KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 25
Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم
وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Dan mereka berkata, ‘Kapankah janji itu (hari kebangkitan dan azab) akan terjadi, jika kalian memang orang-orang yang benar?’”
—QS. Al-Mulk Ayat 25
Penjelasan Tematik
Pada ayat sebelumnya Allah menegaskan bahwa seluruh manusia akan dikumpulkan kembali kepada-Nya.
Namun tidak semua orang menerima peringatan itu dengan hati yang terbuka.
Sebagian justru merespons dengan nada meremehkan dan menantang.
وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ
“Dan mereka berkata, kapankah janji itu akan terjadi?”
Yang dimaksud dengan al-wa‘d di sini adalah janji tentang hari kebangkitan, hari perhitungan, dan kepastian datangnya akhirat.
Mereka tidak bertanya karena ingin belajar.
Mereka tidak bertanya karena ingin memahami.
Mereka bertanya karena ingin mengejek dan meragukan.
Ketika Pertanyaan Bukan untuk Mencari Kebenaran
Tidak semua pertanyaan lahir dari ketulusan.
Ada pertanyaan yang lahir dari keingintahuan.
Ada pertanyaan yang lahir dari pencarian ilmu.
Tetapi ada juga pertanyaan yang lahir dari penolakan.
Orang-orang kafir pada masa itu bukan tidak memahami pesan Rasulullah SAW.
Mereka memahami.
Namun mereka tidak ingin menerimanya.
Karena menerima kebenaran berarti harus mengubah cara hidup mereka.
Dan perubahan sering kali terasa lebih berat daripada penolakan.
Psikologi Penundaan Keyakinan
Dalam psikologi modern terdapat konsep motivated skepticism yaitu kecenderungan seseorang meragukan sesuatu bukan karena kurang bukti, tetapi karena ia tidak menyukai konsekuensi dari kebenaran tersebut.
Jika hari kebangkitan benar adanya, maka manusia harus bertanggung jawab.
Jika akhirat benar adanya, maka manusia tidak bisa hidup sesuka hati.
Karena itu sebagian orang memilih terus meragukan agar tidak perlu berubah.
Mengapa Mereka Meminta Waktu ?
إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Jika kalian memang orang-orang yang benar.”
Kalimat ini mengandung nada tantangan.
Seolah mereka berkata :
“Kalau memang benar akan terjadi, tunjukkan sekarang.”
Padahal banyak kenyataan dalam hidup yang pasti terjadi meskipun waktunya tidak diketahui.
Kematian adalah kepastian.
Tetapi tidak seorang pun tahu kapan waktunya.
Hari tua adalah kepastian.
Tetapi tidak seorang pun tahu kapan kekuatan fisiknya mulai melemah.
Demikian pula hari kiamat.
Kepastiannya tidak bergantung pada pengetahuan manusia tentang waktunya.
Masalahnya Bukan Kapan, Tetapi Apakah Kita Siap
Salah satu pelajaran penting dari ayat ini adalah :
manusia sering sibuk menanyakan waktu, tetapi lupa mempersiapkan diri.
Banyak orang bertanya :
√ Kapan kiamat?
√ Kapan kematian?
√ Kapan hari pembalasan?
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah :
Apakah aku siap jika itu terjadi hari ini?
Karena mengetahui tanggal tidak akan banyak berguna jika persiapan tidak dilakukan.
Keinginan Melihat Bukti yang Instan
Di era modern, manusia terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat.
Informasi cepat. Hasil cepat. Jawaban cepat.
Akibatnya muncul kecenderungan hanya mempercayai sesuatu yang dapat dilihat secara langsung.
Dalam psikologi terdapat istilah immediacy bias yaitu kecenderungan manusia lebih memedulikan sesuatu yang langsung terlihat dibanding sesuatu yang dampaknya akan muncul di masa depan.
Karena itulah banyak orang mengabaikan akhirat.
Bukan karena tidak masuk akal.
Tetapi karena tidak terlihat secara langsung.
Iman Adalah Kemampuan Melihat Melampaui yang Tampak
Orang beriman tidak hanya hidup berdasarkan apa yang terlihat oleh mata.
Ia juga hidup berdasarkan apa yang diyakini oleh hati.
Ia percaya adanya ruh meskipun tidak melihatnya.
Ia percaya adanya cinta meskipun tidak dapat ditimbang.
Ia percaya adanya Allah meskipun tidak dapat dilihat dengan mata dunia.
Dan ia percaya akan adanya hari akhir karena Allah telah mengabarkannya.
Karena tidak semua realitas dapat ditangkap oleh pancaindra.
Sejarah Manusia dan Kesalahan yang Sama
Menariknya, sikap seperti ini terus berulang sepanjang sejarah.
Kaum Nabi Nuh meminta bukti.
Kaum Nabi Hud meminta bukti.
Kaum Nabi Shalih meminta bukti.
Kaum Quraisy meminta bukti.
Masalahnya bukan kurangnya bukti.
Tetapi hati yang enggan menerima.
Karena hati yang tertutup akan selalu menemukan alasan untuk menolak.
Pelajaran Kehidupan
Maka jangan jadikan keraguan sebagai alasan untuk menunda perbaikan diri.
Karena tidak semua kepastian datang dengan tanggal yang diketahui.
Selain itu, jangan hanya sibuk mencari jawaban tentang masa depan, tetapi persiapkan diri untuk menghadapinya.
Sebab orang yang bijak tidak hanya bertanya kapan sesuatu akan terjadi, tetapi juga mempersiapkan diri sebelum hal itu terjadi.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa keimanan memerlukan kerendahan hati.
Karena orang yang terlalu sombong sering kali menolak sesuatu bukan karena salah, tetapi karena tidak ingin tunduk.
Kadang manusia meminta bukti yang lebih banyak, padahal bukti yang sudah ada sebenarnya telah cukup.
Yang kurang bukan bukti, melainkan kesiapan hati untuk menerimanya.
Dan semakin seseorang mendekat kepada Allah, semakin ia memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang terlihat hari ini, tetapi juga tentang apa yang menanti di balik kehidupan ini.
Saudara…,
Ayat ini mengandung pertanyaan yang sesungguhnya masih bergema hingga hari ini.
Banyak orang bertanya :
“Kapan kiamat ?”
“Kapan hari pembalasan ?”
“Kapan janji Allah itu terjadi ?”
Namun Al-Qur’an mengajak kita mengajukan pertanyaan yang berbeda :
Jika itu terjadi malam ini, apakah kita siap ?
Karena yang paling penting bukan mengetahui waktunya.
Tetapi mempersiapkan diri menyambutnya.
Seseorang yang benar-benar sadar akan kepastian akhirat tidak akan menghabiskan hidupnya untuk mengejek peringatan.
Ia akan menggunakan waktunya untuk memperbaiki diri.
Sebab setiap hari yang berlalu sesungguhnya sedang membawa kita semakin dekat kepada janji yang pasti itu.
Janji yang mungkin belum kita ketahui waktunya.
Tetapi pasti akan kita temui.
Wallahu A‘lam.
Samarinda, 15 Juni 2026
![]()

