Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I.,

Dosen STAIS Kutai Timur & Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan Wahau, Kongbeng, dan Telen

KETIKA membaca tidak berhenti pada huruf, tetapi menjelma menjadi kesadaran, kepedulian, dan keberanian mengubah keadaan. Ada yang lebih penting dari sekadar kemampuan membaca, yakni kemampuan memahami apa yang dibaca, menangkap makna di baliknya, dan menjadikannya pijakan untuk memperbaiki kehidupan. Sebab, seseorang bisa saja fasih membaca teks, tetapi gagal membaca kenyataan. Ia bisa menghafal banyak ayat, tetapi abai terhadap kerusakan alam. Ia bisa berbicara tentang moralitas, tetapi menutup mata terhadap ketidakadilan. Di sinilah makna iqra’ menemukan relevansinya: membaca bukan semata-mata aktivitas intelektual, melainkan jalan menuju kesadaran dan peradaban.

Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan kajian keislaman bertema “IQRO’: Membaca Teks, Membaca Realitas, dan Membangun Peradaban Berilmu” yang menjadi agenda rutin SMA Islam Al Ihsan di bawah naungan Yayasan Al Ihsan Kongbeng. Kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan ini dipimpin oleh guru muda, M. Ma’ruf Burhanudin, M.H., dan diikuti sekitar 300 siswa beserta seluruh civitas akademika MTs Mangku Alam dan SMA Islam Al Ihsan. Kajian yang terkonsentrasi di Masjid Jami Miftahul Huda, Desa Marga Mulya, Kecamatan Kongbeng, ini menghadirkan Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I., dosen STAIS Kutai Timur sekaligus Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan Wahau, Kongbeng, dan Telen, sebagai pemantik sekaligus pemateri. Lebih dari sekadar forum penyampaian materi agama, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar menanamkan kesadaran bahwa pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga cerdas secara intelektual, peka secara sosial, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan.

Wahyu Pertama dan Fondasi Peradaban

Al-Qur’an membuka pintu peradaban ilmu melalui lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5).

Pesan pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah membangun kekuasaan, mengumpulkan kekayaan, atau menaklukkan wilayah, melainkan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa ilmu menempati posisi fundamental dalam pembentukan manusia dan pembangunan peradaban. Namun, iqra’ tidak dapat dipersempit hanya sebagai kemampuan mengeja huruf atau melafalkan teks. Perintah membaca yang diawali dengan bismi rabbik mengandung orientasi ketuhanan: ilmu harus dibangun dengan kesadaran tentang asal-usul kehidupan, tanggung jawab moral, dan tujuan penciptaan manusia. Pengetahuan tidak boleh tercerabut dari etika, dan kecerdasan tidak semestinya dipisahkan dari kebijaksanaan. Dalam perspektif epistemologi Islam, iqra’ menjadi pintu untuk memahami bagaimana manusia memperoleh, menguji, mengembangkan, dan menggunakan pengetahuan. Membaca Al-Qur’an dan hadis merupakan bagian penting dari proses itu, tetapi membaca alam, sejarah, manusia, dan realitas sosial juga menjadi kebutuhan agar ajaran agama dapat dipahami dan diimplementasikan secara tepat dalam kehidupan. Dengan demikian, perintah membaca sesungguhnya mengajak manusia membangun kesadaran melalui pengetahuan tentang kebesaran Allah, sekaligus memahami tanggung jawabnya terhadap sesama dan alam semesta.

Membaca Teks: Dari Pengetahuan Menuju Penciptaan

Membaca teks merupakan fondasi awal proses pembelajaran. Al-Qur’an, hadis, buku, dan berbagai literatur ilmu pengetahuan harus dibaca secara saksama, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban akademik atau mengejar nilai ujian. Membaca merupakan pintu masuk menuju pemahaman, sedangkan pemahaman menjadi dasar bagi tindakan yang bertanggung jawab. Akan tetapi, proses pendidikan tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca dan menghafal. Pengetahuan perlu dipahami secara utuh, dihubungkan dengan konteks, lalu diaplikasikan dalam kehidupan. Apa gunanya memahami ajaran tentang kejujuran jika seseorang tetap terbiasa berbohong? Apa artinya mempelajari kebersihan jika lingkungan sekolah masih dipenuhi sampah? Dan apa maknanya mempelajari keadilan apabila seseorang justru gemar merendahkan orang lain?

Pengetahuan yang tidak berbuah tindakan berisiko menjadi tumpukan informasi tanpa daya transformasi. Karena itu, proses belajar idealnya bergerak melalui enam tahapan yang saling berkaitan. Pertama, membaca, yakni mengakses teks dan informasi secara teliti. Kedua, memahami, yaitu menangkap makna secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Ketiga, mengaplikasikan, yakni mempraktikkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Keempat, menganalisis, yaitu mengurai persoalan secara sistematis, logis, dan kritis. Kelima, menilai, yakni memberikan pertimbangan berdasarkan bukti, nilai, dan ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. Keenam, mencipta, yaitu melahirkan gagasan, metode, karya, atau temuan baru yang memberikan manfaat. Tahapan tersebut memperlihatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal, melainkan manusia yang sanggup merumuskan persoalan, menemukan solusi, dan menciptakan perubahan.

Dalam bahasa pendidikan kontemporer, proses ini bergerak dari penguasaan pengetahuan menuju keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kreativitas. Dalam tradisi Islam, semangat tersebut sejalan dengan penghargaan terhadap ilmu yang bermanfaat dan amal yang membawa kemaslahatan. Sekolah, dengan demikian, tidak boleh hanya menjadi tempat memindahkan isi buku ke dalam ingatan siswa. Sekolah harus menjadi ruang tumbuhnya rasa ingin tahu, keberanian bertanya, ketekunan meneliti, serta kesanggupan mempertanggungjawabkan gagasan. Siswa tidak cukup diajari apa yang harus dipikirkan; mereka perlu dilatih bagaimana berpikir. Di sinilah kajian keislaman menemukan peran strategisnya. Agama tidak hanya diajarkan sebagai kumpulan doktrin, melainkan juga sebagai sumber nilai yang mendorong manusia untuk mencari kebenaran, menegakkan keadilan, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Membaca Alam: Iman yang Menjaga Kehidupan

Perintah iqra’ juga mengandung ajakan untuk membaca alam. Alam bukan sekadar ruang tempat manusia hidup, melainkan tanda-tanda kebesaran Allah yang harus direnungkan dan dijaga. Hutan, sungai, tanah, udara, dan seluruh ekosistem menyimpan pelajaran tentang keteraturan, keseimbangan, serta keterhubungan kehidupan. Manusia yang belajar membaca alam semestinya memahami bahwa dirinya bukan pemilik mutlak bumi yang bebas mengeksploitasinya tanpa batas. Manusia adalah bagian dari kehidupan sekaligus pemegang amanah untuk merawatnya. Karena itu, merusak lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau administratif, tetapi juga persoalan etika dan tanggung jawab keagamaan.

Kesadaran tersebut sangat relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah berbagai persoalan lingkungan, mulai dari sampah rumah tangga, pencemaran sungai, kerusakan hutan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan keberlanjutan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, misalnya, mungkin tampak sederhana. Namun, jika dilakukan secara kolektif dan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan persoalan ekologis yang serius. Oleh sebab itu, membaca alam harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret. Siswa perlu dibiasakan menjaga kebersihan masjid dan sekolah, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon, serta memahami hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan. Pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui ceramah; ia harus hadir sebagai kebiasaan dan budaya.

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu tujuan-tujuan luhur syariat, perlindungan lingkungan memiliki kedudukan penting dalam pengembangan pemikiran hukum Islam kontemporer. Jasser Auda, melalui pendekatan sistem terhadap maqāṣid al-syarī‘ah, mendorong pemahaman syariat yang memperhatikan keterhubungan, kemaslahatan, dan dampak yang lebih luas. Sementara itu, gagasan perlindungan lingkungan atau ḥifẓ al-bī’ah berkembang dalam diskursus kontemporer sebagai orientasi etis yang berkaitan dengan tujuan-tujuan syariat. Penting dicatat bahwa ḥifẓ al-bī’ah bukan salah satu dari lima tujuan klasik yang lazim dirumuskan secara langsung dalam daftar utama maqāṣid, melainkan pengembangan kontemporer yang memperluas perhatian terhadap kemaslahatan kehidupan. Dari sudut pandang tersebut, menjaga alam tidak bertentangan dengan keberagamaan. Sebaliknya, merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Kesalehan tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, tetapi juga perlu tercermin dalam cara ia memperlakukan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan bersama.

 

Membaca Realitas Sosial: Ketika Ilmu Harus Berani Menghadapi Kenyataan

Membaca teks dan alam perlu dilengkapi dengan kemampuan membaca realitas sosial. Realitas adalah keadaan nyata yang berlangsung di sekitar manusia, termasuk berbagai persoalan yang sering kali tidak nyaman untuk dibicarakan. Di sinilah ilmu diuji: apakah ia hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan di ruang kelas, atau sanggup membantu manusia memahami dan menyelesaikan masalah? Indonesia memiliki banyak modal untuk membangun kemajuan: sumber daya alam yang melimpah, penduduk usia produktif, tradisi keagamaan yang kuat, serta cita-cita konstitusional tentang keadilan sosial. Namun, modal tersebut harus dihadapkan pada sejumlah persoalan mendasar, termasuk korupsi, kemiskinan, ketimpangan, kualitas pendidikan, dan kesenjangan antara nilai moral yang diajarkan dengan perilaku yang dipraktikkan.

Pertama, realitas korupsi. Data Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang dirilis Transparency International menunjukkan bahwa persoalan integritas publik masih menjadi pekerjaan besar Indonesia. Dalam data tahun 2024, Indonesia memperoleh skor 37 dari 100, Singapura 84, Malaysia 50, dan Vietnam 40. Angka tersebut perlu dibaca sesuai tahun dan metodologi pengukurannya; IPK mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik, bukan menghitung secara langsung seluruh tindakan korupsi yang terjadi. Perbandingan tersebut tetap memberikan pelajaran penting bagi generasi muda: pembangunan tidak cukup diukur dari gedung yang menjulang, jalan yang terbentang, atau pertumbuhan ekonomi yang tercatat. Kualitas institusi, transparansi, akuntabilitas, dan integritas penyelenggara negara turut menentukan kemajuan sebuah bangsa. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia merampas hak masyarakat, merusak kepercayaan publik, memperlebar ketimpangan, dan menggerogoti kesempatan generasi muda untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Karena itu, pendidikan antikorupsi harus dimulai dari hal-hal sederhana: tidak menyontek, tidak memanipulasi tugas, berani mengakui kesalahan, serta membiasakan diri bersikap jujur meskipun tidak diawasi.

Kedua, realitas kemiskinan. Di balik statistik nasional, terdapat keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan pangan, anak-anak yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, serta masyarakat yang rentan terhadap perubahan harga dan kehilangan pekerjaan. Data kemiskinan harus dipahami berdasarkan periode pengukuran dan definisi resmi yang digunakan, agar tidak sekadar menjadi angka yang kehilangan wajah kemanusiaannya. Kemiskinan bukan hanya persoalan pendapatan. Ia dapat berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan layak, air bersih, dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup. Karena itu, membaca kemiskinan menuntut kepekaan sekaligus kemampuan analitis: apa penyebabnya, siapa yang paling terdampak, dan kebijakan seperti apa yang mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi?

Bagi siswa, kepedulian sosial dapat dimulai dengan menghormati teman tanpa memandang keadaan ekonomi keluarganya, mengembangkan budaya berbagi, serta menghindari perundungan terhadap mereka yang memiliki keterbatasan. Masyarakat yang berilmu tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan ejekan, tetapi menjadikannya panggilan untuk membangun solidaritas.

Ketiga, realitas pendidikan. Pendidikan merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Amanat konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD menunjukkan bahwa pendidikan memiliki posisi fundamental dalam pembangunan nasional. Namun, besarnya anggaran tidak otomatis menjamin mutu pendidikan, yang harus diuji adalah ketepatan alokasi, transparansi pelaksanaan, pemerataan akses, kualitas pembelajaran, kesejahteraan pendidik, dan dampaknya terhadap kemampuan peserta didik. Perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penganggarannya juga perlu dibaca secara kritis, berdasarkan dokumen APBN, ketentuan perundang-undangan, serta penjelasan resmi pemerintah. Persoalannya tidak cukup disederhanakan menjadi anggapan bahwa seluruh anggaran pendidikan semata-mata dialihkan untuk MBG. Yang diperlukan adalah pengujian apakah perencanaan dan pelaksanaan anggaran benar-benar melindungi mutu pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan gizi anak.

Gizi yang baik dapat mendukung kesiapan belajar, tetapi pendidikan tidak dapat direduksi menjadi urusan makan semata. Anak-anak juga membutuhkan guru yang berkualitas, ruang belajar yang layak, buku yang memadai, lingkungan yang aman, dan kesempatan mengembangkan potensi. Maka, membaca realitas pendidikan berarti berani mengajukan pertanyaan: apakah setiap kebijakan benar-benar memperluas kesempatan belajar? Apakah siswa di wilayah terpencil memperoleh layanan yang setara? Apakah anggaran menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran? Pertanyaan semacam inilah yang membedakan warga yang sekadar menerima informasi dengan warga yang mampu berpikir kritis.

Keempat, realitas sosial-keagamaan. Indonesia memiliki kehidupan beragama yang dinamis. Rumah ibadah berdiri, pengajian berlangsung, pendidikan agama diajarkan, dan berbagai kegiatan keagamaan terus tumbuh. Semua itu merupakan modal sosial yang berharga. Namun, kehadiran agama dalam ruang publik harus terus diikuti upaya memperbaiki perilaku dan kualitas kehidupan bersama. Kita perlu bertanya dengan jujur: mengapa pesan kejujuran masih sering berhadapan dengan praktik manipulasi? Mengapa ajaran tentang kasih sayang belum sepenuhnya menghilangkan kebencian? Mengapa seruan keadilan belum selalu tercermin dalam perlakuan terhadap mereka yang lemah? Pertanyaan tersebut bukan untuk merendahkan agama, melainkan untuk menguji kesungguhan manusia dalam mengamalkan nilai-nilainya. Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa meningkatnya kejahatan membuktikan agama gagal. Kejahatan memiliki banyak faktor penyebab, sementara keberagamaan juga memiliki dimensi yang luas. Namun, kita patut mengkritik kesalehan yang berhenti pada simbol dan seremoni, tanpa berbuah kejujuran, kepedulian, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Agama seharusnya menjadi kekuatan moral yang mendorong seseorang menjauhi kezaliman, menjaga amanah, menghormati perbedaan, dan memperjuangkan kemaslahatan. Ukuran keberagamaan bukan hanya apa yang diucapkan di mimbar, melainkan juga apa yang dilakukan ketika seseorang berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, dan kesempatan untuk berbuat curang.

 

Dari Masjid Menuju Peradaban Berilmu

Kegiatan kajian keislaman di Masjid Jami Miftahul Huda menjadi penting bukan semata-mata karena dihadiri sekitar 300 siswa, antusias siswa dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan, melainkan karena membawa pesan bahwa masjid dapat menjadi pusat pembelajaran, pembentukan karakter, dan pengembangan kesadaran sosial. Ketika civitas akademika MTs Mangku Alam dan SMA Islam Al Ihsan berkumpul untuk membicarakan iqra’, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi bagi sebuah tradisi intelektual. Tradisi ini perlu dirawat agar kegiatan kajian tidak berhenti sebagai agenda rutin, tetapi berkembang menjadi gerakan literasi yang nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat. Kepemimpinan guru muda M. Ma’ruf Burhanudin, M.H., bersama dukungan Yayasan Al Ihsan Kongbeng, menunjukkan pentingnya kesinambungan pendidikan keislaman yang memberikan ruang bagi dialog dan pengembangan wawasan. Kehadiran Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I., sebagai pemantik dan pemateri juga menegaskan perlunya mempertemukan khazanah keislaman dengan persoalan ilmu pengetahuan dan realitas kehidupan kontemporer. Ikhtiar ini akan semakin bermakna apabila ditindaklanjuti melalui program yang terukur. Siswa dapat membangun kelompok membaca Al-Qur’an dan literatur ilmiah, menulis esai, melakukan penelitian sederhana, mengadakan diskusi tentang persoalan sosial, serta menjalankan proyek kepedulian lingkungan. Mereka juga dapat belajar memeriksa kebenaran informasi, membedakan fakta dan opini, serta menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.

Dengan cara itu, iqra’ tidak hanya terdengar dalam ruang kajian, tetapi hadir dalam kebiasaan sehari-hari. Siswa belajar membaca teks dengan cermat, membaca alam dengan kepedulian, membaca masyarakat dengan empati, membaca sejarah dengan kebijaksanaan, dan membaca manusia dengan penghormatan terhadap martabatnya. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut semakin mendesak. Generasi muda tidak cukup hanya cepat menerima dan menyebarkan informasi. Mereka harus mampu memeriksa sumber, menguji argumen, mengenali manipulasi, dan mempertimbangkan dampak informasi terhadap kehidupan bersama. Tanpa kemampuan itu, kemajuan teknologi justru berpotensi mempercepat penyebaran kebohongan, kebencian, dan prasangka.

Peradaban berilmu bukanlah peradaban yang sekadar memiliki banyak orang berpendidikan tinggi. Ia adalah peradaban yang menjadikan ilmu sebagai dasar pengambilan keputusan, kejujuran sebagai fondasi kehidupan, keadilan sebagai orientasi kebijakan, dan kemaslahatan sebagai tujuan pembangunan. Ilmu yang tidak disertai integritas dapat berubah menjadi alat manipulasi. Kecerdasan tanpa empati dapat melahirkan kesombongan. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat memperbesar kerusakan. Karena itu, pendidikan Islam harus mempertemukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, kematangan moral, dan tanggung jawab sosial.

 

Penutup: Membaca untuk Mengubah Kehidupan

Pada akhirnya, iqra’ adalah panggilan untuk keluar dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari ketidakpedulian menuju kepedulian, dan dari kebiasaan menerima keadaan menuju keberanian memperbaikinya. Membaca teks mengajarkan kita memahami pesan dan pengetahuan. Membaca alam mengajarkan kita menjaga keseimbangan kehidupan. Membaca realitas sosial melatih kepekaan terhadap ketidakadilan. Membaca sejarah membantu kita belajar dari perjalanan manusia. Sementara itu, membaca manusia mengajarkan kita menghormati perbedaan dan memahami kompleksitas kehidupan. Semua itu bermuara pada satu tujuan: membangun manusia berilmu yang mampu menghadirkan manfaat bagi sesama.

Bagi SMA Islam Al Ihsan, MTs Mangku Alam, dan Yayasan Al Ihsan Kongbeng, agenda kajian ini memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar kegiatan keagamaan rutin. Ia dapat tumbuh sebagai gerakan pendidikan yang menanamkan kecintaan terhadap ilmu sekaligus keberanian menghadapi persoalan nyata. Dari masjid, tradisi membaca dapat bergerak ke ruang kelas, perpustakaan, rumah, lingkungan, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak siswa yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga berapa banyak yang tumbuh menjadi manusia jujur, berpikir kritis, peduli terhadap lingkungan, menghormati sesama, dan sanggup menciptakan perubahan. Wahyu pertama telah mengingatkan manusia tentang pentingnya membaca. Tantangan kita sekarang adalah memastikan bahwa perintah tersebut benar-benar hidup dalam tindakan. Bacalah teks agar pikiran tercerahkan. Bacalah alam agar kehidupan terjaga. Bacalah realitas agar ketidakadilan terlihat. Bacalah sejarah agar kesalahan tidak terus berulang. Bacalah manusia agar kemanusiaan tetap terpelihara. Dan bangunlah peradaban dengan ilmu yang berpijak pada iman, akal yang dipandu etika, serta pengetahuan yang diabdikan bagi kemaslahatan. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sekadar pandai membaca, melainkan oleh mereka yang mampu menjadikan hasil bacaannya sebagai jalan untuk memperbaiki dunia.

Loading