Di tengah acara media gathering dan buka puasa bersama yang digelar PAMA Kutai Timur, terungkap kisah inspiratif dari para pelaku usaha binaan yang kini telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Acara yang berlangsung di tengah guyuran hujan sedang tidak menyurutkan semangat para peserta yang terdiri dari insan pers dan pelaku UMKM binaan untuk hadir dan berbagi pengalaman. Salah satu kisah inspiratif datang dari Dewi Yuliana, pemilik Lubna sekaligus founder Okusa, yang berbagi pengalaman transformatif selama menjalani program pembinaan PAMA.

Dewi memulai usaha Lubna pada 2012, namun baru bergabung dengan Lembaga Pemberdayaan Binaan (LPB) PAMA pada 2017. Perjalanan bisnisnya mengalami percepatan signifikan setelah mengikuti berbagai pelatihan intensif yang diselenggarakan PAMA pada 2018.

“Banyak sekali manfaat dari pelatihan yang diberikan PAMA untuk usaha yang saya gawangi,” ungkap Dewi di hadapan para jurnalis dan sesama pelaku UMKM yang hadir. Ia menjelaskan bahwa program pembinaan mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari manajemen pembukuan, pengembangan mentalitas wirausaha, hingga pelatihan teknis lainnya yang menurutnya “seperti di-brainwash” – mengubah total pola pikirnya sebagai pengusaha.

Transformasi bisnis Dewi sangat nyata. Jika sebelumnya hanya fokus pada jajanan pasar dengan skala kecil, kini usahanya telah mempekerjakan 20-25 karyawan dengan diversifikasi produk yang jauh lebih luas.

Salah satu pelatihan yang memberikan dampak signifikan adalah Quality Control System (QCS). Dewi mengakui bahwa implementasi sistem ini tidak hanya meningkatkan standar produk, tetapi juga berdampak ekonomis bagi bisnisnya.

“Pelatihan ini memiliki dampak positif atas usaha yang kami lakukan,” jelasnya kepada para peserta gathering yang tetap antusias meski cuaca hujan mengiringi acara tersebut. PAMA juga memfasilitasi pendampingan sertifikasi usaha dan produk, yang semakin meningkatkan kredibilitas usahanya di mata konsumen.

PAMA tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas produksi dan kualitas, tetapi juga membuka akses pasar bagi para binaannya. Produk Lubna kini dapat ditemukan di koperasi dan bahkan memiliki display khusus di bandara. Untuk memperluas jangkauan, PAMA juga mendampingi pelaku usaha dalam mengakses pasar online melalui strategi promosi berbayar di platform digital.

Tidak hanya itu, aspek finansial juga diperhatikan. PAMA memfasilitasi akses ke pembiayaan syariah sebagai solusi alternatif selain skema pembiayaan bergilir yang mereka support langsung.

 

Galeri Okusa: Pusat Produk Binaan PAMA

Kisah sukses lainnya datang dari Endang, pelaku UKM yang bergabung dengan PAMA pada 2017 setelah memulai usahanya pada 2016. Sebagai salah satu anggota Persit (Persatuan Istri Tentara), Bu Endang kini mengelola Galeri Okusa, tempat berkumpulnya berbagai produk kering hasil binaan PAMA.

“Kami diajari oleh PAMA terkait standar dan mutu produk,” tutur Bu Endang di tengah diskusi hangat dengan para wartawan yang hadir. Berkat konsistensi dalam menjaga kualitas, produk dari Galeri Okusa kini telah menyebar luas dan menjadi pilihan berbagai stakeholder yang membutuhkan produk lokal berkualitas.

Meski telah mencapai kesuksesan, Endang mengakui bahwa tantangan selalu ada, terutama dalam hal inovasi untuk menghasilkan olahan baru yang dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin dinamis.

Komitmen Pembinaan Berkelanjutan di Seluruh Site PAMA

Kesuksesan program pembinaan di Kutai Timur bukanlah fenomena terisolasi. PAMA secara konsisten menerapkan model pemberdayaan serupa di seluruh lokasi operasinya di Indonesia. Sebagai anak usaha PT Astra International Tbk yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, PAMA telah membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.

Di Kalimantan Selatan, PAMA juga membina puluhan UMKM lokal melalui program serupa yang berfokus pada pengembangan produk khas daerah dan kerajinan tangan. Sementara di Kalimantan Tengah, program pembinaan PAMA telah berhasil mengembangkan agribisnis lokal melalui budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti jahe merah dan okra.

“Program pembinaan PAMA dirancang untuk tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi membangun kemandirian ekonomi jangka panjang melalui pendampingan berkelanjutan,” jelas seorang perwakilan PAMA dalam acara tersebut.

 

Integrasi dengan Program CSR yang Komprehensif

Program pembinaan UMKM yang dilakukan PAMA merupakan bagian dari strategi CSR yang lebih luas. PAMA juga menjalankan program pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan infrastruktur di berbagai wilayah operasionalnya, yang terintegrasi dengan upaya pemberdayaan ekonomi.

Di Adaro, Kalimantan Selatan, PAMA bekerja sama dengan pemerintah daerah mengembangkan program pelatihan keterampilan teknis bagi pemuda lokal yang memungkinkan mereka bersaing di pasar kerja atau memulai usaha sendiri. Program ini telah melahirkan puluhan wirausaha muda yang bergerak di berbagai sektor, termasuk otomotif, kuliner, dan teknologi informasi.

Di Ombilin, Sumatera Barat, PAMA mengembangkan program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pengolahan pangan lokal yang telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 100 perempuan dari keluarga prasejahtera. Program ini bahkan telah berhasil mengekspor produk olahan ke beberapa negara tetangga.

Kisah Dewi, Bu Endang, dan banyak pelaku UMKM binaan lainnya, menjadi bukti nyata bagaimana program pembinaan PAMA tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal untuk berkembang secara mandiri dan berkelanjutan di seluruh wilayah operasi PAMA. Media gathering yang berlangsung di tengah hujan ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan insan pers dengan para pelaku UMKM binaan, sekaligus menjadi ajang berbagi inspirasi dan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Q)

Loading