JEMBER – Lima alumnus Universitas Jember (Unej) menjadi calon kepala daerah di Jawa Timur dalam pemilihan umum tahun ini. Saatnya Universitas Jember lebih memberikan ruang kepada organisasi mahasiswa ekstra kampus yang mencetak calon pemimpin.
Lima alumnus itu adalah Adi Wibowo (alumnus Fakultas Teknologi Pertanian, calon wali kota Pasuruan), Rio Prayogo (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, calon bupati Situbondo), Fattah Jasin (alumnus Fakultas Pertanian, calon bupati Pamekasan), Hari Wuryanto (Fakultas Hukum, calon bupati Madiun), Indah Amperawati Masdar (Fakultas Pertanian, calon bupati Lumajang).
Dari lima alumnus, empat di antaranya sempat menjadi wakil bupati di daerah masing-masing, kecuali Rio Prayogo. Rio sebelum mencalonkan diri dikenal sebagai direktur Politika Research and Consulting (PRC).
“Ini luar biasa. Ini bukan sesuatu yang instan. Mereka beproses di politik, terlibat di pemerintahan, melakukan interaksi dengan stakeholder dan stakeholder politik. Kami mendorong alumni untuk tumbuh berkembang dan memiliki kesempatan untuk memimpin daerah,” kata Ketua Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) Sarmuji, usai acara seminar nasional, di gedung Sutardjo, Kabupaten Jember, Jumat (30/8/2024) sore.
Jika lima alumnus tersebut terpilih, menurut Sarmuji, Universitas Jember punya kesempatan untuk memberi masukan tentang pembangunan yang daerah baik. “Memetakan potensi daerah dan melakukan coaching pengembangan manajemen daerah yang bagus. Unej punya peran dalam kontribusi ide pemikiran,” katanya.
Munculnya alumnus yang menjadi kepala daerah menjadi perhatian Kauje. “Kalau memang ada yang mau memulai dari sekarang, punya passion di situ, tentu kami akan ikut dorong agar mereka berkembang sejauh mungkin. Tapi ini juga tidak dipaksakan. Semua harus berproses, tidak bisa instan juga,” kata Sarmuji.
Mayoritas calon bupati itu adalah aktivis organisasi mahasiswa ekstra kampus pada zaman kuliah. Adi, Rio, dan Indah adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam pada masa kuliah, Hari adalah aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.
“Organisasi mahasiswa ekstra kampus adalah kawah kaderisasi. Sebenarnya itu harus distimulasi agar berkembang sehat. Kadang-kadang kalau tidak berkembang secara sehat tidak ada gunanya. Tapi kita harus memberi stimulasi agar mereka berkembang sehat,” kata Sarmuji
![]()

