Catatan: Syafruddin Pernyata
ADA orang yang lahir hampir bersamaan, belajar di tempat yang sama, bahkan memulai perjalanan hidup dari lingkungan yang hampir serupa. Namun waktu sering membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Saya dan Rizal Effendi adalah contoh kecil dari cerita semacam itu.
Usia kami hanya terpaut sehari. Ia lahir 27 Agustus 1958, saya 28 Agustus di tahun yang sama. Kami sama-sama kuliah di Universitas Mulawarman, hidup di lingkungan pergaulan yang tidak jauh berbeda, bahkan pernah berada dalam dunia yang sama: dunia pers.
Tetapi hidup, seperti sungai yang bercabang, akhirnya membawa kami ke arah yang tidak sama.

Saya kembali mengingat semua itu ketika menghadiri undangan berbuka puasa bersama yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur. Di ruangan itu saya melihat beberapa wartawan angkatan 1980-an. Di antara mereka ada Rizal Effendi, S.E., yang biasa disapa RZ, sesuai dengan inisial “Rz” yang selalu muncul di akhir setiap berita yang ia tulis.

Kami sudah bersahabat sejak awal 1980-an. Jika dihitung-hitung, hampir setengah abad lamanya.
Ketika harian ManuntunG—yang kemudian menjadi Kaltim Post—pada awal 1990-an kekurangan wartawan karena sebagian bergabung dengan harian yang baru terbit, RZ meminta saya membantu di redaksi. Saya hanya sempat delapan bulan di sana karena harus melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Padjadjaran.
Namun delapan bulan itu cukup untuk menyisakan banyak kenangan
BEDA SEHARI
Usia kami hampir sama. RZ lahir pada 27 Agustus 1958, saya 28 Agustus di tahun yang sama. Hanya berbeda sehari.
Beberapa bulan lagi usia kami sama-sama akan memasuki angka 68. Angka yang membuat orang sering menoleh ke belakang, melihat kembali jalan yang telah dilalui.
Saya masih ingat ulang tahun RZ yang pernah dirayakan di Hotel Bena Kutai ketika saya membantu di Kaltim Post. Saya datang, sekaligus berpamitan karena harus berangkat melanjutkan studi.
Kami berasal dari latar keluarga yang berbeda. RZ adalah anak seorang guru. Saya anak seorang pemangkas rambut. Tetapi kami bertemu di almamater yang sama: Universitas Mulawarman. Ia di Fakultas Ekonomi, sementara saya di FKIP.
RZ sempat membantu Prof. Suwinah Alwi sebagai asisten dosen. Sementara saya memilih mengabdi di almamater sebagai pengajar. Pada masa itu, dengan modal sarjana saja seseorang sudah bisa mengajar mahasiswa strata satu. Akan tetapi, jalan hidup sering mengambil arah yang berbeda. RZ memilih menjadi wartawan.
Kemarin, ketika bertemu di acara buka puasa, saya melihat ia tidak banyak berubah. Masih seperti dulu: mudah tertawa, gemar berolok-olok, dan senang membuka kembali cerita lama.

Di tengah kerumunan kawan-kawan saya berkata,
“Dia ini main apa saja selalu culas. Mau tenis meja, tenis lapangan, domino, sampai bridge.”
RZ tidak kalah cepat membalas.
“Culas itu sah, sepanjang tidak ketahuan.”
Kami pun tertawa.
Kalau saya ke Balikpapan, biasanya saya harus menunggu ia menyesuaikan jadwalnya sebagai Pemimpin Redaksi Kaltim Post. Setelah itu barulah kami bisa duduk santai. Biasanya sambil bermain domino di teras kantornya bersama Zainal Muttaqin, Pemimpin Umum, dan beberapa kawan redaksi.
Obrolan mengalir dari berita hingga politik, dari masa lalu hingga cerita yang tidak penting sama sekali.
Begitulah persahabatan bekerja: kadang hanya dengan duduk bersama.
DARI WARTAWAN KE WALI KOTA
Perjalanan hidup RZ termasuk menarik di Kalimantan Timur. Tidak banyak wartawan yang kemudian menapaki jalan menjadi kepala daerah—dan melaluinya dengan cukup berhasil.
Pria kelahiran Balikpapan, 27 Agustus 1958 itu pernah menjadi anggota MPR utusan daerah (1994–1999). Ia kemudian menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan mendampingi Imdaad Hamid (2006–2011), dan selanjutnya Wali Kota Balikpapan selama dua periode (2011–2021).
Di bawah kepemimpinannya, Balikpapan tetap dikenal sebagai kota yang bersih, tertib, dan rapi—kota yang berkali-kali meraih penghargaan Adipura.
Namun kebiasaan menulis tidak pernah ia tinggalkan.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai wali kota, ia menulis buku berjudul Bukan Pak Wali Lagi. Ketika buku itu diluncurkan di sebuah warung kopi di kawasan Citra Niaga, suasananya seperti pertemuan besar sahabat lama. Gubernur, wakil gubernur, wali kota, politisi, wartawan, hingga kawan-kawan dekatnya hadir.
Bagi seorang wartawan, menulis mungkin bukan sekadar pekerjaan. Ia sudah menjadi cara untuk tetap berbicara dengan dunia.
PINJAM CELANA DALAM
Sekitar tahun 1980, saya dan RZ pernah mengikuti perjalanan jurnalistik yang dipimpin almarhum Hefni Effendi, Ketua PWI Kaltim saat itu. Tujuan kami ke Talisayan, sebuah kecamatan di Kabupaten Berau.
Pada masa itu belum ada akses darat dari Tanjung Redeb seperti sekarang. Kami harus menggunakan kapal kecil—lebih tepatnya perahu bermesin.
Ketika keluar dari muara, badai datang. Gelombang menghantam perahu dari berbagai arah. Hujan turun deras. Di sekeliling hanya kabut dan air yang bergulung.
Perasaan takut saya sembunyikan.
Ketika badai mereda, ternyata moncong perahu sudah berada di depan Kecamatan Talisayan.
Tempat itu sangat sepi. Tidak ada kendaraan bermotor. Ketika melakukan peninjauan, kami bahkan harus naik gerobak yang ditarik sapi.
Ada satu kejadian kecil yang sampai sekarang masih sering kami ingat.
Semua pakaian saya basah ketika dihantam badai. Celana dalam yang saya pakai ternyata pinjaman dari RZ.
Di tengah peninjauan ia berbisik bahwa celana dalam itu sebelumnya sudah ia kenakan.
“Pantas saja bau,” jawab saya.
Kami tertawa.
Kadang persahabatan memang menyimpan kenangan yang sederhana—bahkan konyol—tetapi justru itulah yang membuatnya tetap hidup di ingatan.
Saya berterima kasih Abdurrahman Amin, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur beserta jajaran, juga kepada Ketua Dewan Kehormatan, Intoniswan Into, yang telah menyelenggarakan buka puasa bersama.
Pertemuan itu mempertemukan kembali banyak wajah lama—kawan-kawan yang dahulu berjalan bersama dalam dunia yang sama: dunia berita dan dunia kata-kata.
Kepada mereka yang belum sempat saya kenal atau sapa, saya mohon maaf.
Semoga para wartawan tetap menjaga semangat pengabdian. Pers bukan sekadar pekerjaan mencari kabar, tetapi juga panggilan untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Usia boleh hampir sama, titik berangkat bisa serupa, tetapi waktu selalu punya kebebasan untuk menuliskan jalan hidup yang berbeda bagi setiap orang.(*)
![]()

