Dr. Hartono
Dosen STAIS Kutai Timur & Sekertaris Majelis Ta’lim Al Ihsan

Dua puluh empat tahun yang lalu, penulis pernah menginjakan kaki dan belajar di kota raja atau kota Tenggarong. Tepatnya di PPKP Ribatul Khail sebagai tempat menimba ilmu ketika itu. Pengulangan perjalanan itu menjadi perjalanan romantik untuk selalu dikenang, diabadikan sebagai cerita indah untuk dikisahkan dikemudian hari.

Terlebih, kota Tengarong saat ini mengalami perubahan yang sangat luar biasa, kotanya tertata rapi, jembatan menjadi iconic dengan kemegahanya dan tak terkecuali hadirnya beberapa lembaga pendidikan pesantren yang sangat diminati oleh para santri terutama PPIQ Miftahul Ulum.

Sedikit mempelajari sejarah pondok pesantren, dalam buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, pesantren disinyalir merupakan hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara. Kala itu, lembaga pendidikan lokal berupa padepokan dan dukuh banyak didirikan untuk mendidik para cantrik.

Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren dicirikan dengan tiga hal, ketiganya yakni santri, kiyai, pondokan dengan kajian kitab kuningnya. Pemaknaan dan tradisi ini terus berkembang pesat terutama dipesantren-pesantren yang ada dipulau Jawa dan Madura dan sampai hari ini banyak mengalami moderenisasi.

Sejarah mencatat, Pertama, bagaimanapun pendidikan ala pesantren harus diakui sebagai pendidikan yang memiliki karakter khas Indonesia, dan ini sangat mungkin tidak diketemukan dibelahan bumi manapun. Kedua, dipesantren pendidikan karakter dibentuk dengan sedemikian rupa.

Sebut saja perihal leadership/jiwa kepemimpinan bagi para pengelola, dan santri sangat ditekankan (tidak boleh menjadi pribadi yang lemah, cengeng, mudah mengeluh dst).

Karakter selanjutnya yakni kemandirian selalu diajarkan di pesantren, kita diajarkan untuk melakukan segala aktifitas secara mandiri (mencuci, masak, dan masih banyak lagi) dimana cara dan pembentukan karakter ini mungkin tidak kita ketemukan dilembaga pendidikan yang lainya.

Dua hal diatas yakni kekhasan lembaga pendidikan pesantren ala Indonesia dan pemebentukan karakter building yang terus ditanamkan, tentu pesantren telah dan terus memberi kontribusi yang luar biasa dalam mencerdaskan anak bangsa.

Terbukti banyaknya para alumni pesantren yang mampu bersaing diberbagai perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri, jabatan-jabatan strategis juga mampu diembanya sebagai bentuk pengabdian tanpa henti. Lebih dari itu pendampingan masyarakat secara kultural juga menjadi ladang yang terus digarap sampai detik ini.

Artinya apa, santri saat ini ketika menguasai ilmu agama tidak boleh berhenti sampai disitu saja, ilmu umum, ilmu organisasi, ilmu aplikatif, ilmu teknologi sampai ilmu bisnis juga harus dikuasai oleh para alumni santri sehingga terjadi integrasi keilmuan dan keagamaan secara utuh dan konferhenship.

Berangkat dari argumentasi diatas, senang rasanya penulis ketika dibersamai oleh Kiyai Hamzah Arfa S.Pd., M. Pd dan Kiyai Muda penuh prestasi Imam Wahyudi, S.Pd (selaku pengasuh PPIQ Miftahul Ulum) dalam kunjungan di Ponpes yang beliau asuh.

Beliau bercerita ponpes PPIQ berdiri baru dua tahun yang lalu tepatnya 16 Maret 2020 dan saat ini santrinya sudah mencapai 200 dan mendekati 300 santri. Tentu ini prestasi yang luar biasa sebab dengan usia yang relative muda (baik pengasuh dan lembaga yang ada) sudah mampu memberi kontribusi yang luar biasa.

Ditambahkan oleh beliau “Di Pesantren yang ada saat ini sedang membangun Masjid Jami’ dengan luasan 17m persegi, dan beliau juga menambahkan bahwa dipesantren program-program unggulan untuk membentuk generasi qurani ada beberapa; Pertama program tilawati, Kedua program hafalan quran 30 juz, Ketiga bilingual (program dua bahasa Arab & Inggris), Keempat program akselerasi membaca kitab dengan metode al miftah”.

Untuk mewujudkan program tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar maka beliau mendatangkan para guru/ustadz dari berbagai pesantren yang ada dipulau Jawa dan Madura.

Bagi penulis dan juga orang tua hadirnya PPIQ Miftahul Ulum yang beralamatkan di Jl. Usaha Tani Mangkurawang, Tengarong Kab. Kutai Karta Negara Kaltim menjadi oase dan angin segar sebagai tempat untuk mendidik anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita tidak memiliki bekal ilmu agama yang cukup sehingga ia lalai terhadap perintah Allah dan juga bakti kepada kedua orang tuanya.

Pun demikian, pesan yang coba penulis titipkan kepada para santri/I di PPIQ Miftahul Ulum Tengarong antara lain “sabar dalam menjalani pendidikan ini, jangan lupa untuk terus melatih diri dengan puasa, sholat jamaah tidak boleh ditinggalkan serta ta’dzim pada guru/ustad tidak boleh alfa”.

Sebagai penutup, penulis punya keyakinan yang tinggi pada lembaga yang ada yakni PPIQ Miftahul Ulum dengan penguatan SDM dan SDA yang terus diperjuangkan oleh pengasuh, maka jangan ragu untuk mengirimkan anak-anak kita untk “nyantri” dipondok pesantren tersebut. InsyaAllah kebaikan dan keberkahan dalam menuntut ilmu bisa kita peroleh nantinya. (*)

Loading