Oleh: Muhlisin, M.Sosio
Peneliti Pilar Merdeka Riset dan Penikmat Kopi Ijen-Argopuro
IJEN kembali menjadi perhatian ketika Ijen Geopark Run 2026 digelar pada 23 Agustus. Sebanyak 839 pelari mengikuti event tersebut di Paltuding. Nama Ijen memang menjadi identitas utama kegiatan, tetapi menarik melihat bagaimana event itu kemudian terhubung dengan berbagai atraksi, kuliner, budaya, dan agenda pariwisata Banyuwangi. Di sisi lain, bagi Bondowoso, kegiatan tersebut terasa seperti sebuah event yang berjalan relatif terpisah dari rangkaian atraksi dan agenda pariwisata daerahnya, meskipun Paltuding dan kawasan Ijen juga memiliki keterkaitan langsung dengan Bondowoso.
Ijen Geopark Run 2026 juga bukan sekadar event olahraga lokal. Ia menjadi titik awal Geopark Run Series 2026–2027 yang menghubungkan empat destinasi geopark di Indonesia: Ijen, Minang, Ciletuh, dan Belitong. Setelah Ijen, rangkaian ini akan berlanjut ke tiga geopark lainnya. Posisi sebagai seri pembuka memberi Ijen panggung untuk hadir bukan hanya sebagai kawasan, tetapi sebagai pengalaman yang dikemas melalui olahraga, wisata, budaya, dan promosi. Di sini terlihat bagaimana status geopark dapat bergerak menjadi sebuah narasi yang terus diproduksi dan dipertukarkan. Pertanyaan penting kemudian muncul: ketika Ijen menjadi
narasi, siapa yang mampu mengubahnya menjadi nilai?
Ijen Geopark telah menjadi lebih dari sekadar status. Ia adalah narasi tentang alam, geologi, budaya, pariwisata, ekonomi, dan identitas kawasan. Namun, status tidak dengan
sendirinya menghasilkan nilai. Nilai muncul ketika pengakuan tersebut mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan, atraksi, infrastruktur, investasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Banyuwangi tampak lebih konsisten menjadikan Ijen sebagai bagian dari ekosistem pariwisata. Ijen tidak berhenti pada kawah, tetapi dihubungkan dengan event, destinasi lain, kuliner, budaya, promosi, hingga pengalaman wisata. Event tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan berbagai pengalaman wisata dan memperkuat citra daerah.
Bondowoso sebenarnya memiliki modal yang tidak kalah penting. Kawasan Ijen, Kawah Wurung, perkebunan, kopi, budaya, desa wisata, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat dapat ditempatkan dalam narasi besar geopark. Namun, persoalannya bukan sekadar seberapa banyak potensi yang dimiliki, melainkan seberapa kuat potensi tersebut dihubungkan menjadi pengalaman kawasan dan diterjemahkan menjadi nilai.
Pengalaman tersebut bahkan dirasakan oleh warga lokal Ijen. Dalam percakapan publik, muncul pandangan bahwa kampanye Ijen dari sisi Banyuwangi terasa lebih gencar dibandingkan Bondowoso. Perbedaan itu tidak hanya terlihat dari promosi, tetapi juga dari pengalaman akses.
Jalur menuju Ijen dari arah Banyuwangi dinilai lebih baik sehingga wisatawan lebih mudah memilih jalur tersebut. Persepsi warga ini menunjukkan bahwa perebutan narasi tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan infrastruktur dan pengalaman nyata wisatawan.
Dalam perspektif sosiologi digital, kekuasaan dan pengaruh semakin banyak bekerja melalui kemampuan memproduksi narasi. Sesuatu yang terus diberitakan, divisualisasikan,
dibagikan, didiskusikan, dan diperdebatkan akan semakin kuat hadir dalam kesadaran publik. Sebuah tempat tidak hanya dikenal karena keberadaan fisiknya, tetapi juga karena seberapa intens ia diproduksi sebagai cerita.
Ijen Geopark Run memperlihatkan proses tersebut. Sebuah kawasan alam diterjemahkan menjadi event, kemudian menghasilkan berita, foto, video, unggahan media sosial, pengalaman
peserta, dan percakapan publik. Nama Ijen bergerak dari ruang geografis menjadi pengalaman yang dapat dikonsumsi dan dibicarakan. Di situlah nilai simbolik dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Dalam konteks ini, Banyuwangi menunjukkan kemampuan relatif kuat dalam memproduksi dan memperkuat narasi Ijen. Ijen terus hadir melalui berbagai agenda sehingga semakin kuat dalam perhatian publik. Bondowoso menghadapi tantangan berbeda: bagaimana memastikan potensi dan status yang dimilikinya juga hadir dalam narasi publik dan
diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi masyarakat.
Bondowoso tentu tidak harus melawan Banyuwangi. Keberhasilan Banyuwangi justru dapat menjadi cermin bahwa Ijen bisa bekerja sebagai modal pembangunan ketika dikelola
secara konsisten. Pertanyaannya adalah apakah Bondowoso telah cukup mampu menemukan cara untuk membangun narasi Ijennya sendiri.
Pertanyaan tersebut semakin penting setelah proses revalidasi Ijen UNESCO Global Geopark selesai pada awal Agustus 2026. Revalidasi semestinya tidak dipahami hanya sebagai proses administratif untuk mempertahankan status UNESCO, tetapi menjadi momentum mengevaluasi apa yang telah dihasilkan bagi masyarakat dan pembangunan kawasan. Status UNESCO adalah modal simbolik yang nilainya baru muncul ketika diterjemahkan menjadi
konservasi, pendidikan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, investasi, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi.
Di sinilah Bondowoso membutuhkan cara pandang yang lebih strategis. Ijen tidak cukup diperlakukan sebagai urusan pariwisata semata. Kopi, pertanian, budaya, UMKM, desa wisata, kuliner, pendidikan, dan ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari narasi geopark. Semuanya membutuhkan orkestrasi agar tidak berjalan sebagai kegiatan yang terpisah-pisah.
Gagasan kerja sama kawasan melalui aglomerasi dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat keterhubungan tersebut. Namun, yang lebih penting bukan keberadaan kesepakatan, melainkan kemampuan menerjemahkannya ke dalam tindakan. Ijen harus menjadi ruang yang memungkinkan berbagai potensi daerah saling terhubung, bukan sekadar nama yang dipakai bersama. Geopark bukan hanya soal apa yang ada di dalam peta. Ia juga soal siapa yang mampu membuat peta itu hidup dalam imajinasi publik.
Banyuwangi telah menunjukkan bahwa Ijen dapat menjadi event, pengalaman, promosi, dan bagian dari ekosistem ekonomi wisata. Bondowoso memiliki peluang yang sama, tetapi membutuhkan kemampuan lebih kuat untuk mengubah potensi menjadi narasi dan narasi menjadi nilai. Ijen sudah memiliki nama besar, pengakuan UNESCO, lanskap alam, serta
kebudayaan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Yang masih dipertaruhkan adalah kemampuan mengelolanya.
Di era ketika realitas semakin dibentuk oleh narasi, memiliki Ijen belum tentu berarti memiliki nilainya. Nilai lahir ketika Ijen mampu diceritakan, dihidupkan, dan diubah menjadi pengalaman serta manfaat nyata bagi masyarakat.
![]()

