KUTAI TIMUR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur sedang melakukan penyelidikan atas kejadian banjir di kawasan Rawa Indah, Desa Sepaso Selatan, Kecamatan Bengalon. Banjir tersebut diduga kuat bersumber dari limpasan air PT Kaltim Prima Coal (PT KPC).
“Tim kami masih identifikasi sebaran. Potensi banjir di lokasi RT 10 Rawa Indah, Kecamatan Bengalon diduga kuat bersumber dari air limpasan PT KPC,” ungkap Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur, Dewi, saat diwawancarai pada Jumat (9/5).
Dewi menjelaskan bahwa pihaknya mendapatkan laporan awal dari Camat Bengalon, bukan dari PT KPC. “Ada limpasan dengan debit yang besar. Untuk tanggul jebol masih diidentifikasi,” tambahnya.
Tim DLH Kutai Timur saat ini masih terus melakukan proses identifikasi lebih lanjut. Ketika ditanya mengenai tingkat kekeruhan air yang dapat dikategorikan sebagai pencemaran, Dewi menegaskan bahwa hal tersebut belum bisa dipastikan.
“Sebelum ada hasil analisa laboratorium, belum bisa bicara pencemaran,” tegas Dewi.
Meskipun demikian, DLH Kutai Timur terus melakukan pemantauan dan identifikasi di lapangan untuk mengetahui sebaran dampak dari kejadian tersebut.
Sementara itu, PT Kaltim Prima Coal (KPC) berkomitmen untuk bertanggung jawab atas dampak luapan air yang terjadi di kawasan Bengalon. Hal ini disampaikan oleh General Manager External Sustainable Development (ESD) KPC, Wawan Setiawan, ketika dikonfirmasi mengenai penanganan dampak banjir yang terjadi melalui sambungan telepon.
“Sejak ada pelimpasan air itu, langkah strategis KPC yang sudah dilakukan adalah memastikan kita bertanggung jawab secara kemanusiaan. Jadi kita bekerja sampai malam untuk mengidentifikasi, komunikasi terhadap masyarakat yang terkena dampak. Karena bagaimanapun mereka masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian secara kemanusiaan dan sosial,” ujar Wawan.
Wawan menjelaskan bahwa penyebab luapan air yang cukup tinggi disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, mencapai 160 milimeter per detik. Selain itu, terdapat permasalahan teknis yang perlu diperbaiki.
“Yang tinggi itu siang pertama itu karena curah hujan itu nyampai di 160 milimeter dan tinggi. Terus kemudian ada juga hal teknis yang memang kita perlu perbaiki. Ternyata curah hujan tinggi, terus kemudian secara teknis terjadi hal-hal yang kemudian air keluar dari saluran yang memang kita proyeksikan untuk mengalir air. Saat ini, tim dari KPC tengah melakukan perbaikan terhadap permasalahan teknis tersebut,” jelasnya.
KPC, lanjut Wawan, telah mengambil beberapa langkah untuk membantu warga yang terkena dampak luapan air. Bantuan tidak hanya difokuskan pada warga di kawasan Rawa Indah saja, tetapi juga hingga ke Muara Bengalon.
Saat ini, KPC terus memenuhi kebutuhan air bersih dan makanan bagi warga yang terdampak, sambil melakukan perbaikan terhadap masalah-masalah teknis di lokasi kejadian.
“Identifikasi kita tidak hanya sekitar jalan Rawa Indah, tapi juga kita identifikasi sampai ke Muara Bengalon. Tindakan kita misalnya kita membuatkan posko, posko penanganan secara sosial. Kita drop makanan, kita drop minuman dan lain-lain. Dan kita koordinasi dengan pihak kecamatan dalam hal ini camat,” kata Wawan.
Wawan juga menyebutkan bahwa pihak KPC terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait penanganan dampak lingkungan akibat banjir. DLH telah turun ke lokasi untuk melakukan pemantauan.
Terkait estimasi waktu hingga kondisi air kembali jernih, Wawan mengatakan perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan tim teknis dan lingkungan.
“Untuk itu bisa kembali itu harus saya koordinasikan dulu dengan tim teknis dan enviro. Tapi tim enviro itu masih terus bekerja dengan DLH,” ujarnya.
Wawan menegaskan bahwa KPC akan bertindak secara transparan dalam menangani permasalahan ini. Dengan komitmen yang ditunjukkan oleh pihak perusahaan, diharapkan dampak banjir terhadap warga dapat segera teratasi dan kondisi lingkungan dapat kembali normal.
“KPC harus transparan juga, enggak boleh ditutup-tutupin, apalagi dengan masyarakat,” pungkasnya.(Q)
![]()

