KUTAI TIMUR – Kegiatan pertambangan yang dilakulan oleh PT. APE yang berlokasi di Desa Rantau Makmur, Kecamatan Rantau Pulung diduga menimbulkan pencemaran air di hulu Sungai Sangatta.
Dikonfirmasi terkait dugaan tersebut, KTT Tambang PT. APE, Ahmad Wasrip, melalui telepon pribadinya menyebutkan bahwa dirinya tengah berada di luar kota dan meminta agar awak media tidak secara langsung menghubunginya namun terlebih dahulu lewat External Relation Perusahaan.
“Kalau mau ada apa-apa ke External dulu, jangan langsung seperti ini, gak langsung melalui telepon, dikomunikasikan dulu ke external,” ucapnya, Senin (13/03/2023).
Dalam wawancara singkat tersebut dirinya juga mengirimkan contact person dari external relation dari perusahaan tambang tempatnya bekerja kepada awak media.
Namun, saat dihubungi baik melalui telepon maupun layanan pesan singkat sekira pukul 10.43 Wita, terkait dugaan pencemaran tersebut, External Relation dari PT. APE yang disebutkan oleh Ahmad Wasrip tidak memberikan respon.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutim, Armin, meminta agar temuan tersebut dikoordinasikan dengan PPLH DLH Kutim, karena dirinya tengah menuju Balikpapan karena ada kegiatan dinas yang dihadiri.
“Langsung komunikasi sama PPLHD Kutim. Saya tengah persiapan untuk kegiatan di Balikpapan. Nanti setelah selesai kegiatan kita ketemu,” ucapnya.
Sebelumnya, salah seorang warga Kecamatan Sangatta Utara yang tengah memancing di sekitar lokasi kejadian menuturkan bahwa dalam hujan deras yang mengguyur Kecamatan Rantau Pulung pada hari Minggu 13 Maret 2023 kemarin sekira mulai pukul 16.00 Wita, air dari dalam tambang yang berwarna coklat pekat ke abu- abuan tampak menuruni batas antara wilayah tambang tersebut dengan kebun warga.
Sejumlah titik yang tepat berada di bawah batas tambang menurutnya juga nampak mengalami kondisi yang serupa. Bahkan di beberapa lokasi nampak tergenang setinggi lutut orang dewasa.
“Diduga bercampur lumpur, karena diatas adalah timbunan tanah yang berasal dari dalam tambang perusahaan. Aliran ini langsung menuju Sungai (Hulu Sungai Sangatta) lewat kebun warga,” ujar salah seorang warga yang dapat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut dan meminta identitasnya tidak disebutkan.
Untuk diketahui, dugaan terkait pencemaran air di Hulu Sungai Sangatta tersebut menyeruak pasca hujan lebat yang melanda Rantau Pulung mengakibatkan turunnya air dari wilayah kerja tambang ke arah hulu Sungai Sangatta secara langsung melalui kebun masyarakat yang berbatasan langsung dengan wilayah kerja tambang.
Didampingi oleh warga, media ini mencoba menelusuri wilayah pinggiran batas dari perusahaan tambang dan kebun warga. Dalam kondisi tersebut, ditemukan juga adanya genangan air yang diduga bercampur lumpur setinggi lutut orang dewasa di Kebun karet warga.
Dari penelusuran itu juga didapati bahwa aliran air yang berasal dari tambang ke kebun karet milik warga mengalir langsung ke bibir Hulu Sungai Sangatta terdekat yang berjarak sekira 100 meter dari batas tambang tersebut.(Q)
![]()

