Opini by: Penjaga Portal

Tugas utama pelayan adalah memberikan pelayanan yang prima sebagai abdi terhadap majikan. Menjalankan fungsi menyelenggarakan tugas-tugas rumah tangga, kebersihan dan pelayanan kepada yang mempekerjakan.

Pelayan mempunyai beban berat dalam upaya menghadapi persaingan yang tinggi dari sejawatnya, baik yang berasal dari penyalur tenaga kerja ataupun perseorangan dalam menghadapi berbagai tuntutan untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.

Pelayan yang qualified juga harus mempunyai produktivitas tinggi, bermutu, sadar akan tanggung jawabnya sebagai abdi dalam rumah tangga serta mampu menjadi perekat dan pemersatu dalam lingkup keluarga yang memberinya tanggung jawab.

Namun dewasa ini, pelayan dengan berbagai peranan yang diembannya seolah memiliki ‘kekuasaan lebih’ daripada yang mempekerjakannya, memberinya nafkah, akomodasi, dan kehidupan yang layak.

Hal ini sangat kental terasa dan dialami oleh sebagian besar majikan. Contoh yang paling dasar adalah terkait pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Majikan harus meminta dan berteriak agar tugas dan tanggung jawab pelayanan dilakukan optimal (terkadang itupun hanya di note aja tanpa direspons).

Kejadian tersebut diperparah dengan adanya antek dan kroni dari sang pelayan yang membuat koalisi memberi dukungan atas sikap tidak responsif yang diberikan. Bahkan para antek ini pun berani dan terang terangan meminta terkait suatu hal yang tentunya dapat mempengaruhi standar dan kualitas dari pelayanan sang pelayan.

Bermodalkan janji dukungan dan persentase atas kerjaan yang dilakukan, kroni dan antek inipun semakin hari semakin menggerogoti kinerja dari sang pelayan. Nominal dan janji yang diberikan juga turut membuat banyak pelayan yang beriman tipis silap mata. Bahkan tak jarang mengorbankan integritas mereka sebagai pelayan demi kepingan dan pundi uang.

Tentunya, kejadian yang sudah berlarut dan menghilangkan kehormatan sang pelayan serta mengikis kepercayaan dari pemberi amanah ini pun telah menjadi sorotan banyak mata. Namun meski demikian tak dapat jua disuarakan lantang.

Ketakutan sang majikan atas perilaku kroni-kroni sang pelayan yang siap menempuh segala cara untuk mengamankan piring nasi mereka yang dibebankan di pundak sang pelayan menjadi sebab utama. Ditambah lagi sikap materialistis beberapa majikan lainnya turut menambah suburnya perilaku yang dapat dikategorikan pelanggaran atas kepercayaan itu.

“Dulu pelayan itu berbakti, mengabdikan diri sepenuh hati kepada majikannya, menjaga dan merawat serta melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tanpa disuruh, dekat dengan majikannya. Sekarang hal itu berbalik 180 derajat, majikan kalah sama pelayannya sendiri,”ungkap salah seorang majikan sambil tersenyum getir melihat kenyataan yang ada saat ini.

Dirinya juga menyebutkan bahwa sebelum terpilih, pelayan tersebut akan dengan senang hati membantu, bahkan tanpa disuruh pun dan hanya berbekal informasi dari antek dan kroninya, dia akan bekerja untuk menyikapi informasi yang diterima.

“Sebelum terpilih dari sekian banyak kandidat pelayan, kerjanya luar biasa, perhatiannya luar biasa, propaganda yang dibuat oleh kroni dan anteknya pun luar biasa memukau dan menyilaukan mata. Namun setelah jadi dan terpilih, hasilnya zonk. Mungkin karena beban akan publisitas yang didanai oleh antek dan kroninya yang harus dibayar lunas beserta bunganya menurunkan kinerja pelayan yang dipilih,”ucapnya.

Tidak salah apa yang diucapkan majikan tersebut apabila melihat realita di lapangan, tugas yang diberikan oleh majikan kepada pelayan tersebut semua dikuasai oleh antek dan kroninya, sebut saja tugas untuk membangun jalan rumah, perbaikan, pelaksananya adalah para antek yang sebelumnya melakukan propaganda saat ajang Pelayan Got Talent yang dilakukan untuk memilih pelayan terbaik.

Terkait hasil atau kinerja, tentunya jangan ditanya, jauh dari sempurna, karena ada pemotongan yang dilakukan. Kenapa demikian? Karena jika hal itu tidak dilakukan, jangankan bunga, modal yang dikeluarkan oleh para antek itu tidak kembali.

Lebih parahnya lagi para antek ini juga mempengaruhi kebijakan yang dikeluarkan oleh pelayan terkait kepentingan keluarga majikan. Bagi mereka kebijakan itu layak apabila mengakomodir sebagian besar, ya sebagian besar kepentingan mereka, bukan kepentingan majikan dan keluarganya.

Mendekati ajang Pelayan Got Talent di tahun mendatang banyak dari para majikan itu saat ini berupaya bangun dari kesalahan sebelumnya dan berupaya mencari bibit unggul sebenarnya yang mau kerja, yang mau mengabdi. Bukan yang hanya pencitraan belaka yang dampaknya signifikan dan luar biasa menyengsarakan majikan.

“Ya beginilah kalo majikan terlena karena dikira yang dipilihnya adalah berlian namun ternyata dapat pelayan yang hanya baik casingnya lupa daratan pula, bonyok semua, kalah majikan sama pelayannya. Saat ini belum tentu apa yang direkomendasikan oleh penyalur pelayan ini kualitasnya baik. Masih harus pilih pilih…apalagi yang asalnya daari ajang kontestasi, biasanya banyak pencitraannya doang,”ujar majikan yang juga kena prank dalam memilih pelayan.

Loading