KAJIAN TEMATIK SURAT AL-JINN—Ayat 19
Oleh Masykur Sarmian

“Ketika Kebenaran Datang, Penolakan Sering Kali Menguat: Dakwah Selalu Menghadapi Resistensi”
بسم الله الرحمن الرحيم
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri untuk menyembah-Nya, mereka hampir saja berdesak-desakan mengerumuninya.”
—QS. Al-Jinn Ayat 19
Penjelasan Tematik
Setelah menegaskan kemurnian tauhid dan larangan mempersekutukan Allah pada ayat sebelumnya, Al-Qur’an kini membawa kita kepada sebuah realitas yang hampir selalu menyertai perjalanan para nabi. Kebenaran memang menghadirkan cahaya, tetapi cahaya itu tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. Sering kali, justru ketika cahaya mulai menerangi kegelapan, penolakan muncul dengan kekuatan yang semakin besar.
Allah menggambarkan keadaan itu melalui firman-Nya :
لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ
“Ketika hamba Allah berdiri…”
Menarik sekali bahwa Allah tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dengan gelar kerasulan atau kenabiannya, tetapi dengan sebutan “Hamba Allah”. Seolah Allah ingin mengingatkan bahwa kemuliaan tertinggi seorang manusia bukan terletak pada kedudukannya di hadapan manusia, melainkan pada kualitas penghambaan dirinya kepada Allah. Sebelum menjadi pemimpin umat, beliau adalah seorang hamba. Sebelum menjadi pembawa risalah, beliau adalah seorang yang sepenuhnya tunduk kepada Rabb-nya.
Di sinilah Islam meletakkan fondasi kepemimpinan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin dalam pula penghambaannya kepada Allah. Sebab kepemimpinan yang tidak dibangun di atas penghambaan akan mudah berubah menjadi kesombongan.
Kebenaran Selalu Mengusik Zona Nyaman
Allah kemudian berfirman:
يَدْعُوهُ ( yad’ūhu )
“Ia menyeru kepada-Nya.”
Dakwah Rasulullah bukanlah ajakan kepada dirinya, bukan pula kepada kelompok tertentu, melainkan ajakan menuju Allah. Namun justru ajakan yang paling murni inilah yang memunculkan penolakan paling keras.
Mengapa demikian?
Karena kebenaran selalu menuntut perubahan. Ia menggugat kebiasaan yang salah, membongkar kepentingan yang tidak adil, dan menantang kesombongan manusia. Selama manusia masih merasa nyaman dengan keadaan yang keliru, kehadiran kebenaran akan dianggap sebagai ancaman.
Itulah sebabnya sejarah memperlihatkan pola yang sama. Hampir semua pembaru pernah ditolak sebelum diterima. Bukan karena gagasannya lemah, tetapi karena perubahan selalu menuntut keberanian untuk meninggalkan kenyamanan lama.
Resistensi Adalah Bagian dari Perjalanan Dakwah
Allah melanjutkan:
كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
“Mereka hampir saja berdesak-desakan mengerumuninya.”
Para mufasir menjelaskan bahwa ungkapan ini menggambarkan orang-orang yang berkumpul mengelilingi Rasulullah dengan berbagai motif. Ada yang datang untuk mengejek, ada yang ingin menghalangi dakwah, ada pula yang sekadar ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Apa pun motifnya, ayat ini menunjukkan bahwa setiap dakwah yang membawa perubahan pasti akan menghadapi resistensi. Penolakan bukan selalu tanda bahwa jalan yang ditempuh salah. Sangat mungkin justru menjadi pertanda bahwa dakwah itu sedang menyentuh akar persoalan yang selama ini tidak ingin disentuh oleh banyak orang.
Dalam psikologi sosial dikenal konsep:
status quo bias, yaitu kecenderungan manusia mempertahankan keadaan yang sudah ada, meskipun keadaan itu sebenarnya tidak sehat. Perubahan sering kali ditolak bukan karena buruk, tetapi karena manusia merasa takut kehilangan kenyamanan yang telah lama dikenalnya. Al-Qur’an telah menggambarkan fenomena ini jauh sebelum psikologi modern mengenalnya.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa jangan pernah mengukur kebenaran dari banyak atau sedikitnya orang yang menerima. Ukuran kebenaran tetaplah wahyu Allah, bukan tepuk tangan manusia. Orang yang berjalan di atas jalan yang benar harus memiliki kesabaran untuk menghadapi kesalahpahaman, penolakan, bahkan permusuhan. Semua itu merupakan bagian dari harga yang sering kali harus dibayar oleh setiap pembawa perubahan.
Yang lebih penting adalah memastikan bahwa dakwah yang kita lakukan benar-benar mengajak manusia kepada Allah, bukan kepada diri sendiri. Sebab ketika ego mulai mengambil alih dakwah, saat itulah cahaya tauhid mulai meredup. Dakwah yang ikhlas selalu memusatkan perhatian kepada kebesaran Allah, bukan kepada kebesaran orang yang menyampaikannya.
Saudara…
Jangan terkejut apabila suatu hari kebaikan yang kita perjuangkan tidak langsung diterima. Jangan berkecil hati apabila niat yang tulus justru disalahpahami. Rasulullah SAW, manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi, pun pernah menghadapi penolakan ketika beliau hanya berdiri mengajak manusia kembali kepada Allah.
Yang terpenting bukanlah seberapa cepat manusia menerima dakwah kita, tetapi apakah kita tetap menjaga keikhlasan ketika penerimaan itu belum datang. Sebab tugas seorang mukmin bukan memastikan semua orang berubah, melainkan memastikan dirinya tetap setia menyampaikan kebenaran dengan hikmah, kesabaran, dan kasih sayang.
Pada akhirnya, sejarah selalu menunjukkan bahwa penolakan manusia hanya berlangsung sementara, sedangkan kebenaran akan terus hidup melampaui zaman. Cahaya mungkin sesaat tertutup oleh gelapnya malam, tetapi fajar tidak pernah gagal datang pada waktunya. Begitu pula dakwah yang dibangun di atas tauhid. Ia mungkin menghadapi badai, tetapi selama tetap berpijak pada Allah, ia akan selalu menemukan jalannya menuju hati-hati yang siap menerima cahaya.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 8 Agustus 2026
![]()

