Oleh: Ekky Yudistira
Wartawan berandaindonesia.id
DALAM ruang tamu yang pengap, seseorang kentut dan dengan refleks menyemprotkan parfum untuk menutupi bau. Begitulah gambaran sederhana yang terjadi di ruang publik digital Indonesia hari ini. Ketika fakta penyimpangan mulai tercium, buzzer pun bekerja keras menyemprotkan “parfum aromatheraphy pesanan” untuk menutupi bau busuk yang mulai menyengat.
Data We Are Social menunjukkan bahwa 139 juta orang Indonesia aktif menggunakan media sosial pada Januari 2024, setara dengan 49,9% dari total populasi. Angka ini bukan sekadar statistik biasa – ini adalah 139 juta hidung yang setiap hari menghirup campuran informasi asli dan manipulasi yang disemprotkan buzzer.
Yang mengkhawatirkan, rata-rata pengguna media sosial Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit per hari untuk mengakses platform digital, dengan 81% mengaksesnya setiap hari. Bayangkan, lebih dari 3 jam setiap hari, 139 juta orang Indonesia terpapar dengan “aromaterapi pesanan” yang terus-menerus disemprotkan.
Ironinya, 75,5% orang Indonesia tidak mengetahui apa itu buzzer di media sosial. Mereka menghirup parfum tanpa tahu bahwa yang mereka hirup adalah campuran kebenaran dan kebohongan yang telah diolah sedemikian rupa oleh para ahli manipulasi opini.
Industri Parfum Aromatheraphy: Bisnis yang Menggiurkan
Kritik sebagai dampak adanya fakta penyimpangan seringkali membuat risih, resah, dan gelisah berbagai pejabat di setiap lini pemerintahan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir fakta yang seolah seperti bau busuk dengan menggunakan buzzer yang tak ubahnya seperti marketing Parfum Aromatheraphy yang menyemprotkan fragrance tertentu dalam kebusukan pembiaran yang dilakukan.
Fenomena ini mencerminkan budaya politik yang lebih mengutamakan citra daripada substansi. Alih-alih memperbaiki akar masalah, para pemangku kebijakan lebih memilih jalan pintas dengan memanipulasi persepsi publik. Seperti seseorang yang kentut di ruang tertutup kemudian menyemprotkan parfum untuk menutupi bau tak sedap, strategi ini hanya memberikan solusi sementara yang justru menciptakan aroma campuran yang lebih menjijikkan.
Dengan dominasi pengguna media sosial usia 18-34 tahun mencapai 54,1%, buzzer memiliki target yang jelas: generasi muda yang akan menentukan masa depan Indonesia. Mereka adalah konsumen utama Parfum Aromatheraphy yang paling mudah dipengaruhi karena kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dan tidak mendalam.
Yang sering terlupakan dalam diskusi tentang buzzer dan manipulasi opini adalah wajah-wajah manusia yang menjadi korban dari praktik ini. Ada ibu rumah tangga yang kebingungan memilah informasi kesehatan untuk anaknya karena terbiasa membaca hoaks yang dikemas rapi. Ada petani yang salah mengambil keputusan ekonomi karena terpengaruh data palsu yang disebar buzzer. Ada mahasiswa yang apatis terhadap politik karena merasa semua informasi sama bohongnya.
Setiap semprotan parfum politik yang menutupi kebusukan punya dampak nyata pada kehidupan rakyat biasa. Mereka tidak hanya kehilangan akses terhadap informasi yang akurat, tetapi juga kehilangan kepercayaan terhadap sistem informasi secara keseluruhan. Ketika kepercayaan hilang, demokrasi pun mulai rapuh.
Jurnalisme Investigatif: Hidung Tajam yang Terancam
Di tengah gempuran buzzer yang tak henti-hentinya menyemprotkan Parfum Aromatheraphy, masyarakat membutuhkan sosok yang mampu mendeteksi bau asli dari balik kepulan wangi-wangian palsu. Jurnalisme investigatif hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak ini. Namun, kondisi jurnalisme investigatif kita hari ini ibarat hidung yang tersumbat flu – kemampuan mencium sudah berkurang drastis.
Realitas pahit yang dihadapi jurnalis investigatif Indonesia sangat memprihatinkan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat ada 73 kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia pada 2024, dengan kekerasan fisik sebagai yang terbanyak yaitu 19 kasus. Angka ini belum termasuk intimidasi psikologis, tekanan ekonomi, dan ancaman hukum yang kerap dialami para jurnalis investigatif.
Dalam skala global, selama 15 tahun terakhir sebanyak 44 jurnalis yang melakukan peliputan mendalam dan investigatif tewas dibunuh, namun hanya lima dari pelaku atau orang-orang terkait yang berhasil diadili. Sementara tahun 2024 menandai salah satu tahun paling mematikan bagi jurnalis di seluruh dunia dengan sedikitnya 122 jurnalis terbunuh, salah satunya di Indonesia.
Para jurnalis investigatif sering kali bekerja dalam kondisi yang tidak ideal. Mereka menghadapi tekanan ekonomi, ancaman hukum, intimidasi, bahkan teror fisik. Ketika buzzer dibayar mahal untuk menyebarkan aroma parfum, jurnalis investigatif justru harus berjuang dengan keterbatasan dana dan sumber daya. Ironi yang menyakitkan ketika penyebar kebenaran harus hidup pas-pasan, sementara penyebar kebohongan hidup berkecukupan.
Meskipun Indeks Keselamatan Jurnalis Indonesia mencapai 60,5 poin atau masuk dalam kategori “Agak Terlindungi” dengan kenaikan 0,7 poin dibandingkan tahun 2023, namun tercatat sebanyak 321 kasus kekerasan terhadap 167 jurnalis sepanjang tahun 2024, yang menunjukkan bahwa perlindungan terhadap jurnalis masih lemah.
Membangun Tentara Hidung: Solusi Kolaboratif
Melawan armada buzzer yang terorganisir memerlukan strategi yang sama terorganisirnya. Jurnalisme investigatif tidak bisa berjuang sendirian. Diperlukan kolaborasi antara media mainstream, media alternatif, jurnalis independen, akademisi, dan aktivis sipil untuk menciptakan jaringan deteksi kebusukan yang kuat.
Pengembangan jurnalisme investigatif bukan hanya soal melatih teknik wawancara atau kemampuan riset. Ini adalah tentang membangun ekosistem yang mendukung kerja-kerja jurnalistik yang berisiko tinggi. Media massa perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk investigasi jangka panjang, bukan hanya mengejar berita viral yang menghasilkan klik dalam hitungan jam.
Teknologi bisa menjadi sekutu dalam perjuangan ini. Platform fact-checking yang mudah diakses, database kolaboratif untuk melacak jejak buzzer, dan tools analisis sentimen untuk mengidentifikasi kampanye manipulasi opini dapat memperkuat kemampuan jurnalisme investigatif. Namun, teknologi tanpa sentuhan manusiawi akan kehilangan empati yang menjadi kekuatan utama jurnalisme.
Masyarakat juga perlu diajak berpartisipasi aktif. Bukan sebagai konsumen pasif informasi, tetapi sebagai co-creator dalam proses verifikasi dan penyebaran kebenaran. Setiap warga negara bisa menjadi “hidung kecil” yang peka terhadap bau busuk di lingkungannya masing-masing, kemudian melaporkan temuan mereka kepada jurnalis investigatif untuk dikembangkan lebih lanjut.
Dalam hiruk-pikuk perang parfum politik ini, kita sering lupa bahwa di balik setiap berita bohong ada keluarga yang terdampak, di balik setiap manipulasi data ada mimpi yang hancur, di balik setiap semprotan parfum ada hak asasi yang dilanggar. Jurnalisme investigatif bukan hanya soal membongkar skandal atau mencari sensasi, tetapi tentang mengembalikan martabat kemanusiaan yang terancam oleh praktik-praktik manipulatif.
Para jurnalis investigatif adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja dalam bayang-bayang, menghadapi risiko untuk kepentingan publik. Mereka membutuhkan dukungan kita semua – tidak hanya dalam bentuk apresiasi, tetapi juga perlindungan hukum, dukungan finansial, dan yang terpenting, kepercayaan dari masyarakat yang mereka layani.
Dengan 139 juta pengguna media sosial yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari mengonsumsi informasi digital, Indonesia berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih untuk terus menghirup parfum palsu yang menyamarkan kebusukan, atau memilih untuk bernapas dengan jujur meskipun udara yang kita hirup tidak selalu wangi.
Mari kita bersama-sama membangun ekosistem informasi yang sehat, di mana kebenaran tidak perlu bersembunyi di balik parfum, dan di mana setiap warga negara bisa bernapas dengan lega karena tahu bahwa mereka mendapat informasi yang layak mereka terima sebagai manusia yang bermartabat.
—
Catatan: Data dalam artikel ini dikutip dari berbagai sumber terpercaya termasuk We Are Social, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan berbagai lembaga riset media sosial Indonesia tahun 2024.
![]()

