Dr. Hartono
(Wali Murid Siswi SDIT Bina Insan Muara Wahau)
Bersikap baik, berprilaku baik sesungguhnya fitrah itu sudah ada dalam diri setiap individu tanpa harus dituntun atau dipaksakan sekalipun. Sebagai tamsil sederhana mengapa setiap kita suka menolong, suka membantu dan sebaliknya tidak suka mengambil barang yang bukan milik kita, sesungguhnya dalam diri kita telah ada fitrah kebaikan-scrining sejak kita dilahirkan.
Pengejawatahan nilai-nilai kebaikan itu antara lain hadir dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter dinilai sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak usia SD karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur.
Potensi karakter yang baik telah dimiliki setiap manusia sejak dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan anak sejak usia dini. Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (social-pendidikan). Bagaimanapun sosok guru dapat menjadi inspirasi, figure, contoh dan suri tauladan yang dapat mengubah karakter anak didiknya menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan. Senada dengan fitrah kebaikan diatas, maka Ki Hadjar Dewantara juga meyampaikan semboyanya “Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso” yang memiliki arti “dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan, menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suritauladan, seseorang ditengah kesibukanya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat”.
Kemudian, setidaknya ada 5 karakter dasar yang musti ditanamkan kepada anak didik kita. Pertama, Karakter relegius. Kedua, cinta kebersihan dan lingkungan. Ketiga, sikap jujur. Keempat, rasa peduli, dan Kelima, rasa cinta tanah air. Dari kelima karakter dasar tersebut, maka pointer keempat yang akan dibahas opini ini sesuai tematik pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kelas 6 SD. Pada pelajaran Pendidikan Agama Islam, penerapan dan aktualisasi rasa peduli terhadap sesama diawali dengan penyampaian materi oleh guru dikelas masing-masing kemudian materi-teori itu dipraktekan dengan nyata.
Adanya infak harian di SDIT Bina Insan yang dikelola langsung oleh wali kelas menjadi awal dari kegiatan rasa peduli atas sesama. Dana-dana yang terkumpul terus diakumulasikan sampai dana itu benar-benar mencukupi untuk disampaikan kepada yang berhak mendapatkanya, tentu para siswa didampingi oleh dewan guru untuk belanja sampai meyalurkanya.
Pendidikan karakter model seperti ini dengan pemahaman teori dan praktik secara langsung sangatlah baik dan bermanfaat sekali. Anak-anak sejak dini diberikan pembelajaran, pemahaman dan pendampingan secara tepat sehingga diharapkan esok ketika sudah besar dan hidup ditengah-tengah masyarakat rasa peduli atas sesama/tengang rasa akan terus hadir dan paripurna.
Menjadi sangat urgen lagi manakala kita acapkali melihat kehidupan modern saat ini dengan egosentrisnya yang tinggi, indivudualismenya yang menonjol serta rasa dan kepekaan sosial yang begitu rendah. Jika hal ini yang terus terjadi tanpa dipupuk sedini mungkin dengan nilai-nilai kebaikan dan pendidikan karakter yang tepat bagi anak didik kita maka generasi yang akan datang bisa jadi menjadi generasi yang mengalami kemunduran dalam pendidikan karakter.
![]()

