Oleh: Dr. Hartono
(Dosen STAIS Kutai Timur/DPL Kelompok 11 dan Direktur Lingkar Masyarakat Madani)

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda. KKN yang bermula dari program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) yang diinisiasi almarhum Prof. Koesnadi Hardjasoemantri, lebih menekankan pada pengabdian masyarakat. Sementara KKL berfokus pada pengalaman praktis yang berkaitan langsung dengan bidang studi mahasiswa.

KKL menerapkan prinsip belajar tuntas, di mana mahasiswa diharapkan menguasai kompetensi standar secara individual. Kompetensi yang diukur mencakup pemikiran konseptual, keuletan, inisiatif, semangat berprestasi, hingga kemampuan berinteraksi sosial. Pendekatan partisipatori yang digunakan memungkinkan mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari.

Program ini memberi manfaat bagi berbagai pihak. Bagi mahasiswa, KKL membuka kesempatan mengembangkan wawasan keilmuan secara praktis dan mengumpulkan data untuk penulisan skripsi. Bagi kampus, program ini memperkaya materi perkuliahan dan memperluas jaringan kerja sama. Sementara bagi lokasi KKL, kehadiran mahasiswa dapat membantu menyelesaikan tugas-tugas lembaga dan membawa pengalaman baru bagi masyarakat.

Tahun ajaran 2023/2024, STAI Sangatta Kutai Timur menerjunkan 150 mahasiswa untuk KKL di Kecamatan Kaliurang (5 kelompok) dan Kecamatan Kaubun (8 kelompok). Program yang berlangsung selama 45 hari, mulai 1 Oktober hingga 14 November 2024, diawali dengan pembekalan komprehensif tentang penyusunan program, pendampingan, hingga teknis pelaksanaan kegiatan.

Minggu-minggu awal KKL memang terasa berat bagi mahasiswa karena proses adaptasi dengan lingkungan dan masyarakat baru. Namun, memasuki minggu ketiga dan keempat, pola relasi dan komunikasi biasanya sudah terjalin dengan baik. Kunci keberhasilannya adalah kemampuan menekan ego sektoral dan mengedepankan tujuan bersama.

Program yang dilaksanakan mencakup kegiatan fisik seperti pengadaan fasilitas publik dan gotong royong, serta kegiatan non-fisik berupa pendampingan, pembelajaran, penyuluhan, kajian, dan advokasi. Kedua jenis kegiatan ini penting sebagai implementasi teori yang telah dipelajari di kampus.

KKL STAI Sangatta tahun ini diharapkan memberi dampak positif bagi semua pihak: mahasiswa mendapat pengalaman berharga, kampus memperluas jejaring, dan masyarakat memperoleh manfaat nyata. Program semacam ini perlu terus dikembangkan sebagai jembatan antara dunia akademik dan realitas sosial.

Loading