut, Yaser memiliki banyak nilai plus, dalam kapasitas sebagai ketua Kadin. Cerdas, tapi tak menggurui. Fasih berbahasa Arab dan Inggris. Satu lagi, Yaser good looking.

Ia juga tak jarang menyempatkan waktu di kafe-kafe, mengobrol dan mengajak anak-anak muda untuk membaca dan memanfaatkan peluang-peluang usaha.

Yang unik, Yaser juga pandai meladeni anak-anak generasi milenial dan Gen Z bermain game online, atau play station (PS).

Bagi saya pribadi, satu pengalaman yang tak terlupakan saat melihatnya mendaftar sebagai bakal calon wali kota yang akan diusung PDIP, di Posko Pendaftaran PDI-P, di Sepinggan Pratama pada 2019. Berwajah tampan, berkulit putih dengan senyum penuh pesona, Yaser membuka sambutannya dengan sedikit bahasa Arab. Katanya kala itu, ini hari Jumat, semoga jadi Jumat berkah. Auranya terlihat sangat positif. Ia tersenyum lebar dan menjawab taktis kala para awak media mewawancarai seputar tekadnya maju dalam Pilkada.

Banyak cerita-cerita baik seputar Yaser yang terdengar. Ia misalnya mengecor jalan umum dengan dana pribadi. Hal yang sama untuk rumah ibadah. Bukan pekerjaan sulit, karena ia memang dikenal sebagai kontraktor konstruksi. Ia juga dikenal dermawan, suka membantu. Sifat ringan tangan itu boleh jadi menurun dari ayahnya yang dikenal tak sulit membuka dompet saat melihat orang kepepet.

Kemarin saya menyempatkan diri melayat ke rumah duka. Berjubel warga datang. Kalangan pengusaha, Wali Kota Dr Rahmad Mas’ud, SE, ME dan Dandim 0905/Balikpapan Kolonel Inf Denny Salurerung juga terlihat.

Berjuta kata penghibur tentu takkan bisa menawar kedukaan ayah, ibu, istri dan anak-anaknya. Mari kita doakan bersama, semoga keluarga almarhum tabah melewati ujian dan ketentuan Yang Mahakuasa ini.

Kita kerap mendengar bahwa terhadap hamba-Nya yang baik dalam muamalahnya di jalur habluminannas dan di jalur hablum minallaah, maka Sang Maha Pengasih menyegerakan pertemuan dengan hamba, kembali ke haribaan-Nya.

Rahimallahu Shuja’a. Selamat Jalan Pemberani!(*)

*) penulis adalah wartawan legend di Balikpapan.

Loading