KUTAI TIMUR – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Benua Kabupaten Kutai Timur saat ini melayani 50.325 pelanggan aktif dari total 51.185 sambungan yang terpasang. Hal ini disampaikan Direktur Utama PDAM Kutai Timur, Suparjan, dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan media ini, Kamis (14/8/2025).
Dari 51.185 sambungan yang terpasang, terang Suparjan, terdapat selisih 860 sambungan yang belum aktif dalam sistem penagihan bulan ini. Menurut Parjan, selisih tersebut disebabkan adanya sambungan dalam proses penutupan dan sambungan baru yang masih dalam tahap memasuki sistem rekening.
“Totalnya 51.185 sambungan yang terpasang di Tahun 2025 ini, yang sudah aktif 50.325 pelanggan,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Kecamatan Sangatta Utara menjadi wilayah dengan konsentrasi pelanggan terbesar, mencapai sekitar 26.000 hingga mendekati 27.000 pelanggan, meski belum menembus angka 27.000. Wilayah ini diikuti oleh Sangatta Selatan sebagai area dengan jumlah pelanggan terbesar kedua.
Di sisi lain, Manubar tercatat sebagai wilayah dengan pelanggan terendah, hanya memiliki sekitar 50 sambungan. Rendahnya jumlah pelanggan di wilayah ini disebabkan keterbatasan jumlah penduduk dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan perluasan jaringan ke arah laut.
“Yang terbesar jumlah pelanggannya masih di Sangatta Utara dan yang terkecil di Manubar,” katanya.
Ia pun menuturkan bahwa PDAM Kutai Timur memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 675 liter per detik pada tahun 2025. Namun, kapasitas yang berhasil didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat mencapai angka yang sama persis dengan kapasitas produksi karena berbagai faktor teknis dalam sistem distribusi.
“Enggak bisa plek ketiplek lah. Pasti ada perbedaan. Kan ada faktor kebocoran,” ungkapnya menjelaskan mengapa angka produksi dan distribusi tidak dapat sama persis.
Hasil audit tahun buku 2024, lanjutnya, menunjukkan tingkat kebocoran PDAM Kutai Timur mencapai 15 persen, angka yang masih berada jauh di bawah batas maksimal nasional yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum sebesar 25 persen.
Parjan menjelaskan bahwa kebocoran tersebut bervariasi dari tahun ke tahun dan umumnya dipengaruhi oleh unit-unit baru yang mempengaruhi tingkat kebocoran pada periode awal operasional. Kebocoran yang terjadi terbagi menjadi dua kategori, yaitu kebocoran fisik dan non-fisik.
Kebocoran fisik umumnya disebabkan oleh meter pelanggan yang sudah tua dan memerlukan penggantian, serta meter induk yang perlu dikalibrasi ulang untuk menjaga akurasi pengukuran. Sementara itu, kasus pencurian air yang sempat menjadi permasalahan di masa lalu kini hampir tidak ada lagi.
“Kalau dulu-dulu memang ada, kalau sekarang ini hampir ya saya belum pernah terima laporan itu,” kata Parjan mengenai kasus pencurian air di wilayah layanan PDAM Kutai Timur.(Q)
![]()

