JEMBER – Suhu dingin ekstrem yang melanda wilayah Jember beberapa hari terakhir dikeluhkan warga. Suhu tercatat turun hingga 19 derajat Celsius pada pagi hari, memaksa warga mengenakan pakaian tebal untuk beraktivitas.
Di kawasan Kecamatan Kaliwates, sejumlah warga tampak melakukan aktivitas pagi hari dengan mengenakan jaket berlapis. Seperti yang dilakukan Imam Taufik, warga Perumahan Istana Tegal Besar tersebut bahkan menutup kepalanya saat beraktifitas diluar rumah. Ia mengaku, suhu dingin membuat kulit wajahnya kering.
“Saya pakai jaket tebal setiap pagi supaya tidak menggigil. Wajah juga terasa kering dan perih,” ujarnya.
Bahkan Imam mengatakan, jika saat malam warga perumahan tempat dia bermukim, para penghuni mengurangi keluar rumah.
“Jika hari-hari biasa, biasa ngopi di depan rumah bareng-bareng, bisa sampai pagi. Namun sekarang jam sebelas malam sudah sepi masuk rumah semua,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Heru, warga lainnya, yang rutin mengonsumsi air hangat dan vitamin agar tubuh tetap bugar. Ia juga memilih pakaian hangat saat berolahraga di luar rumah.
Fenomena ini turut dijelaskan oleh Lutfi Rohman, Dosen Magister Fisika Universitas Jember. Menurutnya, suhu dingin yang tak biasa ini disebabkan oleh kombinasi antara posisi bumi yang lebih jauh dari matahari dan intensitas hujan yang masih terjadi sejak siang hingga sore.
“Harusnya hujan sudah berkurang di bulan Juli. Tapi curah hujan masih tinggi, sehingga suhu malam dan pagi hari jadi sangat dingin,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan, kondisi ini berpotensi memicu penyakit, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap cuaca dingin. Warga diminta untuk tetap menjaga daya tahan tubuh dan membatasi aktivitas di luar rumah pada malam hari.
![]()

