Oleh: Ekky Yudistira
Wartawan berandaindonesia.id
Kadang-kadang, cinta itu sesederhana lampu yang menerangi kegelapan. Sesederhana tangan yang rela memberi tanpa mengharap balasan. Di Pulau Sangalaki, cinta itu berwujud—ada harapan bahwa penyu-penyu akan terus datang, bertelur, dan melanjutkan siklus kehidupan yang telah berlangsung jutaan tahun, dilindungi oleh hati yang tulus.
SORE itu, di pantai berpasir putih Pulau Sangalaki, tiga speed boat milik Pratasaba Resort membawa puluhan wartawan dari berbagai daerah dan provinsi bersama dengan manajemen PT Pama Persada untuk menyaksikan secara langsung keajaiban alam yang menakjubkan. Tepat di halaman Kantor Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki, Berau, Kalimantan Timur, puluhan tukik (bayi penyu) bermunculan dari lubang pasir, menyedot perhatian semua pengunjung.
Tukik-tukik kecil yang masih rapuh ini berjuang keras untuk keluar dari sarang pasir mereka. Berbalut pasir putih pantai, mereka terus berupaya meninggalkan tempat penetasan menuju laut lepas dengan kecuekan tubuh yang rentan terhadap predator alami. Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa upaya konservasi di Sangalaki membuahkan hasil.
Pulau Sangalaki merupakan satu pulau yang terkenal di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Berbeda dari pulau lain, pulau tersebut merupakan tempat konservasi penyu di Berau. Pulau yang memiliki luas 280 Hektar tersebut merupakan tempat para penyu di laut berau bertelur.
Daratan TWA Pulau Sangalaki yang memiliki luas sekitar 15 kali lapangan bola ini merupakan tempat bertelur penyu yaitu Penyu Sisik dan Penyu Hijau. Sebagai kawasan yang menjadi habitat dan tempat berkembang biak penyu, menjadikan kawasan ini memiliki fungsi ekologi yang penting bagi keberlangsungan hidup spesies langka ini.
Di pulau kecil ini, drama kehidupan berlangsung setiap hari. Penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) memilih pantai berpasir putih Sangalaki sebagai tempat bertelur favorit mereka. Setiap malam,penyu-penyu betina naik ke daratan untuk menyimpan telur-telur mereka di pasir hangat.
Pada Februari 2024, Pama bersinergi dengan PT Berau Coal menyerahkan bantuan berupa plang selamat datang dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Kaltim di Pulau Sangalaki. Panel surya yang diserahkan mungkin terlihat seperti teknologi sederhana, namun dampaknya sangat revolusioner bagi kehidupan di Sangalaki.
Kerjasama yang dibangun dengan BKSDA Kaltim menunjukkan bagaimana sektor swasta dan pemerintah bisa bersinergi untuk konservasi. Bukan hanya transfer dana atau barang, tetapi juga transfer kepedulian dan komitmen jangka panjang untuk melindungi satwa langka Indonesia.
Panel surya yang diserahkan, mungkin terlihat teknologi sederhana, tapi dampaknya revolusioner bagi kehidupan di Sangalaki. Sebelumnya, petugas mengandalkan genset yang berisik dan boros bahan bakar. Kini, energi matahari menjadi sahabat mereka dalam menjaga penyu.
Program konservasi penyu di Sangalaki bukan akhir, tapi awal dari komitmen jangka panjang. Rencana ke depan sudah disusun: penambahan kapasitas PLTS, program edukasi yang lebih luas, dan kerjasama yang lebih erat dengan semua pihak.
Di Jakarta, di kantor pusat PT Pama Persada Nusantara yang megah dengan view gedung-gedung pencakar langit, para petinggi perusahaan menyadari bahwa mereka bukan hanya sedang membangun empire bisnis. Mereka sedang membangun legacy—warisan bahwa industri besar bisa memiliki hati yang besar, bahwa mesin raksasa bisa melindungi makhluk yang kecil, bahwa cahaya panel surya di pulau terpencil sama berharganya dengan kilau emas batu bara.
Raksasa Tambang Dengan Hati Nurani
PT Pama Persada Nusantara bukanlah nama sembarangan dalam industri pertambangan Indonesia. Sebagai anak perusahaan PT United Tractors Tbk yang bernaung di bawah grup Astra International, Pama telah menulis sejarah panjang selama tiga dekade sebagai salah satu kontraktor penambang batu bara terbesar di dunia.
Berawal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa penyewaan alat berat pada 1993, Pama kini menjelajahi seluruh rantai nilai pertambangan—dari eksplorasi hingga reklamasi. Transformasi mereka dapat dibagi dalam lima era strategis yang menunjukkan visi jangka panjang perusahaan yang luar biasa. Dimulai dengan fokus pada civil construction, forestry industrial, dan mining, Pama membangun fondasi sebagai distributor kendaraan konstruksi berat yang andal.
Di Tahun 1998-2003 Perusahaan ini mulai mengkhususkan diri dalam coal mining dan hauling serta overburden removal, menandai langkah serius memasuki industri pertambangan. Konsolidasi pada tahun 2004-2008 dengan mengintegrasikan upstream downstream mining activity, membuktikan kemampuan Pama mengelola kompleksitas operasi tambang modern. Di tahun 2009-2017 PAMA telah memposisikan diri sebagai pemain utama regional.
Dengan keunggulan PAMA yang terletak pada kemampuannya mengelola seluruh siklus pertambangan secara terintegrasi dengan standar internasional. Perusahaan ini pada tahun 2018 juga bertransformasi menjadi pemilik power plant, coking coal, dan mineral—mengantisipasi tren transisi energi global.
Ambisi perusahaan ini tidak berhenti sebagai kontraktor pertambangan. Perusahaan mengusung visi menjadi kontraktor penambangan terkemuka dunia dengan produktivitas, teknik, keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan hidup terbaik, sekaligus menjadi produsen energi yang andal, hijau, dan paling efisien.
Visi ini bukan sekadar slogan. Komitmen terhadap praktik berkelanjutan telah mendapat pengakuan internasional melalui Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) kategori emas 2018, Subroto Awards untuk Energy Management, dan Nusantara CSR Award kategori Zamrud sebagai penghargaan tertinggi.
PT Pama Persada Nusantara telah membuktikan bahwa transformasi sejati bukan hanya soal angka produksi atau ekspansi bisnis. Transformasi sejati adalah ketika sebuah perusahaan mampu menyeimbangkan kekuatan dengan kelembutan, ambisi dengan empati, keuntungan dengan kepedulian.
Harmoni Antara Industri dan Konservasi
Kisah PT PAMA Persada Nusantara di Pulau Sangalaki mengajarkan bahwa industri berat dan konservasi lingkungan bukanlah dua kutub yang bertentangan. Perusahaan yang sehari-harinya mengoperasikan mesin-mesin raksasa untuk menggali bumi, ternyata mampu menunjukkan kelembutan luar biasa dalam melindungi makhluk yang paling rapuh.
Program konservasi penyu ini menunjukkan bahwa dengan visi yang tepat, eksekusi yang konsisten, dan hati nurani yang terjaga, perusahaan Indonesia mampu bersaing di kancah global sambil tetap menjaga kelestarian alam. Pama membuktikan bahwa keberhasilan bisnis dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan, menciptakan value yang tidak hanya terukur dari bottom line, tetapi juga dari dampak positif terhadap planet dan generasi mendatang.
Setiap tukik yang berhasil mencapai laut lepas di Sangalaki adalah testimoni nyata bahwa cinta dan kepedulian bisa berwujud dalam bentuk yang paling sederhana namun paling bermakna. Di sinilah Pama menunjukkan bahwa mereka bukan hanya perusahaan tambang, tetapi guardian bagi masa depan bumi kita.
—
Ketika matahari terbenam di Pulau Sangalaki, dan panel surya mulai menyimpan energi untuk malam yang akan datang, puluhan tukik kecil bersiap memulai perjalanan mereka ke laut lepas. Mereka tidak tahu bahwa perjalanan mereka dimungkinkan oleh tangan-tangan yang peduli, oleh perusahaan yang memilih untuk melindungi, bukan hanya mengambil. Itulah cinta yang sesungguhnya—memberi tanpa mengharap, melindungi tanpa pamrih.
![]()

