SAMARINDA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semak belukar kembali menerjang kawasan Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, pada Selasa (27/10/2026) sore. Kobaran api yang membakar area lahan gambut cukup luas tersebut memaksa puluhan personel gabungan dan relawan bekerja ekstra keras hingga malam hari.

Muriono dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mengungkapkan bahwa proses pemadaman di lapangan dipenuhi tantangan yang menguji fisik dan kesigapan petugas.

“Alhamdulillah berkat kerja sama rekan-rekan relawan pemadam maupun ambulans proses pemadaman berjalan lancar, walaupun banyak kendala seperti kondisi jalan akses ke titik api sempit, angin kencang, banyak ranting-ranting dan tanaman liar kering sehingga mudah terbakar, apalagi kondisi lahan gambut serasar, dan sulit sumber air,” papar Muriono, Selasa malam (27/10/2026).

Kolaborasi Skala Besar dan Pengerahan Armada
Untuk menaklukkan si jago merah, berbagai unsur mengerahkan armadanya. Muriono merinci peralatan yang diturunkan meliputi 4 unit mobil Pemadam Kebakaran (Damkar), 1 unit BPBD Kaltim, 1 unit BPBD Kota Samarinda, 1 unit Manggala Agni (MPA), 1 unit PT Barokah, serta dukungan dari Kesra Linmas Kota.

Aksi pemadaman ini juga diperkuat puluhan unsur relawan kemanusiaan, di antaranya LSM Pawang, RTS, DESTANA Makroman, Relawan Sungai Lais, Relawan Sungai Kapih, Bakti 41, Rebon, Katana Pulai Atas, Pokdar, dan SITKT.

Sementara untuk mengantisipasi kondisi darurat medis, sejumlah armada ambulans bersiaga penuh di lokasi, seperti Indonesia Escorting Ambulance (IEA), Ambulans Ika Pakarti, RTS, Ambulans PWI Kaltim Peduli, Info Taruna Samarinda (ITS), dan Ambulans Satria Sambutan.

Taktik Estafet Air 200 Meter dan Momen Relawan Nyaris Terjebak
Keterbatasan akses jalan di Gang H. Herman, Jalan Poros Anggana-Samarinda, memaksa tim relawan memutar otak agar pasokan air tidak terputus.

Reza, relawan dari LSM Pawang yang menerjunkan lebih dari 10 personel, menjelaskan bahwa mereka menggelar jalur selang pemadam (fire hose) sepanjang 200 meter dari jalan raya menuju titik mendekati lokasi api.

“Menghindari unit tangki keluar masuk, kami hampar selang pemadam dari jalan raya hingga titik mendekati lokasi api. Sekitar 200 meter disiapkan bak penampungan (tandon) air. Jadi dari bak penampung, unit portabel memompa menuju titik api,” terang Reza sembari menghampar selang di lokasi.

Reza menambahkan, perubahan cuaca ekstrem di lapangan sempat mengancam keselamatan petugas. Arah angin yang mendadak berbalik membuat kepulan asap pekat berembus langsung ke arah posisi menyemprot.

“Pada saat kami sedang asyik menyemprot dengan semprotan mengikuti arah angin, tiba-tiba angin berbalik, sempat kalang kabut kami, maka asap pekat lagi,” kenangnya.

Dua Relawan Terima Terapi Oksigen
Pekatnya paparan asap di area gambut berujung pada beberapa petugas mengalami gangguan pernapasan. Rahman, relawan dari Ambulans RTS, mengonfirmasi adanya penanganan medis darurat di tempat terhadap relawan yang terpapar asap pekat saat menyemprot air.

“Tadi ada 2 relawan yang kami tangani di Ambulans Ika Pakarti dan RTS. Keduanya pulih setelah diberi terapi oksigen sehingga tidak perlu dirujuk ke IGD Rumah Sakit,” jelas Rahman.

Petugas pemadam Karhutla merasa sesak sehingga perlu terapi oksigen.
Satu petugas pemadam kebakaran saat ditangani di Unit Ika Pakarti akibat sesak nafas terhirup asap tebal.

Hingga Selasa malam berita ini diturunkan, tim gabungan karhutla masih terus berjibaku di lokasi kejadian guna melakukan proses pendinginan dan memastikan tidak ada bara api yang tersisa di dalam lapisan tanah gambut.(mn)

Loading