Dr. Hartono
Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan dan Dosen STAIS Kutai Timur
Majelis ta’lim adalah suatu forum atau wadah belajar agama Islam yang sering diadakan di berbagai lapisan masyarakat Muslim. Tujuan utama dari majelis ta’lim adalah untuk meningkatkan pengetahuan agama, pemahaman, serta praktik/aktualisasi keagamaan para jamaahnya. Pengajian rutin bulanan Majelis Ta’lim Al Ihsan pada bulan September 2023 yang lalu bertempat di Desa Sidomulyo Kec. Kongbeng Kab. Kutai Timur dengan menghadirkan penceramah KH. Sigit Nur Sahid dari Yogyakarta. Beliau dakwah melalui pendekatan seni-budaya yang dikemas sedemikian rupa, ada gamelan lengkap sebagai pengiring suara, audio visual serta sound sistem yang memadai dan tak tertinggal wayang kulit sebagai alat utamanya.
Untuk mensintesakan pendekatan dakwa dan semangat membumikan moderasi beragama ditenagh kemajemukan anak bangsa, cara-cara dakwah yang humanis, kreatif serta mengakomodasi nilai-nilai budaya menjadi pilihan yang tepat untuk dihadirkan ditengah-tengah arus dakwah yang cendrung destruktif-eksklusif dan open media.
Moderasi beragama
Moderasi beragama adalah konsep yang mengacu pada pendekatan yang seimbang dan toleran terhadap praktik-praktik keagamaan dan keyakinan. Ini melibatkan sikap yang menghormati dan menghargai perbedaan agama dan keyakinan, serta berusaha untuk mempromosikan dialog yang konstruktif dan pemahaman antara individu dan komunitas berbeda dalam konteks keagamaan.
Berikut beberapa prinsip penting yang berkaitan dengan moderasi beragama; Pertama, Toleransi: Moderasi beragama melibatkan sikap toleransi terhadap keyakinan dan praktik-praktik keagamaan orang lain, bahkan jika mereka berbeda dari keyakinan pribadi seseorang. Ini berarti menghormati hak individu untuk memiliki keyakinan mereka sendiri. Inipun terkait dengan bagaimana cara dakwa diantara kita untuk saling menghormati antar sesama, jangan sampai amenghadirkan jatisfikasi serta klaim-kalim kebenaran secara sepihak. Kedua, Dialog dan Pemahaman: Moderasi beragama mendorong dialog antaragama yang terbuka dan konstruktif. Ini dapat membantu memecahkan stereotip, prasangka, dan ketidakpahaman antar kelompok keagamaan yang berbeda. Menghadirkan kesepahaman serata saling pengertian sangatlah penting dalam beragama jalan dialog, integrasi dan interkoneksi adalah pilihan yang seyogyanya mampu ditampilkan dipermukaan.
Ketiga, Penolakan ekstremisme: Moderasi beragama melibatkan penolakan terhadap ekstremisme dan kekerasan dalam nama agama. Ini berarti mendukung ajaran-ajaran yang mendorong perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan soal kekerasan, jikapun terpaksa muncul kepermukaan biasanya adalah lahir dari kedangkalan dalam mengartikulasikan pemahaman dan penafsiran atas agama yang diembanya.
Keempat, keharmonisan Sosial: Moderasi beragama bertujuan untuk menjaga kedamaian dan harmoni sosial. Ini berarti menghindari konflik dan penganiayaan yang mungkin timbul akibat perbedaan agama dan pemahaman keagamaan. Paling sederhana bolehlah kita berbeda dalam hal agama dan keyakinan namun satu hal yang selalu sama yakni kita sama-sama manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Artinya pesan harmonisosial dan semangat kemanusiaan tak boleh dikecilkan atau diabaikan.
. Kelima, Keadilan dan Kesetaraan: Prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan harus menjadi bagian integral dari moderasi beragama. Semua individu harus memiliki hak yang sama dan dihormati, tanpa memandang agama, keyakinan mereka, suku, golongan, aliran yang tumbuh subur dibum Indonesia. Kenyataan ini menjadi sunatullah yang musti dirawat dan dijaga dengan baik, sebab persatuan itu tidak musti dengan corok warna yang seragam namun dari keberagaman itu mampu menghadirkan warna-warna kehidupan yang kian beragam.
Akhirnya, moderasi beragama dinilai begitu penting dalam masyarakat yang multikultural dan multireligius, karena dapat membantu mencegah konflik agama dan mempromosikan kerukunan antaragama. Ini juga membantu membangun jembatan antara komunitas keagamaan yang berbeda dan memungkinkan individu untuk menjalani kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Dakwah Pendekatan Seni-Budaya
Selanjutnya dakwah dengan pendekatan seni budaya wayang kulit merupakan metode yang digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam atau pesan-pesan moral dengan menggunakan pertunjukan wayang kulit sebagai media komunikasi. Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang unik dan kaya akan makna, sehingga bisa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan agama secara efektif kepada masyarakat seperti yang pernah dipakai oleh para Wali Songo dalam dakwahnya.
Adapun beberapa aspek dalam pendekatan ini; Pertama tokoh-tokoh wayang, Dalam pertunjukan wayang kulit, tokoh-tokoh wayang memiliki peran yang beragam dan mewakili karakter tertentu. Tokoh-tokoh ini bisa digunakan untuk mewakili tokoh-tokoh dalam agama Islam, seperti Nabi Muhammad atau tokoh-tokoh yang mempunyai nilai-nilai moral yang tinggi. Kedua, cerita Islami. Dalang atau dai (pemimpin pertunjukan wayang kulit) dapat mengadaptasi cerita-cerita Islami ke dalam pertunjukan wayang. Ini bisa mencakup kisah-kisah dari Al-Quran, hadis, atau cerita-cerita moral Islami lainnya yang relevan. Ketiga, Pesan Moral. Pertunjukan wayang kulit dapat disusun dengan cara yang menggambarkan pesan-pesan moral dan ajaran agama secara jelas. Ini membantu audiens untuk memahami nilai-nilai Islam dan pesan-pesan etis dengan cara yang menarik.
Keempat, Musik dan seni visual. Pertunjukan wayang kulit juga melibatkan musik dan seni visual yang kuat. Ini dapat menambah daya tarik pertunjukan dan membuat pesan-pesan yang disampaikan lebih melekat di hati penonton. Kelima, dialog interaktif. Beberapa pertunjukan wayang kulit interaktif, yang berarti penonton dapat berinteraksi dengan tokoh wayang atau dalang. Ini dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan lebih lanjut, atau memfasilitasi diskusi mengenai ajaran agama dan yang terpenting dakwah melalui wayang kulit sering menggunakan bahasa lokal atau daerah, sehingga pesan-pesan agama dapat lebih mudah dipahami oleh jamaah yang hadir.
Dakwah dengan pendekatan/metode diatas diharapkan mampu memberi warna, membangun kerekatan, cinta akan budaya namun secara subtanstif tidak menghilangkan pesan moral-agama yang disampaikan. Nampak serta terlihat jelas dari sorotan camera acara pengajian Majelis Ta’lim Al Ihsan di Masjid Miftahul Jannah Ds. Sidomulyo Kec. Kongbeng jamaahnya begitu atusias dan mendengarkan dengan seksama, semoga semua ini menjadi mafaat dan keberkahan untuk kita bersama.
![]()

